Delapan Belas Tahun Kemudian

Esai ini merupakan bagian dari serangkaian yang ditugaskan oleh Pusat Australia-Indonesia—penulis dan komentator terkemuka dari Indonesia dan Australia memeriksa secara dekat masyarakat, budaya, dan situasi politik di negara masing-masing. Ketika diminta menyumbang esai untuk serial tersebut, langsung terpikir oleh Eliza untuk menyelusuri topik itu melalui tema trauma personal dan nasional, terutama tragedi Mei 1998.

Eighteen Years Later

This essay is part of a series commissioned by the Australia-Indonesia Centre, with leading writers and commentators from Indonesia and Australia each looking closely at their own society, cultures and political situations. When asked to contribute an essay to the series, Eliza thought of exploring the subject of Indonesian identity through personal and national trauma—specifically the May 1998 tragedy.

Claiming Space

To censor is to say certain voices are not okay. When you don’t see people like yourself represented, you may feel isolated. That’s why intolerant groups must not be allowed to define what it means to be Indonesian. We owe it to ourselves to take care of our diversity—to realize a country where everyone can be true to themselves.

Someplace Between Respect and Desire

My confusion and alarm soon turned to fear. I felt with every cell on my skin my disadvantaged situation: I was the woman and he was the man, I was Asian and he was white, I was just another local girl and he was the dashing coveted foreigner, I was younger, less experienced, less beautiful, and I probably liked him much more than he liked me.

Puncak

Banyak orang menjelang Ramadan dengan memperbanyak salat dan doa. Lain dengan Ferdian, Risa, dkk. Mereka mempersiapkan diri dengan melampiaskan nafsu berpesta, mabuk, dan teler habis-habisan supaya kuat puasa hura-hura selama sebulan. Keseruan pesta mereka terusik ketika Lani – pacar Patar yang merupakan ‘cewek baik-baik’ dan memiliki ayah soerang polisi – memaksa ingin bergabung.

Makassar Launch, 18 May 2016

Tema mengupayakan keberanian untuk hidup sesuai pilihanmu, untuk merasa dirimu punya harga diri meskipun berbeda dengan mayoritas, dirimu layak dicintai biarpun orang-orang bilang dirimu rusak—apakah itu hanya masalah pribadi? Tidak, itu pun politis. Karena merasa memiliki harga diri memberdayakan kita. Kita jadi punya keberanian untuk mengangkat suara, untuk menceritakan kisah kita, untuk tidak lagi menerima diskriminasi atau penindasan.

NT Writers Festival: Wordstorm 2016

May 5-8 Eka Kurniawan and I attended Wordstorm, Northern Territories Writers Festival in Darwin, Australia. We talked about political change in Indonesia, female sexuality, freedom and its costs, and censorship.