(Esai ini merupakan bagian dari serangkaian yang ditugaskan oleh Pusat Australia-Indonesia—penulis dan komentator terkemuka dari Indonesia dan Australia memeriksa secara dekat masyarakat, budaya, dan situasi politik di negara masing-masing. Baca esai ini selengkapnya di sini.)

TIAP kali seseorang bertanya bagaimana aku tiba di Australia, aku bilang saja aku diadopsi dari Tiongkok. Cerita itu tak membuat seorang pun merasa tak enak. Cerita itu tak membuatku merasa dikasihani. Cerita itu tak membuatku tampak seperti korban.

TIGA tahun setelah kejadian itu. Aku dan sahabatku duduk-duduk di kamar asrama dan ia berkata, “Suatu sore waktu SMP, aku berjalan pulang dari latihan sepak bola dan melewati terowongan telantar. Seseorang melompat keluar dan menarikku ke dalam…”

Butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari sahabatku tengah menceritakan bagaimana ia pernah diperkosa. Segera aku memeluknya. Namun, tak sanggup kuceritakan pengalamanku sendiri kepadanya. Andai kubercerita, sahabatku akan sadar bahwa kisah hidup yang selama ini kubagi dengannya, orang yang selama ini ia pikir dapat ia percayai, adalah dusta.

ENAM tahun setelah kejadian itu. “Sulit sekali memahamimu,” kata cinta pertamaku kala kami makan malam di sebuah restoran taman. “Aku sudah cerita tentang masa kecilku, keluargaku—kamu belum cerita apa-apa.”

Ia benar. Ia memberitahuku mimpinya terdalam: kalau dapat mengerjakan apa saja di dunia, ia ingin memadukan pendidikan hak asasi manusia dengan sepak bola. Ia memberitahuku ketakutannya terbesar: ia cemas takkan pernah dapat membuat orangtuanya bangga. Tiap kali ia bertanya sesuatu yang bermakna tentang diriku, aku hanya menciumnya.

Dua minggu setelah kencan itu, ia meninggalkanku.

SEPULUH tahun setelah kejadian itu. Kulihat selebaran mengumumkan sebuah diskusi bersama penyintas kerusuhan Mei ’98 di Jakarta. Entah mengapa, aku datang ke acara itu. […]

(Bacalah keseluruhan esai ini di situsweb Australia-Indonesia Centre. | You may also read the English version here.)

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s