Seraya Indonesia menjelang demokrasi pada akhir ’90-an, generasi muda bertanya: apa makna kebebasan? Seorang laki-laki dan seorang perempuan mendambakan kebebasan untuk jadi diri sendiri, meskipun itu berarti hidup di luar norma-norma masyarakat dan budaya.

Terombang-ambing antara tuntutan keluarga dan aspirasi seni sendiri, si laki-laki memutuskan untuk tunduk, sedangkan si perempuan membangun jalannya sendiri. Satu dekade kemudian, si pemuda menjadi dokter yang dihormati, walaupun diam-diam ia menyimpan Kotak Memori Esensial tempat ia titipkan semua foto, catatan harian, dan kenang-kenangan lain yang mengingatkannya akan siapa dia sebenarnya. Sementara itu, si perempuan terus mencoba menjadi fotografer sambil menenteng Kotak Karya Belum Selesai, tempat ia tabung mimpi-mimpinya yang belum jadi nyata. Melalui berbagai perubahan dalam masyarakat Indonesia, keduanya terus merengkuh satu sama lain, mencari seseorang yang bisa mengerti.

Merentang lima belas tahun dan melesat bolak-balik antara perspektif si laki-laki dan si perempuan, masa kini dan masa lalu, novel ini membongkar mitos pergaulan yang banyak beredar di kalangan orang muda, terutama di Jakarta, serta menyelusuri apa yang dikorbankan dan dicapai ketika kita tunduk pada pengharapan orang lain dan ketika kita terus menekuni jalan sendiri.

ISBN: 978-979-461-871-4

Cetakan pertama: Februari 2014

Diterbitkan oleh: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Untuk pemesanan, mohon hubungi penerbit.

  • Alamat: Jl. Plaju No. 10 Jakarta 10230.
  • Tel.: 021-31926978; 3920114.
  • Faks: 021-31924488.
  • Surel: yayasan_obor@cbn.net.id
  • Situsweb: http://www.obor.or.id

Pujian:

“Kisah cinta yang dikoreografi dengan jeli dan membayangi pelbagai perubahan serta tantangan hidup di Indonesia masa kini. Ia menyelurusi berbagai identitas yang bertentangan dalam dunia yang rumit, di mana tekanan sosial melawan bentuk-bentuk baru kemandirian dan kebebasan… Dirancang dengan cermat, memabukkan, dan membahana.” —Nicholas Jose, penulis novel Paper Nautilus dan Original Face

“Meditasi yang ditulis dengan menawan dan sensitif. Sebagaimana demokrasi tetap sukar dicapai, begitu pula cinta. Harapan megah yang tersirat dalam judul novel ini bisa jadi diwarnai dengan kesinisan, tapi tidak sepenuhnya palsu. Bacaan yang solid.” —Jose Dalisay Jr., peraih nominasi Man Asian Literary Prize 2007

“Dengan intens dan intim, Eliza membawa kita mengikuti sebuah perjalanan yang berani, namun juga limbung dan rapuh, menjelajahi wilayah yang sering kita hindari: ruang dalam diri kita sendiri. Ia menjelujur ketegangan antara persahabatan dan cinta, keteguhan untuk memperjuangkan kebebasan berpikir dan berekspresi, keberanian untuk jujur, dan menghadapi kekalahan dengan harapan.” —Avianti Armand, pemenang Khatulistiwa Literary Award 2011

“Politik dan cinta jarang bisa akur sebagai kawan seranjang, tapi Eliza Vitri Handayani merangkaikan keduanya dengan analisa yang jeli akan tradisi dan penolakannya.” —Martin Alexander, redaktur kepala, Asia Literary Review

“Tidak ada yang klise atau dibuat-buat tentang tokoh-tokohnya, rumit dan penuh hidup, bocah lelaki dan perempuan yang tumbuh menjadi pria dan wanita, sambil berupaya terus jujur sepenuh kemampuan.” —Ruby J Murray, penulis novel Running Dogs

“Dengan cepat saya tertawan oleh intensitas dan suspensi dalam penokohan serta konflik-konfliknya, dan sensibilitas yang tumbuh dari pendayagunaan berbagai citraan indrawi yang orisinal.” —Manneke Budiman, pengamat sastra dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia

“Dengan bahasa yang enak dibaca, gaya kepenulisan yang lancar, dan arus cerita yang berjalan cepat, pembaca terdorong segera membalik halaman untuk melihat apa yang terjadi dengan kedua tokoh tsb.” —John H. McGlynn, penerjemah sastra Indonesia dan penerbit, Yayasan Lontar

“Eliza Vitri Handayani berhasil menangkap pola berpikir dan kecemasan kaum muda.” —Pam Allen, penerjemah dan dosen sastra Indonesia di University of Tasmania

“Melalui novel ini saya melihat wajah Indonesia dan manusia-manusianya. Miris dan manis pada saat bersamaan, mendebarkan sekaligus membebaskan, juga ada kalanya mengharukan.” Bramantio, pengamat sastra dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s