(Pertama kali diterbitkan di Koran Tempo, Minggu 15 Oktober 2006. Di sini muncul dengan perubahan mutakhir.)

 

Pintu terbanting dan kuterbangun di tengah api ini. Kamar tidurku sudut neraka: kobar merah menghanguskan tiap senti dinding, mengerubungi lemari, berderak berkecamuk, melambai-lambai bersama tirai yang dilumatnya. Udara berat dengan debu dan asap, panas menyengat melumpuhkan. Entah bagaimana aku tahu api ini akan ada di sini ketika aku bangun, sebagaimana kutahu kau takkan ada.

Kita cermin satu sama lain, ternyata pecah juga. Telah lama kurasakan dirimu selangkah demi selangkah menjauh, seperti bau gosong yang selama ini samar, kini tercium di mana-mana. Asap kelabu membubung memenuhi ruangan bagai air terjun terbalik, tetapi hanya kurasakan kekosongan yang kautinggalkan.

Kuberjingkat melalui tiap celah yang tak hangus di lantai, sampai ke ruang tengah, kulihat pintu di seberang. Aku bisa pergi ke danau, ciduk air, dan selamatkan rumah ini.

Rumah impian ini, tiap struktur, hiasan, dan perabotnya dirancang dengan sempurna, persis seperti dulu kurancang rumah bonekaku, kini terasa asing. Di samping sofa yang separuh terpanggang, bonekaku berdiri di depan rumahnya; wajahnya mengelupas, matanya meneteskan lelehan lilin. Namun ia terus tersenyum, terus berdiri tegak.

Bonekaku tersayang! Mungkinkah ia menangis? Ataukah airmatanya airmata gembira? Apakah ia menghadapi api ini dengan berani? Atau terlalu takut untuk lari? Kucoba pikirkan, untuk pertama dan terakhir kalinya, bagaimana aku dapat memahami dirinya.

Harus menilai dari mana? Senyum cantiknya yang senantiasa terkembang, airmata yang mengobrak-abrik wajahnya, atau tubuhnya yang selalu tegar bagai pohon? Ia yang dibuat dengan sempurna—diberikan perhiasan terbaik, pakaian termahal, dan dirawat dengan amat hati-hati—yang sanggup menatap tragedi tanpa berkedip, yang melalui gang kehidupan penuh cambuk dan keluar tanpa luka. Kau bilang aku persis seperti boneka itu.

Tapi bergerak pun ia tak bisa! Ia tak bisa mengangguk atau memutar bola mata atau lari untuk menyelamatkan diri. Selama ini kupikir aku amat mengenalnya. Dengan diam ia terima segala prasangka kita akan dirinya. Sekarang ia terbakar. Pergilah, dan maafkanlah aku.

Kuberpaling dari pintu.

Lalu bagaimana? Aku bisa menyambar beberapa barang, mendekapnya erat-erat seperti bayi, lalu menerobos ke luar.

Kukernyitkan mata untuk menembus silaunya ruangan. Apa yang akan kubawa? Seandainya kau ada di sini, apa yang akan kauselamatkan? Kau yang mengenalku begitu baik, apa yang menurutmu akan kuselamatkan?

Ijazah, akta, kartu identitas, surat-surat berharga? Mereka terkunci dalam laci meja di sebelah rumah boneka. Tetapi mengapa harus kubawa? Bahkan laci itu tak sanggup meredam berisiknya mereka. Betapa melelahkan, harus arungi kehidupan dengan mereka yang mengira bisa bicara untukku. Namaku terpahat di tubuh mereka yang dingin, suram, bagai nisan. Biarkan mereka terbakar.

Telepon genggam? Kucari dan kucari, di sofa, di meja tamu, di rak buku, namun segera kuingat, tak ada satu pun nama di dalamnya yang mengenali suaraku ketika menangis atau minta tolong, jika kubilang aku takut, aku gagal, aku hancur, mereka akan bilang, “Ini benar kamu?” dan memutuskannya. Biar ia musnah.

Uang! Tapi ia tak pernah penuhi perutku sebagaimana udara hitam ini penuhi paru-paruku. Kuumpankan isi dompetku ke cakar-cakar api yang rakus merebutnya. Lembar-lembar hijau berterbangan, mengerut, dan memercik bagai kembang api yang segera luruh. Siapa pernah peduli?

Surat-suratmu! Mereka tersusun rapi dalam map di rak buku. Aku hapal isinya luar-dalam: kau bilang kau selalu percaya padaku, apapun yang terjadi aku pasti bisa bangkit lagi, seperti phoenix (tapi kau tak pernah bilang masih akan mencintaiku setelah itu, akankah kau?); kau bilang kau sanggup melukisku, bahkan dengan mata tertutup (kemudian kau melukisku, dan kau mencintai gadis dalam lukisan itu); lantas kau bilang gadis yang kaukenal sudah mati (tapi kau salah, ia tetap hidup untukmu, akulah yang memudar). Surat-surat itu sudah jadi abu sebelum api ini menyentuh mereka.

Kepedihan menggelegar. Namun, secepat datangnya ia menyublim, dan di tempatnya menyembur rasa lega dan damai.

Aku tak punya apa-apa yang kuingin selamatkan.

Sekali lagi kulirik pintu. Dengan sekali memacu langkah aku bisa keluar. Menyongsong malam dan mentari yang selalu kembali, menghadapi “apa kabar?” dan “sampai besok!”, menemui wajah-wajah yang sama setiap hari, mengamini asas-asas yang diulang-ulang lagi, kembali ke peran yang selama ini kita mainkan: kekasihmu, sahabatmu yang suka hal-hal ABC, yang tak peduli dengan hal-hal XYZ, yang bercita-cita jadi ini dan bukan itu, yang memandang dunia seperti yang kaukira—

Kubersyukur atas api ini.

Aku mencintaimu dan tahu kau mencintaiku. Tapi apa yang lengan cinta memarkan, lidah api ini bebaskan. “Ada luka-luka yang hanya bisa disembuhkan oleh api,” katamu, “kata Hippocrates.” Kuharap kau benar.

Mungkin kau akan menuduhku menyerah, atau sengaja menghancurkan segalanya, seperti Medea. Tidakkah kau mengerti? Ini satu-satunya jalan keluar bagiku. Kau yang melihat harapan di mana-mana, bahkan saat kehidupan terkapar bagai ikan di batu yang kering, tentu kau akan lihat sendiri: indahnya harapan dalam setumpuk abu ini.

Lihat! Lihat! Betapa bebasnya ia. Betapa sarat akan kemungkinan. Tanpa pondasi yang tersisa, ia bisa dibangun lagi jadi sesuatu yang sama sekali baru.

Aku duduk di kusen jendela, sementara api terus menderu, rumah ini terus berderak, seolah mengobrol, seperti kawan setia. Jika kau benar, jika aku sekuat gunung es, maka aku takkan merasakan apa-apa. Dan aku tak merasakan apa-apa. Bukan berarti aku tak bisa menekuk di dalam kepompong dan terbakar. Aku hanya tak lagi menunggu.

Di kejauhan, di balik udara panas yang bergelombang, rasanya kulihat siluet yang sangat menyerupaimu (atau menyerupaiku?), memegang obor dan berdiri dalam gelap. Apakah ia sang pembakar, ataukah menunggu seseorang untuk keluar, atau sekadar menonton runtuhnya rumah ini? Apakah itu kau (atau aku)? Ataukah ada banyak orang? Seisi kota? Apa kalian mendengarkanku sekarang?

Jadi katakanlah, seperti apa rupaku bagi kalian di sana? Siapa kalian pikir aku sekarang?

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s