(Pertama terbit di Koran Tempo, Minggu 23 September 2012)

KALI ini Julita menerobos dunia Rizky dengan profil di koran Minggu, pada halaman yang dikhususkan untuk seniman muda.

Saat itu beberapa minggu setelah Soeharto lengser, pertama kalinya Rizky mendengar kabar dari Julita setelah mereka lulus SMA empat tahun sebelumnya. Foto-foto karya Julita akan demonstrasi mahasiswa dan kejadian-kejadian sekitarnya menggarami artikel: seorang pemuda menyobek kemeja dan memamerkan dadanya yang terbalur tato di hadapan barisan Brimob; seorang penulis membagikan fotokopi bukunya yang dilarang Orde Baru; lima perempuan menutupi wajah masing-masing dengan tanda ‘Jangan Perkosa, Pribumi Muslim’; di depan kerangka pusat perbelanjaan yang luluh gosong, sekelompok anak jalanan yang manis memamerkan mainan baru buah jarahan; didukung lambaian kepalan tangan ratusan mahasiswa, seorang penyair menerbangkan pesawat kertas dari atap gedung MPR/DPR.

Rizky menerawang ke tiap potret—wajah-wajah yang sesaat menghentikan kegiatan mereka untuk memancarkan jiwa ke kamera.

Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin orang-orang yang dulu menyensor PR anaknya sendiri karena takut menarik perhatian sekarang menunjukkan dada mereka dengan bangga? Dari mana mereka, setelah tiga dekade bungkam dan patuh, kini mendapat nyali untuk protes? Orang-orang yang begitu biasa tunduk pada takdir, apa yang memberi mereka ilham untuk mengguncang sejarah? Rizky begitu terkesan karena itulah konfirmasi pertama yang diterimanya bahwa seseorang ternyata mampu mengarak perubahan. Ia takkan lupa saat ia mendengar bisikan Tuhan di sela derap langkah ribuan mahasiswa: ‘Kau pun dapat mengubah hidupmu.’

Rizky mengacak-acak kamarnya mencari buku tahunan SMA, di dalamnya ia menemukan nomor telepon rumah Julita, lalu orangtua Julita memberitahunya nomor ponsel putri mereka.

“Halo?” Julita kedengaran baru disambar dari mimpi.

“Hai, ini Rizky.”

“Siapa?”

Rizky tersinggung Julita tak ingat kepadanya, tapi segera ia kendalikan egonya. “Riz-ky. Teman SMA. Aku pernah datang ke rumahmu waktu kamu diskors.”

Rizky bisa dengar kecurigaan Julita dalam jeda cakap mereka.

“Ada perlu apa?”

“Selamat, Juli, aku baru baca artikelnya. Aku tahu dari dulu kamu pasti berhasil.”

“Ya ampun, terbit hari ini.”

“Kamu tinggal di mana? Ketemu yuk.”

Saat Rizky pertama melihat seorang perempuan berambut panjang datang naik ojek, duduk menyamping, memakai gaun berenda dengan potongan leher yang rendah, ia tak menyangka itu Julita. Bahkan ketika ia membebaskan kepalanya dari helm, Rizky nyaris tak mengenalinya. Ia kelihatan lebih tinggi dan cantik memakai gaun pendek dan selop tinggi. Rambutnya sebahu, jatuh berlapis-lapis membingkai wajah.

Julita yang pilih tempatnya—salah satu tenda gaul yang banyak dibuka selebritis ketika itu dengan dalih menyediakan lapangan kerja bagi korban-korban PHK. Tenda itu dilengkapi perabot dari barang-barang bekas dan temuan yang didaur ulang. Semua permukaan meja ditutupi lukisan gaya mural yang kocak dan menyentil. Julita bilang tenda itu salah satu yang paling kreatif, dan ia senang tenda itu tak tersentuh kerusuhan, meskipun seniman pemiliknya peranakan Tionghoa.

Mata lebarnya mencari dan menemukan Rizky yang duduk dekat gerobak yang disulap jadi konter. Julita melenggang ke arahnya tanpa memutus kontak mata, menenteng tas kameranya di tangan kanan dan helmnya di tangan kiri.

PERTAMA kali Rizky sadar akan keberadaan Julita adalah hari Kartini 1993, kala itu mereka duduk di bangku SMA kelas 2. Hari itu, seperti biasa, cewek-cewek bersolek cantik dengan baju tradisional, tetapi Julita merasa cara lebih tepat untuk merayakan emansipasi adalah dengan mendorong anak perempuan mengekspresikan cita-citanya. Maka Julita muncul terbalut gaun berlumur cat, mengenakan baret, dan menyelipkan kuas di telinga. Sebuah kamera bergelayut dari lehernya. Cewek-cewek mencibir, cowok-cowok bersiul, dan guru-guru murka. Rizky justru tertarik.

Karena hari itu Rizky dan teman-temannya yang termasuk ‘geng anak badung’ tertangkap merokok di halaman belakang sekolah, mereka pun dikuliahi bersama Julita di ruang kepala sekolah. Dia satu-satunya cewek di situ. Kemudian mereka dipulangkan. Di gerbang sekolah Julita meminta salah seorang cowok mengambil fotonya. Tak lama kemudian, mereka pun berpose bersama-sama—kadang culun, kadang nakal.

Setelah hari itu, anak-anak geng jadi ramah kepada Julita. Pagi hari ia membolehkan mereka menyontek PR-nya, sore hari mereka mengundangnya menonton band mereka latihan. Lama-kelamaan Julita jadi fotografer tak-resmi mereka, satu-satunya cewek yang dapat bertandang di dekat mereka tanpa jadi pacar atau grepean.

Hingga suatu hari, di penghujung kelas 3, Julita menutupi mading sekolah dengan koleksinya Kenakalan Manusia: seorang guru memukul murid dengan sepatu; sepasang remaja berciuman di tengah kerumunan pelajar SMA yang tawuran di jalan; bapak-bapak mengantri untuk beli SDSB sambil merokok dan menggendong anak; uang lima puluh ribu dengan gambar Soeharto tertancap panah di papan sasaran bundar.

Sekolah menyobek foto-foto itu, memanggil orangtua Julita, dan menyita kameranya. Kepala Sekolah mengancam mengeluarkannya, hanya beberapa minggu sebelum Ebtanas. Namun, kemudian orangtua Julita memberi hibah yang besar kepada sekolah, dibayar tunai ke guru-guru dan pengurus.

Anak-anak geng turut terimbas masalah sebab ada foto mereka minum dan nonton video porno. Rizky masih ingat ketua geng mendekati Julita—kepalan tangannya berhenti satu senti dari hidung Julita—dan berkata, “Sayang lu cewek.”

Rizky datang ke rumah Julita suatu sore ketika ia diskors. Ketika ia tiba, Julita sedang mengecat dinding kamarnya dengan pola semburan darah. Julita melihatnya dari jendela dan panik, tapi Rizky buru-buru bilang ia cuma ingin mengobrol. Akhirnya mereka duduk di teras depan sambil mengudap gorengan.

“Maaf kalian jadi kena masalah, Riz. Gue merasa tolol betul. Gue terlalu bangga akan karya sendiri, gue kira foto-foto itu akan bikin semua orang sadar bahwa kenakalan ada pada diri kita semua, bukan hanya pada remaja. Gue enggak sangka konsekuensinya begini. Kodok juga ancam keluarkan kalian?”

Karena lengannya yang pendek, perutnya yang buncit, dan senyumnya yang lebar, kepala sekolah diam-diam dijuluki Kodok oleh para siswa.

“Kita bilang itu kali pertama kita coba minum alkohol. Mereka enggak bisa buktikan kita bohong. Kita bilang kita menyesal dan minta maaf, terus Kodok suruh kita kosek WC selama sebulan. Waktu latihan band jadi berkurang drastis, tapi mau gimana lagi?” kata Rizky—mulutnya berminyak dan panas gara-gara makan tahu goreng dan cabai hijau. “Ibu menangis dan menangis kayak dunia kiamat. Jadi gue bilang gue mau ikut pesantren kilat selama liburan, supaya Ibu percaya gue benar-benar menyesal. Baru deh Ibu berhenti. Sialnya, sekarang gue mesti tinggal dua minggu di—” Ia menggeram.

“Mama berusaha bela gue, dia bilang Pak Dewo memang memukul murid dengan sepatu. Gue enggak bakal dapat memfotonya apabila dia enggak berbuat.”

“Kodok bilang apa?”

“Dia bilang dia udah beri sanksi pada Pak Dewo, dia anggap masalahnya selesai dan mengungkitnya kembali cuma bakal menodai reputasi sekolah. Biasa lah. Kodok bilang seharusnya gue berterima kasih sekolah menurunkan foto-foto gue sebelum banyak orang yang lihat. Dia bilang gue bisa dapat masalah serius gara-gara foto Soeharto. Papa setuju dan bilang terima kasih.”

“Lu bakal balik ke sekolah, kan?”

“Kodok bilang sekolah udah siap ngeluarin gue, kecuali Papa mau kasih hibah untuk sekolah. Kita mengerti lah maksudnya. Papa pilih bayar. Katanya habis tiga bulan gaji.”

“Ya ampun!”

“Tapi lu jangan bilang siapa-siapa!”

“Apa enggak lebih gampang pindah sekolah?”

“Papa enggak mau saudara-saudara dengar anak mereka dikeluarin,” kata Julita. “Biar. Gue bakal dapat nilai sempurna saat Ebtanas nanti. Guru-guru bakal kasih gue penghargaan. Lu lihat nanti.”

“Itu cita-cita lu, jadi fotografer?”

“Fotografi itu mahal, tapi kamera bisa bikin gue fokus, dan gue butuh itu. Gue percaya gue lihat jauh lebih banyak melalui kamera daripada dengan mata… eh… polos. Kalau lu, apa cita-cita lu?” Julita mengamati Rizky lekat-lekat, tapi ketika Rizky menemui tatapannya, ia segera menunduk.

“Orangtua ingin gue jadi dokter. Ibu sejak kecil ingin jadi dokter, tapi ayahnya meninggal waktu Ibu baru lima belas tahun, dan setelah itu Ibu harus kerja untuk bantu biayai abang-abangnya kuliah. Jadi, Ibu kawin dengan dokter. Keluarga Ayah dokter turun-temurun.”

Rizky terkejut ia dapat membuka diri pada seorang gadis—gadis ini—yang jauh berbeda dari tipenya. Ia biasanya suka cewek yang tinggi, berkulit langsat, dengan rambut panjang terurai. Julita tidak tinggi, walaupun juga tidak pendek, tapi kakinya berotot seperti kaki pemain bola (pasti karena ia banyak jalan untuk mengambil foto, pikir Rizky), kulitnya warna karamel gosong, dan, kecuali pada hari Kartini, Rizky tak pernah melihatnya memakai selain seragam putih-kelabu yang longgar. Hari itu, ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek yang belepotan bercak-bercak cat merah. Namun, ia sepertinya rajin mengurus rambutnya, Rizky perhatikan rambutnya wangi, tebal, dan hitam mengilap, meskipun selalu ia sisir ke depan sehingga menutupi separuh wajahnya.

“Tapi lu sendiri ingin jadi apa?” tanya Julita.

Rizky tersentak—tak pernah ada yang menanyakan hal itu kepadanya sebelumnya. “Eh… apa ya? Gue suka karang-karang cerita dan manggung. Gue ikut ekskul teater, tahu kan? Gue juga tulis syair untuk lagu-lagu band.”

“Ya ampun, anak-anak band…” Julita menikamkan kuku-kukunya ke pundak dan mencakar sepanjang lengannya. “Kok bisa ya gue jadi setolol itu? Tolong bilang pada anak-anak gue minta maaf, oke?”

Namun, Rizky tak pernah bilang ia mampir menemui Julita. Rizky tahu ia akan dianggap pengkhianat dan dipukuli seandainya ia bilang. Setiap Julita lewat, anak-anak band melontarinya dengan kata-kata jorok dan, kadang-kadang, kaleng bekas minuman. Suatu pagi mereka menghadangnya di gerbang sekolah, berjejer padat bagai pagar monster yang meludah dan mengancam. Mereka menghalang-halangi jalannya dan memerosokkannya ketika ia berusaha lewat. Bahkan mereka merenggut dadanya.

Rizky berdiri di ujung barisan menyaksikan semuanya. Kali pertama, Julita menangkap matanya, meminta tolong, tapi Rizky hanya menunduk. Kali berikutnya Julita memandangnya dengan kecewa dan sekilas benci, lalu ia berhenti memandangnya sama sekali.

Tetap saja, Rizky memperhatikannya dari jauh. Sesekali ia mengirim isyarat rahasia kepadanya—ketika karya Julita dipilih sebagai Foto Bulan Ini oleh majalah Fotomedia, Rizky membalas dengan memenangkan juara kedua, kategori pemeran utama pria, pada Festival Teater SMA se-Jakarta; ketika seorang anak-pejabat yang sombong mengatai Julita jalang, Rizky menggores mobil anak itu dengan paku. Julita lulus dengan nilai sempurna untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, dan Rizky lulus dengan nilai sempurna untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah. Guru-guru memberi mereka piagam di depan seisi sekolah.

“Selamat, Juli,” bisik Rizky kepada Julita ketika mereka berbanjar turun dari panggung setelah menerima ijazah dan penghargaan. “Lu berhasil.”

Rizky tak ingat apakah Julita menjawab.

KETIKA mengemudi menuju tenda, Rizky ragu Julita sudah memaafkannya. Namun, ketika melihatnya datang, Rizky merasa Julita ingin membuatnya terkesan. Ia sendiri muncul dengan kemeja merah metalik yang disetrika licin, rambut keriting pendeknya ditata rapi dengan jeli.

Mereka berjabat tangan. Julita duduk bersilang lutut dan meletakkan tas kameranya di peti yang dialih-fungsikan jadi meja mereka.

“Kamu yang pertama kasih selamat setelah artikel itu terbit,” kata Julita.

“Aku tahu kok kamu pasti berhasil, Juli. Kamu adalah bukti orang-orang seperti kita juga bisa berhasil.”

“Kamu masih berteman dengan anak-anak dari SMA?”

“Enggak,” dustanya.

“Jadi, ‘orang-orang seperti kita’ maksudmu siapa?”

Rizky memandang sekeliling mencari inspirasi. “Maksudku ya… orang-orang seperti kita… ‘Anak-anak bermasalah’ atau sebangsanya.”

Julita merogoh ke dalam tasnya dan disebarkannya beberapa lembar foto di atas meja. “Gimana menurutmu?” Dicondongkannya badan.

Rizky tahu bila ia melirik ke bawah ia dapat melihat ke dalam gaunnya. Dipenuhinya undangan itu. “Aku suka.”

Julita kembali bersandar. “Kenapa?”

“Kamu memotret individu. Fotografer lain memotret bangunan terbakar, tentara, mahasiswa berbondong-bondong—mereka jadi seperti figuran dalam film kolosal. Kamu kasih lihat orang-orang di balik semua itu, seolah bilang ke dunia: Reformasi bukan cuma soal menumbangkan sebuah rezim yang korup, ia kesempatan kita untuk keluar dari sembunyi, untuk pegang kendali atas hidup kita!”

“Justru itu niatku,” kata Julita. “Sementara fotografer lain berlari ke tengah jalan, aku diam di pinggir. Waktu aku lihat seseorang yang tampak istimewa, baru aku bergerak. Aku hampiri mereka dan tanya siapa mereka dan kenapa mereka ikut demo. Awalnya orang-orang menutupi wajah dan enggak mau cerita apa-apa. Tetapi seraya demo bertambah besar dan media berhenti mengaburkan kata-kata pada poster yang dibawa mahasiswa, orang-orang mulai bicara. Mereka bahkan panggil-panggil aku, minta difoto. Mereka cerita panjang lebar.” Ia membalik beberapa lembar foto dan memperlihatkan sekelumit cerita yang tercetak di sana. “Saat itu aku tahu, perubahan besar bakal terjadi.”

“Kamu perhatikan enggak, sebelum ini orang-orang terima aja apa-apa yang udah berlangsung lama, bahkan hal-hal yang mereka tahu sebenarnya salah, contohnya plonco mahasiswa baru,” kata Rizky. “Orang bilang itu tradisi lah, apa lah, tapi sekarang sepertinya orang-orang merasa dikasih izin untuk berpikir beda. Semua dikaji ulang. Kurang asyik gimana lagi coba?”

Julita mengangguk. “Kamu mau lihat lagi?”

Rizky menyeringai. “Kamu mau kasih lihat lagi?”

Julita menyapu foto-fotonya dari atas meja dan dimasukkannya ke dalam tas. Diangkatnya tasnya, tapi hanya untuk memindahkannya ke kursi di sebelahnya. “Nanti deh. Sibuk apa aja kamu selama ini?”

Rizky berpura-pura punggungnya pegal dan sekadar meluruskan posisi duduknya. Ia penasaran ke mana permainan ini akan membawanya. “Aku sibuk atur acara lulus-lulusan. Ujian dan skripsi sih udah selesai—lumayan lah, IPK-ku nyaris sempurna—tapi ada tugas jaga UGD dan segudang urusan kampus. Siapa suruh jadi ketua angkatan, Riz?”

Mata Julita memancarkan kekaguman yang dipancingnya. “Pasti sibuk banget dong, banyak tanggung jawab.”

“Waktu kamu ambil foto di kampusku, kamu pasti lihat ada spanduk baru terbentang di atas gerbang utama. Dulu spanduk itu bertuliskan Kampus Perjuangan Orde Baru, tapi kita sobek itu spanduk dan kita pasang yang baru: Kampus Perjuangan Rakyat.”

“Aduh, sayang banget aku enggak di sana waktu itu, tapi kamu hadir?”

“Hadir dong. Kita juga bikin panggung terbuka di halaman depan. Itu usulku tuh. Kita bikin mimbar bebas dan pentaskan drama satu babak. Aku bahkan tulis dan tampilkan monolog sendiri.”

Semangat mereka menggembung seiring bicara tentang mulai sekarang mereka dapat mengutarakan pendapat sekontroversial apapun, seniman tak perlu lagi takut sensor atau diburu, dan topik-topik yang dulu terlarang kini bisa ditelusuri sepuas-puasnya. Tepat saatnya mereka berkarya, sebuah gerbang sarat kemungkinan baru diterjang terbuka untuk mereka. Julita bilang ia ingin memamerkan foto-fotonya di galeri, menerbitkannya sebagai buku, dan mencari bantuan dana untuk memotret di seluruh dunia. Mimpi seliar apa pun sepertinya niscaya saja. Seolah-olah Tuhan sendiri yang membukakan jalan untuk mereka, kata Rizky. Julita penuh semangat, Rizky penuh semangat, dan semangat mereka pun berlipat ganda dengan semangat zaman.

Ketika hari mulai hujan, Rizky menawarkan mengantar Julita pulang dengan mobilnya. Dibiarkannya Julita berkutat sebentar dengan ponsel, sebelum akhirnya ia setuju, dengan alasan ojek langganannya tak bisa menjemput karena hujan dan ia tak nyaman naik taksi karena belakangan banyak berita penjarahan taksi.

Sepanjang perjalanan, ponsel Rizky terus-menerus berbunyi kedatangan SMS.

“Banyak fans ya?” goda Julita.

“Nih, tolong balas. Aku kehabisan akal bulus.” Dilontarkannya ponselnya pada Julita.

Julita melihat pesan-pesan dari Intan, Puti, Vera… ‘Lagi dingin-dingin begini, enaknya yang hangat-hangat. Ada ide?’ tulis salah seorang.

“Kamu, Juli, punya pacar?”

“Aku? Pacar?” Julita menyergah. “Tapi kalau sekadar cowok, ya…”

Rizky langsung tergelak. “Tuh kan, aku tahu.”

“Tahu apa?”

Rizky angkat bahu. “Kalau kamu begitu.”

“Begitu apa? Nakal? Murahan?”

“Bukan! Eh, maksud aku… eh, enggak menganggap harga diri tergantung… Sori, bukan niatku—”

“Santai. Aku cuma bercanda.”

“Berat enggak memutuskan mau begitu?”

“Maksud kamu pertama kali?”

Kali itu Rizky merasa dungu. “Aku bukan mau usil, tapi… aku kenal satu cewek dan dia bilang setelah itu dia rasa mau mati.”

“Memang aku sempat rasa dosa sedikit,” kata Julita. “Waktu itu aku marah banget, aku ingin putus hubungan sama sekali dengan masyarakat, jadi aku pikir itulah caranya.” Ia diam beberapa saat, pandangannya terserap ke dalam dirinya sendiri. “Aku rasa agak limbung setelahnya, seolah tiba-tiba aku sendirian, terombang-ambing di lautan yang asing…” Ia menggelengkan kepala. “Tapi itu kemauanku kok.”

Segala risih dan kikuk yang dirasakan Rizky pun lenyap. Di luar hujan tumpah dengan derasnya, seluruh dunia seolah meleleh, dan ia merasa nyaman dan hangat di dalam mobil bersama Julita, terlindung dari guyur kelabu di luar.

“Cewek yang kusebut tadi, dia kali pertamaku. Aku mabuk banget waktu itu, dan setelahnya aku cuma bengong lihat langit-langit. Cewek itu langsung tidur. Menurut semua yang diajarin kepadaku seumur hidup, perbuatanku itu salah. Kepalaku mumet banget. Waktu cewek itu bangun, dia lihat aku bengong kayak orang bego. Terus, kayak orang yang lebih bego lagi, aku mengaku bahwa itu kali pertamaku. Untungnya dia bilang enggak terasa kalau aku baru pemula, jadi aku agak senang sedikit. Habis itu dia cerita tentang kali pertamanya, dia rasa semua kesempatannya untuk berkeluarga amblas sudah, dan dia enggak bisa bangun dari tempat tidur selama seminggu. Tapi suatu hari dia bangun dan sadar, dia enggak harus ikuti aturan orang lain lagi, dia bisa cari pasangan yang terima dia apa adanya. Terus, dia pakai baju dan pergi. Aku enggak pernah ketemu dia lagi, tapi awas kalau ada yang bilang pertemuan kita enggak bermakna!”

“Aku bilang makasih ke cowokku kali pertama.”

Gila! Dia tanya balik, enggak, makasih buat apa? Terus kamu mau bilang apa?”

Mereka memasuki halaman rumah kos Julita—bangunan bertingkat dua dengan cat hijau pecah-pecah dan balkon separuh bulan di lantai dua. Rizky penasaran akankah Julita mengundangnya masuk. Namun, Julita cuma bilang terima kasih dan lari ke dalam sambil mendekap tas kameranya erat-erat. Rizky sadar ia kecewa. Kemudian ia lihat helm Julita bergoyang-goyang di kursi belakang bagai kepala tertawa.

Sambil menggeleng-geleng Rizky menyetir pergi.

SEHARI setelah pertemuan mereka, Rizky mengabaikan telepon Julita dua kali sebelum menjawab pada kali ketiga. Ia berjanji akan menemui Julita di Galeri Nasional untuk membawakan helmnya. Sebelum menutup telepon, Rizky memberanikan diri bertanya apakah Julita kenal orang-orang teater yang bisa ia kenalkan kepadanya. “Dari dulu aku ingin gabung sanggar teater, tapi enggak tahu caranya. Enggak penting sih, tapi aku kangen akting. Aku berhenti sama sekali setelah masuk FK, tapi habis tampilkan monolog tempo hari, aku jadi ingin main teater lagi.”

“Sabtu depan aku diundang ke pesta ulang tahun di rumah seorang pemain teater, dulu kami satu angkatan waktu kuliah. Mau ikut?”

Ketika Rizky dan Julita tiba, seorang cowok dengan rambut keriting gondrong yang mengenakan jaket kulit memisahkan diri dari lingkaran perokok di depan pagar dan membuka pintu taksi. Julita melangkah keluar dan menciumnya di kedua pipi. “Selamat ultah ya.”

“Cowok baru, Jul?” tanya si gondrong ketika melihat Rizky di dalam taksi.

“Hus! Ini temanku Rizky,” kata Julita. “Dia juara pemeran utama pria di Festival Teater SMA tahun ‘94.”

“Serius?” Si gondrong tampak terkesan. “Lu ikut sanggar apa? Udah kenal anak-anak sanggar kita?”

Rizky memutuskan untuk tidak mengaku bahwa ia sebenarnya hanya meraih juara kedua. Bersama si gondrong, Rizky berbaur ke dalam lingkaran para aktor yang merokok di depan pagar. Dari ambang pintu, Julita mengedip kepadanya sebelum menghilang ke dalam rumah.

Sambil merokok kretek pemberian si gondrong, Rizky memberitahu para aktor bahwa selama bertahun-tahun ia telah menonton pementasan sanggar mereka, dan ia sungguh mengagumi kecerdikan mereka hingga dapat mengolok-olok pemerintah dan lolos dari cekal. Si gondrong bertanya lakon apa yang Rizky ingin lihat mereka pentaskan berikutnya, sebab sekarang mereka dapat menyuguhkan tema apa saja—mungkin tentang pembunuhan massal tahun ‘65 atau adaptasi salah satu novel Pramoedya yang dilarang? Rizky sebetulnya kurang tahu tentang kedua hal itu, tapi ia bilang ya tentu ia bakal senang menonton pementasan lakon-lakon itu.

Setelah Rizky masuk ke dalam rumah, ia berpapasan dengan sutradara pemimpin sanggar—seorang pria berusia lima puluhan dengan perut gempal dan mata menatap tajam melalui kacamata tebal. Sambil minum bir pletok, si sutradara memberitahu Rizky bahwa syarat utama untuk bergabung dengan sanggarnya adalah komitmen membaca sebuah buku atau lakon setiap minggu.

“Saya dari dulu juga sudah begitu, Pak,” kata Rizky.

“Kalau begitu, ya gabunglah,” kata si sutradara. Ia memberi Rizky kartu namanya, lalu beranjak pergi.

Rizky begitu berbahagia sampai ia berjingkrak-jingkrak ke halaman belakang. Di atas panggung sebuah band memainkan lagu-lagu dangdut untuk sekitar tiga puluh orang yang berjoget di halaman, meliuk-liukkan badan dan menonjok-nonjok udara. Seorang gadis berambut ungu menghampirinya. Rizky bercengkerama dengannya sambil mencuri-curi pandang kepada Julita yang berdansa berputar-putar bersama si gondrong dan diam-diam mencuri-curi pandang kepadanya.

Seksi sekali dia, pikir Rizky, hanya mengenakan sarung tangan sepanjang siku dan seuntai kain putih panjang yang ia bebatkan dan jepitkan di sekeliling tubuhnya, membentuk sebuah gaun serupa pembungkus mumi dengan sebuah ujungnya tersampai panjang dari bahu kanannya. Dengan cat semprot telah ia tuliskan tuntutan-tuntutan mahasiswa di gaunnya itu: berantas korupsi, hapus dwifungsi ABRI, bersihkan sistem peradilan.

Beberapa saat kemudian, Rizky duduk di rumput merenungkan jam-jam yang ia habiskan belajar untuk ujian masuk universitas, berkampanye untuk jadi ketua angkatan, merencanakan kegiatan untuk rekan-rekan mahasiswa nyaris sepenuhnya sendiri, dan setelah semua pengorbanan itu, tak pernah sekali pun Ibu berkata, ‘Bagus, Riz, Ibu bangga.’

‘Cukup,’ tekad Rizky, ‘mulai saat ini aku akan hidup sesuai kehendakku.’

Dalam perjalanan pulang di taksi, dengan alkohol bergolak dalam pembuluh darahnya, Rizky bertanya kepada Julita apakah ia boleh lihat kamar kosnya.

“Boleh dong.”

Sudah lewat pukul tiga pagi ketika mereka tiba, tetapi sekelompok laki-laki masih berkerumun di pos satpam menonton siaran langsung pertandingan Piala Dunia melalui televisi empat belas inci. Mereka bersorak dan mengumpat seiring aksi para pemain yang mereka anggap hebat atau mereka sesalkan. Si satpam melempar pandangan singkat dan tak acuh kepada Rizky dan Julita.

Julita memandu Rizky menembus koridor yang remang, melewati dapur yang bau ikan asin di bawah tangga, lalu naik ke lantai dua. Rizky perhatikan selop perempuan dan sepatu laki-laki malang-melintang di atas koset di depan pintu beberapa kamar—ia sudah menduga Julita pasti tinggal di rumah kos yang ‘bebas’, yang gerbangnya buka 24 jam dan manajemennya membolehkan tamu menginap.

Julita membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampu. Rizky mengikutinya masuk dan terpana melihat gambar-gambar yang menutupi tiap senti dinding kamar: reproduksi foto atau lukisan, kartu pos, sobekan sampul majalah, dan lembar iklan. Seraya ia mengelilingi kamar, Rizky mengenali reproduksi lukisan Affandi bersama matahari, lukisan wanita kembar beralis tebal yang dirangkul oleh seutas urat nadi yang berdarah, foto-foto seorang perempuan pirang sebagai macam-macam karakter dalam film hitam-putih, penari-penari Vegas mengenakan kostum berbulu dan berkelap-kelip dikontraskan dengan foto mereka dalam pakaian sehari-hari… Di seberang tempat tidur yang ramping berdiri sebuah penyangga kanvas yang menyokong sebuah cermin lampai. Darah Rizky meruap sarat kegembiraan.

Rizky duduk di samping Julita di tepi ranjang, dengan punggung jemari dibelainya belakang leher gadis itu. Julita berkedut kena sentuhannya.

“Kamu mau kopi?” Julita melompat ke rak buku dan menyalakan mesin pemanas air. Ia menuang beberapa sendok kopi instan ke dalam dua cangkir.

“Terima kasih ya kamu ajak aku malam ini,” kata Rizky. “Aku senang sekali ketemu—”

“Riz, kenapa sih kamu enggak bela aku waktu anak-anak geng melecehkan aku saat SMA dulu?”

Rizky merasa perutnya ditikam belati. “Wah, itu kan udah lama banget, Juli.”

“Ya, tapi kamu datang ke rumahku, kamu bilang kita teman, terus kamu diam waktu mereka berbuat begitu? Itu kocak buatmu?”

“Apa kita mesti bahas itu sekarang?”

“Memangnya kamu pikir kenapa aku undang kamu ke sini?”

“Kamu bercanda, kan?”

Julita menggeleng dengan serius. “Udah lama aku penasaran.” Air mendidih menggelegak di belakangnya.

Rizky berjalan mondar-mandir, napasnya semakin lama semakin lantang. “Kamu pikir aku enggak merasa busuk? Aku begitu benci diri sampai aku sundut lengan sendiri!” Ditunjukkan pada Julita bekas luka bakar bundar di lipat dalam sikunya.

“Terus kenapa kamu enggak bantu aku?”

Gambar-gambar di sekelilingnya—memelototinya, mencibirnya—membuat Rizky merasa oleng. “Aku enggak bisa bahas ini sekarang.” Ia membuka pintu, tetapi lalu berpaling dan menutupnya lagi. “Juli, aku enggak tahu mereka bakal berbuat begitu. Sumpah. Kita nongkrong di depan gerbang, tahu-tahu anak-anak berdiri waktu mereka lihat kamu datang. Aku bilang, ‘Udahlah, masalahnya udah lama,’ tapi enggak ada yang dengar.”

“Kamu bisa teriak kasih aku peringatan.”

“Kalau aku coba, pasti aku dihajar. Kalau cuma itu sih, enggak apa-apa. Tapi waktu guru-guru lihat kita berantem, kamu pikir aku enggak akan dihukum? Aku juga diancam dikeluarin, Juli. Itu semua gara-gara foto-foto kamu, sadar enggak?”

“Jadi kamu bilang semua itu salahku sendiri?”

“Bukan, tapi— Kamu dapat libur sekolah selama seminggu, sementara aku dan anak-anak band mesti kosek WC selama sebulan. Kamu tahu sendiri waktu itu terlalu dekat Ebtanas, harus tunggu tahun depan untuk pindah ke sekolah lain. Keluargaku enggak sama dengan keluargamu, mau bayar uang suap.”

“Heh, itu keputusan Papa. Mana bisa aku larang-larang dia? Paling enggak sekarang aku sukses jadi fotografer, sementara kamu—”

Brengsek lu! Lu tahu enggak, setelah kerusuhan kita di rumah sakit dikasih peringatan supaya enggak bilang ke media bahwa ada korban-korban pemerkosaan, dan gue—” Rizky menyandarkan dahinya ke dinding. “Kamu mau aku bilang apa sekarang? Kelakuanku dulu itu pengecut banget? Memang.” Ketika Rizky menangkap matanya, disadarinya mata Julita sembap. “Waktu Ibu menghadap Kodok, Ibu disodorkan foto-foto kamu, sebagai bukti kebejatan anaknya. Ibu remas tangan aku erat banget dan bilang, ‘Jadi anak baik ya, Rizky. Ibu tahu kamu bisa buat Ibu bangga.’ Sumpah, cuma itu yang ada di benakku waktu anak-anak ngerjain kamu. Aku ingin banget bela kamu, Juli, tapi…”

“Tapi kamu ingin terus gabung geng anak-anak populer.”

Rizky terluka karena Julita tak memercayainya, meskipun apa yang ia katakan ada benarnya. “Tahu enggak, waktu anak-anak di sekolah ngatain kamu—” Rizky menggeleng. “Aku enggak bisa ngomong lagi.” Ia melangkah keluar dan tersandung sepatu Julita yang ditempatkan di atas keset.

Di belakangnya, Rizky mendengar Julita terkikih-kikih lantas berteriak ke arahnya. “Seharusnya aku foto mukamu di taksi, kamu kelihatan sama konyolnya seperti waktu aku masuk ke tenda itu tempo hari pakai gaun berenda. Kamu pikir kamu dewa ya? Cuma demi tidur bareng kamu aku rela lupain semua kesalahanmu?”

Rizky ingin berbalik dan menghantam pintu kamar Julita, tapi ia terus berjalan, mengumbar sumpah serapah ke sekelilingnya. Ia begitu marah, begitu malu, sehingga ia tak jadi gabung sanggar teater tempat kawan Julita. Ia membayangkan Julita memberitahu semua orang di sana bagaimana ia mengerjainya, betapa pengecutnya Rizky ketika SMA dulu, dan betapa mereka semua menertawakannya hingga perut mereka sakit dan bir mereka tumpah.

Selama berminggu-minggu tidurnya gelisah, ia kerap terbangun tiap dua-tiga jam, sesal mencabik-cabik mimpinya. Seraya berjalan mengenakan toga dan menerima ijazah Sarjana Kedokteran, Rizky berjanji dalam hati akan menelepon si sutradara.

Namun, ketika Ibu menegaskan bahwa ia harus melanjutkan kuliahnya sampai memperoleh gelar dokter, Rizky tak sanggup protes. Juga karena Ibu, Rizky masih tinggal di rumah orangtuanya. Ia menoleransinya karena—sebab ia laki-laki—orangtuanya membolehkannya keluar malam, bahkan sampai pagi.

November, seiring Sidang Istimewa MPR, mahasiswa kembali menyerbu jalan-jalan untuk menuntut diadilinya Soeharto, dihapusnya peran politik militer, dan diselidikinya kekayaan keluarga pejabat Orde Baru. Awalnya ribuan, kemudian puluhan ribu, memadati area-area pusat sekitar Semanggi, Sudirman, dan Kuningan. Rizky menghabiskan siang dan malam di rumah sakit merawat rekan-rekan yang cedera, babak belur, atau tertembak. Ia mendengar selentang-selenting tentang penembak jitu dari militer dan penyusup radikal di antara barisan mahasiswa, ia melihat polisi memaksa masuk ke dalam rumah sakit dan dilempari puntung rokok yang masih menyala oleh keluarga korban, ia menenteng selebaran yang disebarkan oleh keluarga aktivis yang lenyap dan mencari apakah wajah-wajah yang terbaring di brangkar cocok dengan foto-foto yang terpampang. Kala istirahat, ia keluyuran dari bangsal ke bangsal mencari apakah Julita ada di antara para fotografer yang mengekalkan korban serta pahlawan perjuangan. Tapi percuma.

Bulan menggeser bulan, dan tengah tahun ‘99 Indonesia akhirnya mengadakan pemilu bebas yang pertama sejak Orde Baru. Empat puluh delapan partai berlandaskan pelbagai ideologi menjeritkan eksistensi masing-masing, setelah sekian lama dileburkan ke dalam tiga wajah saja. Tahun itu, pertama kalinya sejak tiga puluh tahun lalu, bukan partai pemerintah status quo yang memenangkan pemilu.

Reformasi terus berlanjut dengan pemilihan presiden baru, amandemen undang-undang dasar, dan kembali berkaryanya industri perfilman setelah mati suri selama satu dekade. September, sekali lagi mahasiswa membanjiri jalan-jalan di sekitar gedung MPR/DPR untuk memprotes rancangan undang-undang keadaan bahaya yang akan memberi lebih banyak kekuasaan pada militer. Banyak yang kehilangan nyawa demi mengawal cita-cita Reformasi, lantas kenapa Rizky tak sanggup bangkit menghadapi ibu sendiri? Sehari-hari ia bersyukur dapat menyumbangkan keahliannya sebagai dokter muda dan merawat rekan-rekan yang terluka di rumah sakit; namun, tetap terselip perasaan ia mengecewakan mereka semua. Reformasi memberinya kesempatan untuk menakhodai takdirnya sendiri, jadi mengapa ia biarkan dirinya tetap terjebak dalam kehidupan yang dipilihkan untuknya oleh orang lain? Setelah selesai bertugas di rumah sakit, Rizky sering keluar malam mencoba menenggelamkan rasa malunya, tapi permukaan minuman yang jernih justru memantulkannya kembali ke wajahnya.

BEBERAPA minggu menjelang akhir tahun, Julita kembali menembus dunia Rizky dengan sebuah poster, dipajang di sebuah papan pengumuman di kampus, mengiklankan pameran Mulai Saat Ini Segalanya Akan Berubah di Galeri Fotografi Jurnalistik Antara. Beberapa foto Julita menghidupkan poster itu: seorang mahasiswa yang mengusung Sang Merah Putih memimpin demonstrasi tengah malam; orang-orang mengenakan kostum unik berkampanye untuk partai masing-masing di jalan-jalan; sepasang remaja tos tinggi-tinggi di depan bilik pemungutan suara.

Lama sekali Rizky menatap poster itu, bangga berpadu malu. Dituliskannya tanggal dan waktu pembukaan pameran tersebut, tapi ia ragu ia akan hadir. Studi kedokterannya tinggal tujuh bulan lagi. Setelah lulus, ia berjanji, ia akan mencari kamar kos dan bergabung dengan sanggar teater. Baru setelah itu ia akan menelepon Julita. Mengundangnya menonton pementasannya. Biar nanti Julita pun akan bangga terhadapnya. Ya, nanti saja. Lagipula, sebentar lagi milenium baru akan tiba. Rizky bisa mulai dari awal yang segar lagi. Lembar yang bersih.