(Pertama terbit di Exchanges Journal, edisi “Hysterium”.)

 

JAKARTA, Januari 2001

Halo Rizky

Terima kasih sudah merekomendasikan Dr. Dhanita, ia sepertinya memahami masalahku. Bagaimana keadaan di Kupang? Semoga kamu tetap aman dan betah di sana.

Hari ini aku mendaftar kursus di pusat budaya Prancis di Salemba, tepat di seberang alma matermu. Kupikir bagus bagiku belajar sesuatu yang baru.

Minggu lalu aku mengunjungi sebuah bangunan telantar di Bulungan yang dipakai untuk tidur oleh remaja jalanan. Aku ketemu seorang cewek yang suka menyayat kulitnya dengan peniti. Aku tunjukkan padanya luka-lukaku sendiri, akubilang aku cari orang-orang sepertiku, orang-orang yang butuh merasakan sakit supaya merasa hidup. Dia izinkan aku memotretnya, asal aku janji tak menunjukkan wajahnya. Sejak saat itu, aku jadi banyak tanya: bagaimana memenggal kepala tanpa merenggut jiwa? Aku harus membuat tubuh bicara! Lihat foto-foto yang kusematkan, menurutmu bagus enggak?

—Julita

 

HALO Juli,

Aku senang dengar kamu beraktivitas lagi, tapi teruskan terapi ya. Begini deh, kalau kamu ingin begitu lagi, telepon aku, oke? Semalam apa pun.

Kupang sekarang relatif damai, sebab gereja langsung mengecam jemaah yang coba balas dendam atas pengeboman malam Natal yang lalu. Syukurlah. Kadang-kadang suasana memang tegang, juga karena di sini banyak pengungsi dari Timtim, tapi aku merasa aman.

Aku kerja di rumah sakit provinsi dan tinggal serumah dengan dua orang dokter lain yang juga PTT di sini. Aku suka foto-fotomu, terutama kedua tangan yang mempersembahkan bekas luka berbentuk bunga di telapak.

—Rizky

 

JE m’appelle Bela.”

Gadis etnis Tionghoa itu melambai ke sekeliling ruangan, poninya menyapu alisnya. “Saya ikut kursus karena akan melanjutkan sekolah pastri di Jenewa.”

Je m’appelle Desti.” Ia tomboi dengan rambut cepak dan wajah manis dengan pori-pori yang lebar. “Saya dua puluh empat tahun, belum lama ini saya melahirkan anak pertama. Saya senang sekali jadi ibu, tapi bosan tinggal di rumah seharian. Jadi, saya ikut kursus untuk cari teman baru.”

Je m’appelle Ibnu.” Ia tinggi dan berdada bidang, serta berotot lengannya. “Saya ikut kursus karena saya bakal pindah ke Paris bareng petit ami.”

Excusez-moi, Ibnu,” sela guru mereka, Madame Aryati, perempuan baya dengan selendang sutra ditata dengan apik di sekeliling pundak, “bentuk yang benar untuk Anda adalah yang feminin: petite amie. Anda mau bilang girlfriend, bukan? Jangan sampai keliru dengan boyfriend.”

Ibnu mengangguk, kemudian melepas cincin berbentuk U dari kelingking kiri dan menjepitkannya ke telinga kanan. Julita terpesona. Berani betul Ibnu membagi informasi itu di hadapan seruangan orang-orang tak dikenal, seolah bilang ia makan bubur ayam saat sarapan. Julita mengamati rekan-rekan sekelasnya. Laras bilang ia bekerja pada sebuah organisasi HAM, sedangkan Bowo bilang ia gagal masuk Akademi Militer dan kini mencari prospek karier lain.

Seusai kelas, Desti mengajak mereka semua minum kopi. Mereka menyeberang pekarangan pusat kebudayaan menuju kafe. Ketika Julita kembali dari toilet, Desti tengah bercerita, “Akhirnya bayi gue keluar juga, tapi muka dokter langsung pucat. ‘Kenapa bayi saya, Dok?’ gue tanya, cemas. Dia jawab, ‘Bayinya kok bule ya?’”

Sementara yang lain tertawa, Desti menjelaskan kepada Julita, “Suami gue orang Belanda, tapi dokter-dokter enggak tahu. Dia terlambat datang. Dasar, katanya kena macet.”

“Lu beruntung banget, Des,” kata Bela. “Orang-orang senang lihat pasangan campuran, kalau salah satunya bule. Waktu gue bilang gue naksir cowok pribumi, orangtua gue justru marah.”

Sekali lagi Julita terpesona.

“Hidup gue juga ada susahnya, Bel,” kata Desti, “tapi untung gue dan Adriaan sama-sama Kristen.”

“Menurut pengalamanku, berpacaran antaragama memang lebih sulit daripada antarsuku,” kata Laras, ia mengeluarkan sekotak permen dari dalam tas, menawarkannya kepada Bela, lalu menaruhnya di tengah meja. “Pacarku Katolik, dan aku Muslim. Kami ingin nikah sejak enam tahun lalu, tapi orangtua kami selalu bilang mereka enggak mau datang ke pernikahan.”

“Kenapa ya orangtua begitu?” desah Bela.

“Pacar pertama gue Muslim dan orang Jawa, sama dengan gue, tapi bapak gue tetap murka,” kata Ibnu.

“Karena dia cowok?” tebak Julita.

“Ya dong,” kata Ibnu, dengan bangga meluruskan kaus oranye ketatnya.

Bowo satu-satunya yang mengernyit. “Jelas ayahmu marah. Dia pasti kecewa. Apa kamu enggak kasihan? Kalau saudara-saudara dan tetangga-tetanggamu tahu, pasti dia malu.” Ia mendorong kursinya menjauh dan menyalakan rokok.

Pura-pura menggaruk pipi, Ibnu mencopot antingnya. “Udah bertahun-tahun Bapak enggak bicara sama gue, padahal gue sering telepon…”

“Udahlah, Bowo,” kata Laras, “sulit cari kebahagiaan di dunia ini. Kalau si Ibnu bahagia, masa kamu tega rampas?”

“Gue tahu tadi lu sengaja bilang petit ami,” kata Julita.

“Kalau lu, Jul? Lu punya pacar?” tanya Ibnu.

Julita menggeleng. “Gue punya teman dekat, tapi sekarang dia tugas di Kupang.”

“Kamu asalnya dari mana, Jul?” tanya Laras.

“Papa gue Jawa, Mama gue Madura,” jawab Julita, “tapi gue lahir dan besar di Jakarta.”

“Untung kalian enggak tinggal di Sampit ya?” kata Laras. “LSM-ku enggak berani ke sana. Kami coba bantu para pengungsi, tapi banyak yang enggak punya keluarga lagi di Madura. Mereka tinggal di Sampit seumur hidup, tapi bagi orang-orang sana mereka tetap pendatang.”

Bowo beringsut mendekat. “Bapakku kapten, ditempatkan di Poso,” katanya. “Ibu bersikeras ikut. Bulan lalu Ibu naik bus ke pasar, tahu-tahu ada kerusuhan, bus Ibu dikepung, didorong-dorong, mau dijungkirbalikkan. Tiba-tiba ada yang teriak, ‘Stop! Ada yang pakai jilbab di dalam!’ Para perusuh langsung bubar. Sampai sekarang aku terus ucap alhamdulillah Ibu pakai jilbab.” Bowo kini gemetar. Sambil berpegangan ke meja, ia berdiri. “Aku pulang ya. Ibu di rumah sekarang, beliau enggak suka ditinggal sendiri lama-lama.”

 

HAI Rizky, ini foto lengan kiriku. Kamu lihat sendiri luka-lukanya kering, dan enggak ada luka baru. Supaya kamu lebih yakin, ini kuikutkan foto lengan kananku. —J

Aku senang lihat foto-foto itu, Juli, tapi mana bisa aku yakin kamu enggak mengiris bagian tubuh yang lain? Ayo kirim foto seluruh tubuhmu! Kalau enggak, aku enggak akan bisa tidur karena cemas memikirkanmu. 😉 —R

Aku enggak pernah tunjukkan lenganku ke orang lain sebelumnya. Cukuplah itu dulu sekarang. Janji kamu enggak bakal tunjukkan foto-foto itu ke orang lain! —J

Aku janji, Juli. Bagaimana hari pertama kursus? Kata temanku ada ancaman bom di dekat kampus. Hati-hati. R

 

RABU setelah kursus, Desti mengajak teman-teman sekelas makan siang bersama.

“Kita ke kampus di seberang yuk,” kata Julita, “sobat gue bilang di belakang gedung geriatri ada warung pecel ayam terenak sekota.”

Meskipun hari terlalu panas untuk makan pedas, semua setuju, kecuali Bowo yang harus pulang untuk menemani ibunya. Saking teriknya matahari, jalan di depan pusat kebudayaan tampak berombak—mobil-mobil melesat bagai hiu baja di laut perak. Jauh di ujung jalan, Julita melihat selusin polisi menenteng pentungan dan perisai. Ia masih mengamati mereka ketika Bela menariknya ke tengah jalan.

“Naik jembatan yuk!” teriak Julita seraya sebuah mobil mengebut di hadapannya, menyipratkan debu ke wajahnya.

“Malas ah. Lebih cepat begini.” Bela melambai ke tiap mobil, menyuruhnya berhenti seperti guru dengan muridnya.

Desti mengamit lengan Julita. “Jangan takut, polisi terlalu jauh.”

“Gue enggak takut. Ayo kita lebih disiplin! Ini kan zaman Reformasi.”

“Terlambat.” Desti menunjuk Bela dan Ibnu yang melompati pagar pemisah jalan seperti pesenam unggul.

Akhirnya mereka tiba di gerbang kampus. Spanduk lebar membentang di atasnya: Kampus Perjuangan Rakyat. Rizky pernah bercerita kepada Julita dulu spanduk itu bertuliskan Kampus Perjuangan Orde Baru—tiga tahun silam mahasiswa menyobek spanduk lama dan memasang yang baru itu.

Lima menit kemudian, mereka menemukan warung yang mereka cari di belakang gedung geriatri, sarat dengan pelanggan. Ia tak berubin, hanya berisi meja dan bangku yang disusun mengelilingi tempat masak. Di sana seorang perempuan berkonde membungkuk di hadapan kompor yang mendesis tiap kali potongan ayam ia ceburkan ke dalam minyak. Seorang pria menumbuk tomat dan cabe jadi bubur merah darah.

Julita kira Bela dengan pakaiannya yang bermerk akan risih duduk di bangku kotor seperti itu, tapi Bela dengan ramah meminta orang-orang bergeser, lalu ia letakkan tas kulitnya di tanah di bawah tempat duduknya.

“Bel, bisa enggak lu bawa obat tradisional buat bantu suami gue naik berat badan?” tanya Desti setelah mereka memesan makanan. “Dia enggak suka makanan Indonesia, jadi dia kurus banget sekarang.”

“Wah, gue mesti tanya Papa soal itu,” kata Bela. “Gue coba ya.”

“Trims, Bel. Nanti gue kasih lu telur dari peternakan.”

“Lu punya peternakan?” tanya Ibnu.

“Peternakan telur di Sukabumi,” kata Desti. “Adriaan juga punya di Belanda. Kami ketemu waktu gue jenguk adik yang kuliah di sana. Waktu gue hamil, kami pindah ke Jakarta, sebab gue ingin tinggal dekat Mama.”

“Kalau lu, Ibnu? Kapan lu ketemu cowok lu?” tanya Julita.

“Kalau siang, gue penari tradisional,” katanya. “Grup gue tampil di Paris, terus malamnya kami bareng-bareng jalan ke bar yang katanya tempat kumpul nomor satu buat orang-orang kayak gue. Tadinya gue berharap banget dapat yang mirip Tom Cruise, tapi malah dapat yang tuwira. Ya udahlah, enggak apa-apa, Philippe sayang banget kok sama gue.”

Dari dompetnya Ibnu mengeluarkan potret seorang penari dengan kostum berbulu-bulu bekerlapan. “Kalau malam, ini gue,” Ibnu mengoper foto itu kepada Julita yang terjepit di antaranya dan Bela, “nama panggung gue Linda.”

Julita melongo. Ibnu memintanya mengedarkan foto itu ke teman-teman mereka, tapi Julita ragu. Diliriknya wajah-wajah asing berlumur keringat di sekitarnya, menyobek sepotong daging, menggigit putus kerupuk, sambal merah menetes dari jemari. Sesekali sebutir nasi atau seiris bawang goreng tersisa di pinggir bibir mereka, bagai seorang minoritas atau kambing hitam, yang kemudian mereka enyahkan dengan sapuan tangan.

Bela menyabet foto itu. “Lu cantik banget.”

Ibnu berseri-seri. “Kalau lu, Bel, di mana lu ketemu cowok lu?”

Sementara Julita meminta sendok dan garpu, Bela makan dengan tangan seperti orang-orang di sekitar mereka. “Di akademi kuliner di Kuala Lumpur. Namanya Anwar. Dia teman sekelas gue, dan kami sering jalan bareng setelah kuliah. Dia teman pribumi gue yang pertama. Teman-teman Tionghoa gue dulu sering bilang, ‘Bela, buat apa sih lu berteman dengan mereka?’ Gue jawab, ‘Kalau kalian enggak mau berteman dengan mereka, enggak usah kalian berteman dengan gue.’ Akhirnya teman-teman Tionghoa gue enggak punya teman, baru deh mereka mau gabung. Terus mereka bilang, ‘Lu benar, Bela, mereka baik.’”

“Kamu hebat, Bel,” kata Laras.

“Bukan salah mereka juga sih,” lanjut Bela. “Orangtua mereka pasti enggak beda jauh dengan orangtua gue, sering larang gue bergaul dengan orang pribumi.”

“Papa gue juga sering ngomong yang jelek-jelek tentang kalian—kalian sering curang di pasar, kalian pemakan babi,” bisik Julita kepada Bela.

“Kamu ada di sini waktu kerusuhan?” tanya Laras.

Bela mengangguk. “Waktu itu tiga bulan sebelum gue mulai kuliah di KL.”

Semua tahu apa yang ingin mereka tanyakan berikutnya, tapi mereka justru menyumpal mulut dengan nasi.

“Gue enggak diperkosa kok,” kata Bela, “tapi nyaris. Hari itu subuh-subuh kami lihat banyak orang berkerumun di muka perumahan, bawa-bawa linggis dan golok. Papa bareng tetangga laki-laki buru-buru bikin blokade dari ban serep. Ketika kerumunan tambah besar, Papa tuang bensin ke blokade, supaya bisa dibakar kalau orang-orang itu menyerang. Tiba-tiba kami dengar tembakan. Kata Papa orang-orang mulai berlari ke arah perumahan, jadi blokade Papa bakar. Terus, Papa lari pulang.

“Begitu sampai di rumah, Papa teriak, ‘Pakai pembalut sekarang!’ Kata Papa, kalau kami ditangkap dan mereka lihat kami pakai pembalut, mereka bakal jijik. Jadi aku, Adik, dan Mama pakai pembalut. Sementara itu, para perusuh sampai di luar. Mereka mendobrak rumah-rumah, menyeret barang-barang ke jalan. Ada jeritan di mana-mana.

“Papa suruh kami masuk ke dalam mobil. Sebelum bank-bank bangkrut, Papa sempat tarik uang, dan itu Papa simpan di koper. Koper ini Papa sambar. Kami berhasil meluncur, tapi enggak lama kemudian kami dihadang sebuah kerumunan lain yang menunggu di ujung perumahan. Mobil kami diguncang-guncang, digedor-gedor. Gue enggak bakal lupa muka-muka mereka—bukan seperti manusia lagi, udah jadi setan semuanya. Papa turunkan jendela mobil sedikit, lalu lempar bergepok-gepok uang ke luar. Orang-orang menghambur berebut uang. Jalan kami terbuka.

“Kami ngebut ke bandara. Karena enggak dapat tiket, kami menginap di sana seminggu. Setelah dengar berita bahwa kerusuhan udah reda, kami ambil risiko pulang. Begitu sampai, kami lihat rumah kami kosong dan hangus, juga banyak rumah lain, segala macam barang teronggok di jalan. Siapa pun pelakunya enggak pandang bulu lagi—rumah warga keturunan, pribumi, semua dibakar.”

Setelah lupa mengunyah, kini Julita dan kawan-kawan lupa segala kata. Namun, mata Bela tetap kering dan cerah. “Ayo makan,” katanya, “sekarang kami baik-baik aja.”

Tak tahu harus berkata apa, Julita merangkul Bela, lalu menyandarkan kepalanya di pundaknya.

 

RIZKY,

Cerita Bela memberiku inspirasi untuk pulang dan bicara dengan orangtua. Sambil minum teh di ruang tamu, kuceritakan pada Mama dan Papa tentang kursus Prancis dan Bela. Setelah ceritaku selesai, Papa menatapku telak di mata dan bilang, “Pantas kan mereka dibegitukan, orang Cina?”

Rasanya sama sakitnya andai ia menonjokku di perut.

Kurasa ia sengaja bilang begitu supaya aku tahu diri karena berani mengajari bapak sendiri. Tapi… ia kan tahu aku bicara tentang seorang teman, bukan berita nun jauh di sana.

Cepat sekali aku hengkang dari sana, tapi aku tahu sejauh apa pun aku lari, aku takkan pernah bisa lepas darinya—ayahku, asalku. Dalam darahku mengalir benih benci. Dalam bangsa kita mengalir sejarah benci. Kalau begitu apa jadinya aku? Apa jadinya kita?

Julita

 

Juli, angkat telepon!

Tolong angkat.

JULI, ANGKAT SEKARANG! AKU PERLU TAHU KAMU ENGGAK APA-APA.

Juli, kalau kamu enggak angkat, aku telepon Dr. Dhanita.

Jangan khawatir, Riz, aku cuma butuh tenangkan diri sedikit.

Aduh, juli, jangan salahkan diri sendiri. Benci bukan penyakit turunan. Ayahku juga sering ngomong seperti itu kok. Eh, itu justru bikin tambah sedih ya? Sori. Kita akan jadi sama sekali berbeda dengan orangtua. Kita generasi reformasi, ingat? Kita akan tulis sejarah baru.

 

HARI berikutnya, selepas kursus Julita dan kawan-kawan kembali bertandang di kafe. Seperti biasa, Desti asyik bercerita. “Kemarin Mama datang ke rumah bawa boneka beruang besar banget. Terus, Mama lihat Adriaan mengosek kamar mandi. Wah, muka Mama langsung merah. Mama minta maaf pada Adriaan, katanya itu semestinya tugas gue. Gue kena marah deh, padahal Adriaan sendiri bilang dia enggak keberatan membagi tugas rumah tangga.”

Sambil menggeleng-geleng, Bela mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya. “Ini foto gue dan Anwar dua tahun yang lalu. Jangan ketawa ya.”

Setelah teman-temannya mengangguk, Bela mengungkap foto itu: di depan sebuah bioskop, seorang pemuda berkumis merangkul Bela yang berbobot dua puluh kilo lebih berat.

Desti, Laras, Ibnu, dan Julita meledak tertawa.

“Sori, Bel,” kata Desti. “Kok bisa sih lu sekarang langsing banget? Lu pasti bertekad baja.”

Julita—mengenakan kaus lengan panjang yang terlalu panas untuk hawa yang gerah—memperhatikan Anwar menyandang tas bergambar kupu-kupu. Julita yakin itu milik Bela. “Dia kelihatan baik, Bel.”

Ibnu menunjukkan foto Philippe bersama anak perempuan dan laki-lakinya yang berusia remaja. “Philippe punya istri selama lima belas tahun, sebelum akhirnya dia mengaku bahwa dia orang kayak gue.”

“Kalian bisa menikah di Prancis?” tanya Laras.

“Seenggaknya kami bisa tinggal bareng,” kata Ibnu. “Gue bakal berjuang supaya kami bisa.”

“Terus, keluarga lu?” tanya Desti.

Wajah Ibnu yang percaya diri sekejap berubah mendung. Ia menunduk.

“Minggu depan aku mau ajak kyai aku ke rumah orangtua,” kata Laras. “Beliau enggak menentang pernikahan antaragama dan mau bantu kami. Beliau bilang sebaiknya aku jangan minta restu, sebab kemungkinan besar itu terlalu berat buat orangtua, cukup minta pengertian.” Laras menggenggam tangan Ibnu. “Aku enggak yakin pandangan beliau tentang… eh, orang-orang kayak kamu, tapi kalau kamu mau, aku bisa tanya. Siapa tahu beliau mau bicara dengan orangtuamu.”

Ibnu bangkit dan memeluk Laras dari belakang. “Aduh, trims ya, Ras.”

Sementara yang lain terus mengobrol, Julita menimba keberanian untuk bercerita kepada Bela tentang apa yang dikatakan ayahnya. Akhirnya, ketika yang lain beranjak pergi, Julita meminta Bela tinggal sebentar.

Di akhir cerita Julita, Bela berkata, “Janji ya, kita akan jadi lebih baik daripada orangtua kita.” Ia merangkul Julita, lalu menyandarkan kepalanya di pundaknya.

 

HALO Rizky,

Maaf aku buat kamu khawatir semalam. Aku terharu akan perhatianmu, tapi takut angkat telepon. Andai kamu di sini, mungkin aku enggak akan cerita semua yang telah kuceritakan kepadamu. Jauh lebih gampang mengetik di hadapan layar komputer daripada bicara langsung di hadapan manusia lain. Meskipun begitu, kemajuan besar bagiku mampu membagi masalahku dengan orang lain.Terima kasih kamu mau dengarkan.

Belakangan ini aku banyak memikirkan teman-teman sekelas. Pasti banyak pasangan lain seperti mereka, tapi kita jarang dengar. Seumur hidup kita diwanti-wanti agar jangan memunculkan hal-hal yang berbau SARA, tapi apa itu artinya? Kita tak boleh membicarakan perihal suku, agama, ras, dan golongan kita? Bukankah justru penting bagi negara sebineka Indonesia untuk membicarakan sumber identitas dan budaya warganya, serta bagaimana kita bisa membangun hubungan yang lebih kuat antara kita? Setelah tiga dekade Orde Baru yang mengagungkan stabilitas dengan mengorbankan keberagaman suara, akhirnya sekarang kita dapat mengekspresikan identitas dan kepentingan masing-masing. Namun, sepertinya kita belum belajar bagaimana menyuarakan kepentingan itu tanpa mengorbankan kepentingan orang lain, atau bagaimana membuat nilai-nilai kita dihormati tanpa memaksakan nilai-nilai itu pada orang lain. Jangan-jangan itu salah satu alasan sekarang banyak kerusuhan?

Aku ingin kita mampu bicara, dengan bebas dan sensitif, tentang perbedaan dan kesamaan kita. Aku ingin menawarkan potret cinta yang melampaui berbagai jenis penggolongan, supaya tidak melulu potret kekerasan antarkelompok yang kita lihat di media. Aku ingin memfoto teman-teman sekelas. Koleksi itu akan kuberi judul Us + Them.

Doakan aku berhasil.

—Julita

 

Satu tanggapan untuk “Us + Them (bahasa Indonesia)

  1. Ping-balik: Us + Them

Komentar ditutup.