(Pertama terbit di Koran Tempo, Minggu 7 September 2014. Versi bahasa Inggris terbit di Griffith Review no.49: New Asia Now.)

 

SESOSOK bayangan gempal jatuh pada buku tulisku. Ketahuan!

“Coba lihat buku catatan kamu!” perintah Pak Adnan.

Kucengkeram buku itu erat-erat, sampai ia mesti mencukilnya dari jemariku. Pak Adnan tidak peduli akan mata-mata yang memandang penasaran ke arah kami. Dibaliknya halaman demi halaman, berisi puisi-puisi yang kugarap sejak masih duduk di bangku SD. Bibirnya yang tebal berwarna ungu-kemerahan terkembang melecehkan. “Kamu tahu sekarang jam pelajaran Ekonomi?” Dengan jari telunjuknya ia menyuruhku mengikutinya ke muka kelas. “Bawa tas kamu!”

Ia duduk di meja guru, perut buncitnya menyembul di kolong. Kacamatanya jatuh ke hidung seraya ia menumpahkan isi tasku ke atas meja.

“Pak, itu kan barang-barang pribadi saya!”

Sebungkus pembalut berguling ke lantai. Pecah tawa seisi kelas.

Buru-buru kusambar barang itu. Pada saat yang sama, Pak Adnan beranjak menuju wastafel di antara pintu dan papan tulis. Diputarnya keran dan diguyurnya hingga kuyup buku kesayanganku itu.

Di rumah aku langsung lapor, “Enggak pantas kan, Ma, guru mengubek-ubek barang pribadi orang? Itu kan beri contoh yang buruk.”

Di ubin kamar tidur Mama buku puisiku terkapar, berlumur darah hitam dan biru. Sudah setengah jam aku berupaya menyelamatkannya dengan pengering rambut Mama.

“Mungkin dia pikir kamu simpan rokok atau narkoba,” kata Mama.

“Memangnya aku kelihatan kayak anak yang bawa rokok atau narkoba?” protesku. “Lagipula, apa barang-barangku harus dibongkar di depan kelas? Itu kan bikin malu.”

“Ya, salah kamu sendiri kan, tulis puisi pada jam pelajaran beliau?” Mama pikir ia dapat menghapus cemberut dari wajahku dengan mengelusnya. “Ya sudah, enggak usah kamu pikir bagaimana gurunya, serap aja ilmunya.”

Mama tak memperhitungkan betapa sukarnya mendengarkan seseorang yang tidak lagi kita hormati.

Sejak Pak Adnan menenggelamkan buku puisiku, tiga minggu setelah Revo memintaku menulis lirik lagu untuk band-nya, aku memutuskan hanya akan mengadukan kekesalan hatiku kepada Revo.

Sehari setelahnya, motor Pak Adnan dipreteli—hingga ke suku cadangnya.

 

DUA tahun silam, beberapa bulan sebelum aku lulus SD, Mama bilang akan memasukkanku ke sekolah Islam. Aku menentang, mengambek, dan menangis. Aku membayangkan mesti tinggal di asrama yang lembap dan pengap, tidur bersesakan dengan lusinan anak perempuan dari kampung, mengaji seharian hingga serak, dan dipaksa memakai jilbab setiap hari. Aku ingin meneruskan ke SMPN unggulan bersama kedua sahabatku.

Aku tak habis pikir mengapa orangtuaku ingin memasukkanku ke sekolah Islam. Kami salat dan pergi ke masjid untuk mengaji, tapi Islam hanyalah salah satu dari banyak sendi kehidupan keluarga kami. Kami mengucap halo, bukan assalamu ‘alaikum, ketika mengangkat telepon; Mama senantiasa mengingatkanku untuk berdoa dan mengucap bismillah sebelum menggarap ujian, tapi jangan lupa belajar. Warga Islam marah karena CNN menayangkan gambar mereka rusuh membawa-bawa golok? Tanggapan Papa: “Kalau enggak mau diberitakan rusuh bawa-bawa golok, ya jangan rusuh bawa-bawa golok!”

Aku curiga keputusan Mama itu lebih berkaitan dengan keprihatinannya akan tindak “kenakalan remaja” yang makin lama makin sering diberitakan di televisi dan koran. Geng anak-anak SMA mengklaim wilayah dengan menyemprotkan nama geng mereka pada papan-papan iklan, telepon umum, dan jembatan penyeberangan. Ketika anggota sebuah geng lain memasuki wilayah geng yang pertama tadi, bentroklah keduanya. Bersama kawan-kawan yang “solider” mereka baku hantam di jalan raya hingga lalu lintas macet dan ada mobil yang terbakar.

Mama bilang ia lebih senang kehilangan tabungan daripada kehilangan anak. Tak ada tawar-menawar lagi bagiku. Aku akan dimasukkan ke sebuah sekolah swasta Islam di Bekasi, Jawa Barat. Cukup jauh dari ibukota yang luas, tapi hanya satu jam naik mobil antar-jemput dari rumah kami di ujung timur Jakarta. Segala upayaku cemberut dan mengambek tak mempan menembus mantapnya keputusan Mama-Papa.

Ujian Nasional berlangsung di bawah pengawasan guru-guru dari SD lain, begitu peraturannya, barangkali supaya guru-guru tidak dengan sengaja mendongkrak nilai murid-murid sendiri agar sekolah tidak turun peringkat dan terus mendapat dana yang sehat dari pemerintah. Namun, guru-guru ternyata lebih lihai. Baru setengah jam kami menggarap ujian mata pelajaran pertama, teman sebangkuku menggulirkan segumpal kertas ke arahku. Tak ingin kena masalah, lekas-lekas kutepis kertas itu.

“Heh, itu dari Bu Guru, tahu?” bisik teman sebangkuku.

Benar saja, kuangkat kepala dan kulihat guru pengawas menuliskan sesuatu, kemudian meminta seorang anak yang duduk di baris depan untuk mengedarkannya. Jika masih ada yang belum jelas, kata Bu Guru, kami tinggal angkat tangan dan beliau akan memberitahu jawabannya. Mulutku melongo selebar moncong buaya. Aku hanya bisa menerka guru-guru kami pun melakukan hal serupa di sekolah tempat mereka menjadi pengawas. Sepanjang minggu di kelasku bola-bola contekan berlompatan dari sudut ke sudut, seperti bakso di penggorengan.

Pada penghujung hari pertama ujian, Bu Kepala Sekolah menjulurkan kepalanya yang berkacamata tebal ke kelas kami dan berpesan, “Kalian enggak usah bilang-bilang orangtua ya bahwa guru-gurunya baik!”

Namun, tentu saja aku bilang.

Kata Mama, “Ya, enggak apa-apa, kan? Kalau kamu dapat nilai bagus, kamu juga yang untung.”

“Kalau begitu aku main ya, Ma? Buat apa belajar?”

“Jangan begitu, Vita! Kamu harus tetap belajar, jadi ilmu dapat, nilai juga dapat.”

Setelah pekan UN usai, aku setuju dimasukkan ke sekolah Islam.

 

SEKOLAH baruku ternyata sama sekali tidak seperti pesantren-pesantren dalam bayangan. Gedungnya bertingkat tiga dengan dua lengan memeluk pelataran semen tempat tiang bendera ditancapkan, di hadapannya terbentang lapangan olahraga dengan dua gawang sepakbola dan keranjang basket. Ada kamar mandi perempuan dan laki-laki di tiap lantai, perempuan di ujung lengan kanan bangunan dan laki-laki di ujung lengan kiri. Di kantin terbuka sederet warung menjajakan makanan mulai dari mi ayam dan teh botol hingga roti isi dan es krim. Ada perpustakaan, lab IPA, dan lab komputer—semua ruang kelas ber-AC. Sekolah menggunakan kurikulum nasional, dengan tambahan pelajaran Studi Alquran, Sejarah Islam, dan bahasa Arab. Memakai jilbab hanya wajib tiap hari Jumat, walau guru-guru perempuan wajib memakai setiap hari. Hanya separuh dari total cewek di tiap kelas yang memilih memakai jilbab setiap hari. Cowok-cowok dipersilakan memakai celana panjang seperti siswa SMA—dan aku senang banyak memilih begitu, sebab mereka jadi tampak lebih dewasa dan lebih ganteng.

Kami mengawali dan mengakhiri tiap hari dengan doa. Tak seperti ketika SD dulu, tiap kali kami berdarmawisata kami selalu berhenti di masjid setelah azan disiarkan. Aku senang dapat menanyakan kepada guru perihal perspektif Islam tentang macam-macam hal. Aku bahkan senang mempelajari Sejarah Islam dan Studi Alquran. Ternyata asyik juga cari tahu asal-usul ajaran agama dan menguak makna ayat-ayat yang selama ini hanya kubaca tanpa kumengerti. Lain lagi dengan bahasa Arab, membosankan, tapi, ah, hanya dua jam pelajaran seminggu.

Di belakang sekolah ada kebun yang hanya ditunggui sebatang pohon pepaya dan beberapa pucuk pohon singkong. Anak-anak yang terlambat sering memanjat pagar seng yang membatasi halaman belakang sekolah dengan kebun kosong itu. Gerbang sekolah ditutup tepat pukul tujuh—satu-dua kali terlambat, murid masih dibolehkan masuk kelas setelah membayar lima ribu rupiah dan melafalkan beberapa ayat Alquran. Setelah tiga kali terlambat, murid tersebut bakal dipulangkan dengan catatan dari guru jaga yang harus ditandatangani orangtua lalu diserahkan kepada wali kelas. Setelah tiga kali dipulangkan, siswa tersebut bakal diskors. Setelah tiga kali diskors akan dikeluarkan.

Namun, karena jendela-jendela sekolah tidak berjeruji, anak-anak yang terlambat dapat menyelinap masuk ke dalam kelas saat pergantian pelajaran.

Setelah dua tahun mencicipi berbagai macam bumbu kehidupan remaja di sekolah ini, aku bisa bilang bahwa anak-anak di sekolah kami cukup solider, apalagi kalau dikoordinasi oleh Kardus, geng yang paling disegani di sekolah. Dan karena banyak guru tidak lebih baik daripada Pak Adnan.

Siapa yang belum pernah dengar Pak Haris, guru sejarah, mengata-ngatai siswa “bangsat”, “kunyuk”, bahkan “anjing”? Bu Rahayu, guru geografi dan perawan tua, senang membelai-belai anak-anak cowok yang ganteng. Pernah sekali dia mencoba memeluk Eris, wakil ketua Kardus, tapi Eris langsung menghardiknya, dan setelah itu Bu Rahayu tidak berani lagi menyasarnya. Pak Bimo, guru olahraga yang lebih sering kita panggil Bemo atau Bi-Je (singkatan dari Bibir Jeber), tak kalah parah. Sepertinya ia pernah dengar anak-anak Kardus memanggilnya Bi-Je, sebab tiap giliran mereka berpraktik—menyervis bola voli, menendang bola ke gawang—dia justru membuang muka, lalu asal memberi mereka nilai lima, sekalipun servis atau tendangan mereka sempurna. Suatu hari, saat pelajaran basket, bola yang berat itu menghantam kepalanya hingga ia tersungkur. Tak ada yang mengaku atau mengadukan siapa yang melempar bola itu.

Ketua Kardus, Revo, tegap dan menggetarkan seperti tombak. Ia berkulit gosong, berambut keriting cepak, jangkung, dan begitu berotot hingga ia sering pamer push-up dengan satu lengan di depan kelas. Ia termasuk alim, sering bilang hal-hal seperti: “Kalau lu mau badung, badung deh, tapi jangan bawa-bawa agama. Yang busuk itu manusia, bukan Tuhan.” Dalam band ia main gitar dan jadi penyanyi utama.

Wakil ketua Kardus, Eris, adalah pangeran tampan sekolah kami. Ia tinggi, putih, berdada lebar, dan bertampang begitu manis hingga rasi jerawat di kedua pipinya tak berdaya merusak pesonanya. Dia punya tiga-empat pengagum di tiap-tiap kelas, mulai dari kelas 7A sampai kelas kami 9D. Meskipun demikian, tak pernah kudengar ia PDKT, menembak, atau jadian dengan cewek mana pun. Dalam band ia bermain gitar dan, dengan suaranya yang mendayu, jadi penyanyi pendukung.

Ada pula Hektor—boneka beruang dalam tubuh King Kong—jangkung, berahang persegi, dan tampan dengan garis-garis wajah yang keras. Lengan dan kakinya berbulu tebal, jalannya sedikit bungkuk. Ia enam belas tahun, sudah dua kali tinggal kelas. Hektor menabuh drum untuk band dan hanya menyanyi saat mereka memainkan lagu “Creep”.

Lalu, ada Ilham, pemain bas yang dijuluki ‘otak Kardus’ karena ia satu-satunya anggota geng yang selalu masuk sepuluh besar. Ia kelihatan seperti korek api albino, matanya berkilau seperti lantai yang baru dipel, ujung-ujung rambutnya ditata runcing membingkai wajahnya. Sering kudengar Ilham mengingatkan anak-anak geng agar nilai mereka tidak sampai jeblok, sehancur apa pun mereka ingin bertingkah, sebab kalau nilai kita masih di atas enam pihak sekolah tidak akan merecoki kita.

Selain keempat anak yang membentuk band, Kardus memiliki sekitar tiga belas anggota lain yang tersebar di kelas 9A sampai 9D. Tahun ini kebetulan Revo, Eris, Hektor, dan Ilham sekelas denganku dan sahabatku Dara.

Sejak pertama kali melihat Revo, aku jatuh cinta kepadanya. Kupikir dia paling seksi seantero sekolah, dan aku selalu ikut kepanasan tiap melihat dia keringatan. Aku yakin ia sanggup menghajar hingga babak-belur siapa saja yang berani menyikut dadaku. Anak-anak cowok gemar pura-pura membuka sumbat botol atau melepas cincin atau terang-terangan saja menyikut dada anak perempuan di sebelahnya yang masih serupa benjol yang rawan kemerahan. Mereka sepertinya tahu kita dididik untuk malu, untuk berpura-pura kita baik-baik saja ketika mereka menyeringai melihat wajah kita yang meringis kesakitan sambil berkata, “Eh sori, enggak sengaja. Lu enggak apa-apa, kan?” Dan mereka pun semakin senang menyikut.

Tak pernah kudengar ada cewek lain yang menaksir Revo, mungkin karena cewek-cewek di sekolah ini lebih suka tipe cowok yang manis, seperti Eris, atau karena Revo memang sudah punya pacar. Namanya Elok, anak 9A yang berparas imut-imut seperti anak kecil, bertubuh pendek tapi montok, rambutnya lurus sebahu, bibirnya penuh dan kemerahan. Heran aku setengah mati kenapa Revo yang ditakuti semua orang bisa jatuh hati kepada Elok yang kekanak-kanakan. Saking sayangnya, Revo bahkan menulis dengan spidol pada tas ranselnya yang kuning lemon: REVO + ELOK. Andai anak Kardus lain berbuat begini, pasti diledek habis-habisan.

Karena cowok sekeren Revo tak pernah melirik cewek se-kuper aku, hanya dari jauh aku mengaguminya. Aku datang ke tiap pensi tempat bandnya manggung dan diam-diam memfotonya pakai lensa zoom. Makanya, waktu Revo menghampiriku saat pelajaran Fisika, tiga minggu sebelum buku puisiku direndam oleh Pak Adnan, seuntai petasan meledak di dadaku.

Bu Jannah tengah berupaya keras memancing perhatian kami, minggu lalu dengan teka-teki silang, minggu ini dengan mengadakan kuis survei seperti di televisi. Percuma, tak ada yang memedulikan, kecuali lima kutu buku yang duduk di baris depan. Di baris belakang, Eris, Revo, dan Hektor bermain gitar dan bernyanyi.

Saat itu Bu Jannah baru sebulan setengah mengajar di sekolah kami. Awalnya ia masih suka menegur dan melaporkan anak-anak Kardus kepada Bu Ning, wali kelas kami. Bu Jannah juga sudah mengajak anak-anak Kardus bicara. “Bakat kalian ini kan sudah ada wadahnya yang benar,” katanya. “Jangan disalurkan saat pelajaran Ibu!”

“Apa coba, Bu, wadahnya yang benar?” tantang Hektor. “Mata pelajaran kesenian tiap minggu cuma suruh kita menghafal nama-nama alat musik tradisional. Usul bikin ekskul band ditolak, dibilang haram.”

Akhirnya, Bu Jannah tinggal mengeluh sendiri. Aku sebenarnya bersimpati kepadanya, sebab meskipun membosankan setengah mati dan bersuara parau seperti gagak, dia bukannya tidak berusaha. Bayangkan hina yang ditahankannya—ketika ia menggambar teka-teki silang di papan tulis, di balik punggungnya Eris dan Revo dengan berisik menggeser meja dan kursi supaya bisa main gitar. Karena itu diam-diam aku memperhatikan.

Aku tengah menghitung jarak bayangan sebuah benda yang diletakkan di depan sebuah cermin cekung ketika tahu-tahu Revo berdiri di hadapanku. “Kata orang lu nulis puisi ya?”

Jantungku terlonjak seperti kesetrum. “Eh, iya.”

“Boleh lihat enggak?”

“Heh?”

“Kita mau ikut perlombaan band se-Jabotabek bulan depan, tapi persyaratannya harus punya lagu-lagu orisinil. Gue pikir barangkali syairnya bisa pakai puisi lu.”

“Oh.” Aku rela lakukan apa saja demi bicara dengan Revo, tapi bagaimana jika Revo mengenali dirinya sebagai sasaran harapan si tokoh ‘aku’ dalam puisi-puisiku? Bisa mati aku tertiban malu. “B-boleh.”

“Katanya lu udah punya satu buku. Atau malah online?”

“Kata siapa?” Tolong Tuhan, jangan biarkan Revo temukan blogku yang sengaja kubuat anonim.

“Ada apa enggak?”

“Ada.”

“Ada sekarang?”

“Wah, kalau sekarang enggak.”

“Besok bawa ya.”

“Oke.”

Begitu saja, Revo kembali ke baris belakang dan membisikkan sesuatu kepada Eris.

 

MALAM itu aku dan sahabatku Dara menonton klip lagu-lagu yang sering Kardus mainkan di kelas, lagu-lagu band seperti Sex Pistols, Marjinal, SID, Homicide, dan the Dead Boys. Liriknya banyak yang bikin seram, tapi kemudian kubayangkan betapa lezatnya ketika kita sama sekali tak peduli apa yang orang lain pikir tentang kita.

“Menurut lu Revo dan Eris juga begitu? Cari mati muda, pakai narkoba, main seks bebas?” Dara pucat membayangkannya. Ia menaksir Eris sejak kelas 7, kadang-kadang kami mereka-reka skenario pergi tur bersama band, atau menempuh misi rahasia bersama Eris dan Revo. Skenario itu biasanya berakhir dengan Dara dan Eris atau aku dan Revo terjebak dalam sel bawah tanah. Karena malam luar biasa dingin, lantai lembap dan tercemar kotoran tikus, sementara hanya ada satu kasur di sana, kami tak punya pilihan kecuali berbaring berdekatan. Awalnya hanya untuk menjaga suhu tubuh, tapi ketika tentakel matahari menjulur masuk melalui jeruji jendela dan membelai kening, kami membuka mata, saling menatap, dan jatuh cinta. Lalu kami berciuman. Sedikit.

“Ya Allah, semoga enggak deh,” jawabku.

“Tapi lu enggak tahu, kan?”

Dara benar. Hatiku bergidik mengakuinya. Bagaimana bisa aku tulis lagu untuk Kardus sementara aku tak tahu apa-apa tentang kehidupan mereka?

Setelah Dara pulang, kutengok buku puisiku—syair-syair tentang anak perempuan kesepian—dan menghela napas sedih… Mana mungkin band punk seperti Kardus sudi menyanyikan lirik-lirik seperti ini?

 

KEESOKAN paginya kuserahkan selembar puisi—dan nasibku—ke tangan Revo. Hasil semalam suntuk mendera otak, mencambuk jemari, dan menggigit-gigit bibir di depan komputer. Aku menulis tentang sekelumit yang kuketahui dengan Revo: betapa kuatnya ia dan mengapa kira-kira ia merasa perlu jadi sekuat itu. Jangan-jangan Revo sering merasa enggak aman, enggak ada yang melindungi dia, bahkan orangtuanya sekalipun. Mungkin dia sekadar ingin bisa berbuat sesuka hatinya—main gitar di kelas dan meneriakkan nama cewek tercintanya ke seluruh dunia—tanpa seorang pun mengusiknya. Mungkin dia hanya ingin hidup bebas. Tentang itulah aku menulis.

“Gue enggak paham punk,” kataku kepadanya, “tapi gue berusaha tulis satu puisi yang… terinspirasi dari bagaimana gue lihat kalian di sekolah. Selain yang satu itu, kebanyakan puisi gue tentang… kehidupan remaja cewek… Mending gue tulis puisi-puisi baru buat Kardus.”

Habis kuremas-remas, jemariku mati kesemutan. Kurang tidur membuat kepalaku pening—dunia terlihat buram bertabur noda hitam.

Revo mengambil lembar puisi yang kusodorkan dan menunjukkannya kepada Eris, Hektor, dan Ilham. Dari tempat duduknya di baris kedua dari depan Dara mengedip kepadaku.

Seolah dalam gerakan lambat, Revo kembali ke mejaku. “Entar sepulang sekolah lu jangan ke mana-mana ya? Gue mau coba buat melodinya. Sambil lu baca puisi, gue main musik, terus kita lihat hasilnya. Oke?”

Kulumat bibir agar tidak bersorak, tapi pasti wajahku sudah berkelap-kelip laksana lampu iklan. Tak mampu membuka mulut, aku cuma mengangguk-angguk.

Setelah Revo kembali ke tempat duduknya, sekilas kuacungkan jempol ke arah Dara. Ia menutup mulutnya setelah sekilas jeritan senang lolos, lalu ikut merayakan dengan mengayun-ayunkan tinju di depan dada.

Aku tak percaya! Hidupnya akhirnya mulai juga.

 

SEPULANG sekolah, anak-anak Kardus dan aku tetap tinggal di kelas untuk menggarap lagu. Mereka semua melepas kemeja dan mengungkap kaus bergambar logo band kesayangan—ada yang pakai Crass, Jeruji, Conflict, the Exploited, Bad Religion, dan banyak lagi. Karena aku tak memakai apa-apa kecuali singlet di balik kemejaku, cuma aku yang terpaksa tetap berseragam.

Mulanya aku merasa seperti penonton yang datang terlambat ke bioskop, film sudah separuh jalan dan aku tak mengerti apa-apa yang dibicarakan para tokohnya. Mereka menyebut-nyebut kerja sambilan di bengkel, lalu ibu Eris yang dirawat di rumah sakit.

Nyokap lu sakit apa, Ris?” Nekad aku melompat ke dalam layar.

“Kanker payudara,” katanya.

Astafigrullah. Udah stadium berapa?”

Sesal melintas di matanya. “Lu jangan bilang-bilang Dara atau orang lain ya? Kalau kabar sampai tersebar, gue anggap lu bertanggung jawab.”

“Iya, Vit,” sambung Revo. “Apapun yang nanti lu lihat atau dengar tentang kita, jangan lu kasih tahu ke orang lain. Kalau sampai ada cerita yang bocor di sekolah, gue bakal langsung curiga sama lu.”

“Lu kira gue comel?” kataku, lalu menoleh kembali ke Eris. “Gue ikut prihatin, Ris. Lu mau coba tulis lagu buat nyokap lu?”

Eris mempertimbangkannya sejenak, lalu menggeleng. “Nyokap gue enggak setuju gue ikut band. Dia ingin gue konsentrasi sekolah.”

“Siapa tahu kalau kita bikin lagu khusus buat dia, dia bakal jadi senang? Band punk juga bisa punya satu lagu slow, kan?”

“Gue mau sih,” kata Eris. “Seandainya enggak cocok buat Kardus pun enggak apa-apa. Buat gue sama adik-adik gue aja.”

“Sip deh,” kata Revo. Ia menyeret sebuah kursi ke antara Eris dan aku, lalu menjatuhkan diri ke sana. Kuhirup kehangatan maskulin yang menguar dari tubuhnya. “Tapi tunggu ‘Rantai’ beres, ya?” Itu judul puisi yang kutulis khusus untuk Kardus.

Eris mengacungkan jempol dan menengok ke arahku. “Trims ya, Vit.”

“Menurut gue, chorus-nya jangan terlalu rumit,” kata Revo. “Gue suka lompat-lompat waktu nyanyi, kalau kata-katanya rumit bisa-bisa gue kehabisan napas.”

“Beres.”

“Gue suka bait kedua,” kata Eris, “menurut gue itu bikin lagunya tambah dalam.”

Kurasakan mawar mekar di pipiku. “Trims, Eris.”

“Jadi, gimana chorus-nya?”

“Gue punya ide, tapi… Boleh gue tanya sesuatu? Jangan marah ya.”

“Oke. Apa?”

“Apa kalian memandang diri sebagai anak badung?”

“Iya dong!” jawab Revo lantang. “Buat apa jadi anak baik? Bosan. Jadi anak badung kan seru.”

“Badung sih oke aja,” kata Ilham, “tapi gue enggak setuju kalau orang bilang kita tersesat. Cuma karena jalan kita beda, bukan berarti kita tersesat, iya enggak?”

“Yep,” sahut Eris.

“Lu enggak takut dicap jelek?” tanyaku lagi.

“Sejak gue merangkak gue udah dicap jelek, tapi gue masih hidup aja,” Revo menyergah.

Bagiku sore itu seperti kencan yang sempurna. Akhirnya aku dapat berbincang-bincang dengan Revo dan mendengar bagaimana ia memandang dirinya. Aku merasa kasihan kepada Dara—ia ingin sekali berada di sini, tapi ketika kutanya apakah ia boleh menemaniku, Eris bilang, “Sori, khusus anak-anak geng.”

Ketika Revo dan Eris sibuk mencoba macam-macam melodi, aku bertanya kepada Lena, Intan, dan Selin apakah Elok bakal bergabung.

“Elok enggak pernah gabung kita,” kata Intan. “Mana boleh sama Revo?”

“Biasa, cowok munafik kayak begitu,” kata Lena.

“Gue pernah ketemu Elok waktu Kardus manggung,” kataku.

“Oh, kalau waktu band manggung, Elok pasti nonton,” kata Selin. “Eris juga bawa adik-adiknya nonton Pensi, tapi enggak pernah ke acara-acara geng.”

“Kalian sendiri enggak risih jalan bareng geng?” tanyaku.

“Kita kan enggak kayak Elok,” kata Lena.

Aku sedang mencoba membangkitkan nyali untuk bertanya sudah sejauh mana mereka berpacaran, ketika tiba-tiba Selin memekik, “Ya ampun, gue punya ide jenius!” Ia mengeluarkan seperangkat spidol dan kuas dari tasnya. “Gue mau gambar cap jelek di jidat lu. Mau ya?”

Revo sontak mengakak. “Mau, mau! Cap gue ‘pembangkang’!”

“‘Creep’ buat gue,” kata Hektor.

“‘Anak durhaka’,” timpal Eris lirih. Wajahnya mendung seketika.

“‘Calon preman’, ‘begundal’, ‘sampah masyarakat’, ‘anarkis’,” usul Ilham. “‘Playboy’ buat Dex.”

Dex menyeringai bangga.

“‘Jelek’ buat Emil,” kata Ilham lagi.

“Sialan lu!” Yang diledek menyahut.

“Buat si Lena ‘perek’,” kata Dex, disambut tawa yang lain.

Lena tidak tertawa. “Siapa yang lu katain perek, hah?” Mulutnya menjelma angin puyuh, mukanya semerah api neraka. “Berani lu ngatain gue?”

“Len, say, ini kan maksudnya biar apapun yang orang bilang tentang kita, kita enggak bakal jatuh. Lu juga jangan jatuh dong.” Ilham merengkuh pundaknya.

Lena justru menjorokkannya dengan kedua tangan. “Kenapa lu malah bela dia? Lu kan cowok gue, lu seharusnya bela gue!”

“Iya, Len, santai,” kata Dex lagi. Ia masih menyengir ketika Lena menyambar sebuah buku tebal dari atas meja dan menimpuk Dex.

Sedetik kemudian baru kami menyadari buku itu ternyata salah satu Alquran yang terletak di tiap meja.

Revo bangkit. “LEN, APA-APAAN LU!”

“Diam lu semua!” Gempa melanda tubuh Lena, ia tampak seperti tiang yang sewaktu-waktu akan runtuh. Disambarnya tas, lalu ia berlari pergi.

“Len!” Ilham mengejarnya. “Jangan baper begitu dong!”

Sepeninggal mereka, kami saling memandang dengan tak enak.

Ilham dan Lena tidak kembali siang itu.

 

SELAMA ini yang menganggap tulisan-tulisanku bagus hanya Pak Dewo. Bukannya mengulang-ulang teori majas metonimia dan kalimat deduktif, ia menugaskan kami membaca dan menulis. “Cari dua buku sastra Indonesia klasik mana saja, lalu tulis laporan mencakup plot, karakter, latar, sudut pandang, dan moral.” Setelah laporan kami kumpulkan, Pak Dewo bercerita ia nyaris dipecat karena sekolah menganggapnya “lancang” menugaskan siswa membaca ‘buku dewasa’. Sejak saat itu ia hanya melatih kami menjawab soal-soal di buku ajar.

Aku sedih banyak anak mengatainya bencong hanya karena Pak Dewo memakai maskara dan menyisir rambut dengan jeli. Barangkali juga karena jalannya agak melenggang dan ia menunggu hingga berusia tiga puluh tujuh tahun sebelum menikah. Pada cawu terakhir kelas dua, ia mulai menyebut-nyebut telah punya “adik ketemu gede”, dan setelah ia membagikan undangan pernikahan kukira anak-anak bakal berhenti mengatainya bencong. Namun, setelah kami naik kelas tiga, bukannya menginspirasi kami untuk “meneriakkan luapan barbar dari atap-atap dunia”, seperti Pak Keating dalam Dead Poets Society, Pak Dewo malah jadi gemar menghantam siswa—awalnya dengan tangan terbuka, lalu dengan buku, kemudian, seminggu setelah Revo menghampiriku, Pak Dewo menghantam dengan sepatu anak yang dipergokinya membolos salat Jumat.

Revo bersimpati kepada Zaki, anak yang dihantam, maka Senin berikutnya Revo mencanangkan Gerakan Tutup Mulut (GTM) di sekolah: barangsiapa yang berani memperhatikan pelajaran Pak Dewo, apalagi menjawab atau mengajukan pertanyaan, bakal berurusan dengan Kardus.

Revo mengawasi kelas kami, sementara Jimbonk, Dex, dan Ryan masing-masing memastikan pelaksanaan GTM di kelas IIIA, B, dan C.

Tak sampai sepuluh menit setelah bel tanda masuk berbunyi, Pak Dewo sadar ada yang tak beres.

“Kenapa kalian semua menunduk begitu?”

Tak ada jawaban.

“Bapak mengerti kalian marah Bapak memukul teman kalian. Yang Bapak lakukan itu memang berlebihan, tetapi wajib,” katanya, “supaya kalian lihat apa yang bakal terjadi kalau kalian berlaku serupa. Dalam masyarakat kita, jika kita ingin hidup dengan damai, kita mesti mematuhi peraturan. Hati Bapak sakit harus menempeleng teman kalian seperti itu, tapi dia memang harus dikorbankan. Sebagai tumbal! Sebagai contoh buat kalian yang menganggap remeh ketaatan beribadah, buat kalian yang menolak mendengarkan guru. Buat kalian pembangkang!”

Pak Dewo mencoba meneruskan pelajaran, tapi tetap tak ada yang mengangkat wajah. Lambat-laun suaranya semakin bercampur sesenggukan. Ia akhirnya berlari keluar kelas sambil menyumpah-nyumpah.

Mewek deh dia di kamar mandi,” celetuk Revo. “Lihat enggak kalian? Maskaranya luntur semua.”

Anak-anak justru semakin curiga Pak Dewo sungguh-sungguh bencong, dan karena itu butuh membuktikan kejantanannya, tapi—karena bencong—ia tak berani menantang pria dewasa, makanya ia menyasar anak-anak.

 

SEHARI setelah GTM dicanangkan, begitu bel istirahat pertama berdering, Revo lekas-lekas bangkit dari kursinya dan menghalangi pintu keluar. Ia meminta kami tetap tinggal di kelas untuk merundingkan tuntutan-tuntutan yang akan ia ajukan kepada Pak Dewo. Ia bilang ia ingin mencoba mencari jalan keluar untuk mengakhiri GTM, dimulai dari kelas kami dahulu, dan jika berhasil ia akan menyebarkannya ke kelas-kelas lain.

Anak-anak mengeluh dan memutar mata, tapi segera menurut karena ingin cepat keluar.

“Oke, gue pikir sebaliknya kita fokus pada tiga tuntutan, biar jelas dan enggak terkesan berlebihan. Kita kasih judul ‘Trituwa’—tiga tuntutan siswa, keren kan?”

Beberapa anak menyahut: “Boleh juga tuh.” Ada yang bilang: “Keren!” Beberapa yang lain lagi menggerutu: “Whatev!” Para kutu buku di baris depan melirik tak tentu.

Sekar, ketua OSIS, mengangkat tangan. “Revo, nanti kalau kita kena masalah gimana?”

“Iya, Revo,” sahut Zaki, anak yang dihantam Pak Dewo. “Gue berterima kasih banget lu peduli sama gue, tapi gue enggak mau nanti masalahnya tambah runyam.”

“Enggak usah khawatir. Kalau ada masalah, gue yang tanggung,” kata Revo. “Lagipula, gue enggak berbuat begini cuma buat bela lu,” tambahnya kepada Zaki. “Gue enggak mau hal serupa terjadi lagi. Jadi, menurut gue, tuntutan pertama jelas ‘enggak boleh menggunakan hukuman fisik terhadap siswa’. Setuju?”

“Setuju!” sahut teman-teman.

“Yang kedua?” undang Revo.

“Gue enggak suka guru pakai kata-kata kasar terhadap siswa, ‘anjing’ lah, ‘babi’ lah,” kata Eris. “Enggak pantas itu menurut gue.”

“Setuju,” sahut Dara.

“Yang lain setuju?”

Teman-teman menyetujui. Revo menuliskannya sebagai tuntutan nomor dua.

“Terus?”

“Gue sih paling risih kalau guru ngadu ke ortu,” kata Hektor. “Mereka kan enggak tahu situasi rumah kita kayak apa.”

Lena unjuk jari. “Gue enggak suka guru asal geledah barang-barang pribadi. Apalagi sampai geledah badan. Iya enggak?”

“Iya!” aku menyahut.

Revo menuliskan kedua tuntutan itu di papan tulis.

“Menilai mesti yang adil,” kata Sekar.

“Ya, enggak boleh pilih kasih!” timpal Dara.

“Sebentar, sebentar, gue tampung dulu semuanya,” kata Revo sambil menuliskan usul-usul itu seperti seorang maniak. “Apa lagi?”

“Jangan mengecap jelek seseorang,” kata Gita, langganan ranking satu yang duduk di meja tengah baris depan.

“Enggak boleh munafik: larang siswa merokok tapi sendirinya merokok,” kata Germo (nama aslinya Geri), ketua kelas kami yang duduk di depan Revo.

“Boleh cabut seminggu sekali,” kata Eris lagi.

“Heh, serius nih!” kata Revo. “Teman-teman lain punya usul enggak?”

Kelas hening sejenak, hingga Sekar berdiri lagi. “Ayo dong, ada tuntutan yang lain enggak? Kalau enggak, kita istirahat.”

“Enggak ada,” teriak beberapa. “Udah cukup.” “Istirahat dong!”

“Lha, ini ada banyak tuntutan, tapi cuma ada tiga tempat,” kata Revo. “Yang mana yang mesti diutamakan?”

“Terserah lu deh,” keluh Feby, didukung oleh teman-temannya yang sama-sama kelompok glamor. “Gue lapar, tahu?”

“Ya udah,” kata Revo. “Yang mau istirahat, keluar gih.”

Bangkitlah sebagian besar isi kelas, berhimpit-himpit bereksodus ke kantin, termasuk Germo. Yang tersisa di kelas hanya anak-anak Kardus, Sekar, aku, Dara, dan Gita.

Revo duduk di meja guru. “Jadi? Yang mana yang kita pilih?”

“Gue pilih enggak ngadu ke orangtua. Itu paling penting buat gue,” kata Hektor.

“Banyak yang pilih bersikap adil, Revo,” kata Sekar.

“Kalau kalian lapar, gue bisa pergi ke kantin terus bawa makanan ke sini,” kata Dara. “Eris, lu mau minum sesuatu?”

Habis langsung siul, goda, dan sindir mendera Eris.

Eris menyergah kesal. “Enggak. Makasih.”

“Semua boleh titip kok,” Dara mencoba menyelamatkan muka. “Vita, lu mau sesuatu? Revo? Sekar?”

“Sebentar lagi juga selesai,” kata Revo.

“Gimana kalau begini?” usulku. Kutunjukkan hasil corat-coretku:

 

TRITUWA

  1. Guru tidak akan bersikap semena-mena terhadap siswa, misalnya menggunakan hukuman fisik terhadap siswa di dalam maupun di luar kelas, atau menggunakan kata-kata kasar ketika mengkritik siswa, seperti “babi”, “bangsat”, “anjing”;
  2. Guru akan berlaku adil terhadap siswa: memberi nilai sesuai dengan pekerjaan, tidak pilih kasih, tidak mengecap jelek;
  3. Guru mesti mencoba memahami situasi siswa yang berbeda-beda, misalnya dengan tidak mengadu kepada orangtua siswa tanpa sebelumnya membicarakan permasalahan siswa dengan siswa itu sendiri, dll.

 

“Setuju!” kata Revo. Ditepuknya bahuku—sesuatu berkobar dalam tubuhku.

Ia mengoper buku catatanku kepada Sekar, lalu Eris, dan seterusnya. Semua setuju.

“Vita, terima kasih ya,” kata Revo. “Tolong lu tulis ini di papan tulis, supaya begitu Pak Dewo masuk kelas, dia bisa langsung baca. Gue mau jajan dulu.”

Beberapa detik kemudian tinggal aku dan Dara di dalam kelas. Perasaan tinggi karena sukses yang barusan kudapat kini tenggelam jadi kecewa.

“Ra, kayaknya gue mau deh titip burger sama teh botol,” kataku sambil mendesah. Kuoper beberapa lembar uang kepadanya.

Dara meremas lenganku penuh simpati sebelum meninggalkan kelas.

Kini sendiri, aku mulai menghapus papan tulis ketika tiba-tiba kepala Revo terjulur kembali melalui ambang pintu.

“Vita, lu mau jajan apa? Gue yang traktir.”

 

SATU burger dan dua teh botol kemudian, bel berdering. Pak Dewo mengintip melalui pintu kelas yang terbuat dari kaca. Matanya yang seperti mata rakun mengamati kami dengan curiga.

Begitu Pak Dewo masuk, Revo berdiri dan mengumumkan siap mengakhiri GTM dengan syarat Pak Dewo mengabulkan Trituwa.

Pak Dewo melirik tuntutan-tuntunan kami di papan tulis, lalu menghela napas. “Bukan begini caranya. Ada OSIS yang dapat menyalurkan aspirasi kalian.”

Anak-anak kini sepertinya berdiri rapat di belakang Revo, bahkan yang tadi kelihatan sangat bosan ketika musyawarah berlangsung. Kami bersorak, bertepuk tangan, dan menggebuk-gebuk meja hingga akhirnya Pak Dewo bertekuk lutut. Ia setuju menandatangani Trituwa dengan syarat kami pun menyetujui tiga tuntutannya, yaitu:

  1. Siswa akan muncul tepat waktu tiap mata pelajaran;
  2. Siswa akan memperhatikan pelajaran, tidak bermain musik, belajar mata pelajaran lain, mengobrol, tidur, atau melakukan hal-hal selain memperhatikan dan mencatat;
  3. Siswa tidak akan menyontek ketika mengerjakan PR atau ujian.

Kupikir syarat-syarat untuk kami jauh lebih berat daripada syarat-syarat untuk guru, tapi seisi kelas bersorak-sorai menyetujui. Maka ketika Revo meminta seseorang menuliskan “traktat” itu, demikian ia menyebutnya, aku mengajukan diri.

“Sip,” kata Revo. “Lu jaga traktat ini. Ingatkan kedua pihak kalau ada pelanggaran!”

Bangga terpilih untuk peran sepenting itu, traktat kucatat serapi mungkin di atas selembar kertas folio. Lalu kukumpulkan tanda tangan dari meja ke meja. Pertama Pak Dewo, lalu Revo, lalu aku sendiri, kemudian teman-teman lain.

Dengan sangat hati-hati kusimpan traktat itu dalam map plastik.

Selama perjalanan pulang kudekap traktat erat-erat, tak sabar ingin kupamerkan kepada Mama-Papa.

 

MALAM setelah Trituwa ditandatangani, Papa masak masakan keahliannya: nasi goreng hidangan laut dan telur dadar berisi kepiting bertabur cabai, daun kemangi, dan bawang goreng. Seisi rumah tercium seperti perayaan.

Suasana hatinya sedang baik, sesuatu yang jarang terjadi setelah ia dimutasikan dari jabatannya yang lama di bank tempatnya bekerja. Dulu Papa bertanggung jawab mengevaluasi pinjaman usaha, sesekali aku mendengarnya menelepon salah seorang kliennya dari rumah dan memberitahunya bahwa ia berniat mengajak kami sekeluarga rekreasi ke luar kota atau makan di restoran yang baru buka. Tiap lebaran rumah kami nyaris terkubur oleh bingkisan. Akhir tahun lalu Papa dimutasikan dari jabatannya itu, kini ia tak pernah lagi menelepon klien dari rumah. Kami pun jadi jarang pergi ke luar kota atau mencoba restoran baru. Ketika lebaran satu-satunya parsel yang kami terima adalah toples kue-kue kering dari tetangga.

Saat nasi masih berasap di penggorengan, Papa menuangkannya ke piring-piring kami yang menganga. Ditancapkannya botol kecap di tengah meja, lalu ikut duduk.

Segera kucabut map plastik berisi traktat Trituwa dan kutunjukkan kepada Mama-Papa. Kuceritakan tentang kemenangan kami di sekolah.

Papa mengamati traktat dan berkata, “Aduh, kenapa kamu ikut-ikut tanda tangan?”

“Aku bukan cuma ikut-ikut, Pa, aku salah satu yang merumuskan Trituwa ini. Lagipula, guru-guru keterlaluan.”

“Trituwa, Tri udah tua,” sela adikku Ricki, cekikikan. Dulu aku dan Ricki selalu kompak. Sayangnya, semakin besar ia semakin menyebalkan. Sekarang ia sembilan tahun.

“Mama tahu kamu mau bantu teman kamu, tapi enggak perlu kamu tanda tangan nomor tiga. Jadi aja nomor lima puluh kek, seratus kek.”

“Kok Mama ngomong begitu sih?”

“Ma, hari ini Bu Guru bilang gambarku yang paling bagus di kelas,” kata Ricki.

“Kamu ini kalau dikasih tahu orangtua,” kata Papa.

“Mau lihat enggak, Pa?” tanya Ricki.

“Nanti, Ricki,” jawab Papa. “Habis makan ya.”

“Kami khawatir, Vita,” kata Mama lagi. “Kalau kamu diskors gimana? Kalau kamu dikeluarkan gimana? Sekolah mana yang mau terima kamu kalau kamu di-DO gara-gara hal begini?”

“Kamu bilang siapa yang memulai GTM?” tanya Papa.

“Revo, dia kepala Kardus.”

“Kepalanya dari Kardus?” Ricki terus tertawa-tawa sendiri.

“Kardus itu geng terkeren di sekolah.”

“Geng?” Papa kedengaran seperti tersedak. “Ada geng di sekolahmu? Kamu tahu kan Mama-Papa mesti banting tulang untuk cari uang sekolah kamu, sekarang kamu bilang ada geng di sana?”

“Mereka enggak liar kok, enggak pernah tawuran.”

“Mereka berani mengatur mogok belajar,” kata Mama. “Itu berarti mereka sama sekali enggak hormat kepada guru.”

Sebelum menikah, Mama adalah seorang penari tradisional. Ketika Mama hamil aku, ia memutuskan untuk berhenti menari dan menerima pekerjaan di sebuah pabrik. Kadang-kadang aku khawatir Mama menyesali keputusannya itu.

“Mama enggak mau kamu berteman dengan anak-anak badung yang memulai GTM itu,” lanjut Mama. “Memangnya kamu pikir mereka enggak akan dihukum? Kalau kamu ikut kena getahnya gimana? Kalau mereka bilang Trituwa itu ide kamu gimana?”

“Dalam gambaranku, aku jadi setengah macan setengah burung. Mau lihat enggak, Ma?”

“Revo enggak akan begitu,” kataku, “Mama kan enggak kenal dia.”

“Oh, sekarang kamu lebih percaya dia daripada orangtua sendiri?” tanya Papa.

“Vita punya pacar… Kepalanya kardus pasar…”

“Ricki, diam kamu!”

“Vita, jangan bentak-bentak Ricki!” bentak Papa. “Dan jangan suka berkeliaran dekat anak-anak geng. Mengerti?” Ia melemparkan naskah Trituwa kembali kepadaku.

Kualihkan pandangan kepada Mama, menuntut pembelaan.

Tetapi Mama hanya berkata, “Mama enggak mau kamu bertingkah seperti ini lagi, dengar?”

Keherananku akan reaksi Mama-Papa meleleh jadi airmata.

Aku menolak mengangguk, hanya menerawang dan mengunci diri di balik tirai airmata yang mengaburkan dunia luar.

Saat itu dua minggu setelah Revo memintaku menulis lirik lagu untuknya. Hari Rabu berikutnya Pak Adnan menenggelamkan buku puisiku, dan hari Jumat-nya, motor Pak Adnan dipreteli.

Satu tanggapan untuk “Firdaus dari Kardus

  1. Ping-balik: Incorrigibles

Komentar ditutup.