Sebaik-baik Manusia

MUNCUL dari liang kereta bawah tanah, kulihat nomor gedung apartemen itu dalam rangkaian bohlam berkelap-kelip di seberang jalan. Segalanya nampak raksasa—bangunan, mobil, bahkan Anya. Malam itu ia kelihatan begitu besar hingga aku ingin merajuk agar ia jangan pergi, persis seorang gadis kecil kepada ibunya. Gadis kecil dengan sanggul seharga empat puluh dolar!

“Itu tempatnya.” Anya menunjuk gedung tadi. “Sekarang bisa sendiri, kan?”

Kami mahasiswa di universitas yang sama—aku tahun pertama dan Anya tahun kedua. Walaupun ia juga berasal dari Indonesia, kami tidak begitu dekat, tetapi ia cukup baik hati untuk menemaniku ke tujuan. Aku memberitahunya bahwa ini adalah kali pertamaku mengunjungi New York.

Aku mengangguk, dan Anya menghilang kembali ke dalam liang.

Aku menyeberang menghampiri apartemen yang berkelap-kelip. Di dalam, seorang resepsionis yang mirip Sinterklas menyapaku.

“Saya tamu Mr. D— K—.” Kucari tanda-tanda terkejut atau khawatir di wajahnya, tapi tak ketemu.

“Nama anda?”

Kuberitahu, dan seketika wajahnya menghangat. “Ah, Mr. K— masih di gym, anda bisa menunggu di— Oh, itu dia datang.”

Karena membelakangi pintu, aku dapat berpaling dengan sangat pelan-pelan. Pelan-pelan sekali.

 

PALING lama hanya semenit aku berbicara dengannya di bandara Hartford, Connecticut, sepuluh minggu yang lalu, sehingga tampangnya aku sudah lupa. Ia membantuku mengangkat koperku dari sabuk berjalan.

Thank you.” Kata-kata asing itu masih terasa bagai permen pedas di lidah.

“Kamu datang dari mana?”
tanyanya.

“Jakarta. Indonesia.”

“Mahasiswa?”

“Ya, aku bakal kuliah film.”

“Hei, aku dari New York Film Festival, main Oktober ini. Ada program khusus mahasiswa lho, aku bisa kirim infonya.”

“Sungguh?”

“Ya! Tulis saja alamat surelmu di sini.”

Kutulis di secarik kertas yang disodorkannya. “Trims.”

Ia menggeret kopernya menjauh, dan aku bergegas menuju ke gerbang. Di sana aku disambut oleh seorang wanita pirang gemuk yang mengusung karton bertuliskan namaku.

 

TERNYATA D. lebih pendek daripada seingatku. Malam itu ia mengenakan kemeja putih yang lepek dengan keringat, wajah lonjongnya mengilap merah jambu, rambut perak pendek di ubun-ubunnya terkulai basah. Dadanya bidang dan lengan-tungkainya berotot. Ia pernah bilang usianya 39 tahun.

“Rambutmu bagus,” katanya.

“Trims. Aku perlu ganti baju.”

“Ayo ke atas.”

Di dalam lift, tiap kali mata kami bertabrakan, kami hanya saling tersenyum dengan kikuk.

Pintu apartemennya membuka dan memperlihatkan barisan jendela yang berpemandangan pucuk-pucuk gedung pencakar langit berkilau-kilau meriah. Di sebelah kiri pintu ada dapur kecil yang menghadap ke ruang tengah berisi sofa dan meja makan bundar dengan empat kursi. Di sebelah kanan terletak ranjang dan pintu menuju kamar mandi. Pada dinding di belakang ranjang tergantung lukisan perempuan-perempuan Afrika menyangga kendi, dibingkai serangkaian payudara cokelat.

“Kamu bisa ganti di kamar mandi,” katanya. Ia menyeringai melihat raut wajahku yang terkejut akibat lukisan tadi.

Tanpa melepas jaket, kutenteng tasku ke sana. Aku mengunci pintu pelan-pelan dan menatap wajahku di cermin. Aku tampak penuh semangat, walau tegang.

“Ayo cepat,” teriak D. dari luar, “kita sudah terlambat!”

Sambil menarik napas panjang kubebaskan kedua lenganku dari switer, lalu pelan- pelan kutarik kerahnya ke atas kepala supaya sanggulku tidak sampai rusak. Kukenakan rok panjang hitam dan blus hitam yang bagian atasnya berenda. Dari jauh aku terlihat seolah memakai gaun. Aku tidak punya uang untuk membeli gaun sungguhan.

Kukesampingkan renda blus sehingga bahuku terungkap. Belum pernah sebelumnya aku keluar di tempat umum dengan bahu terungkap. Aku tak sabar mencicipi seperti apa rasanya. Bukankah kita harus menghadapi rasa takut demi memperoleh pengalaman baru?

Di luar kamar mandi, kutemukan D. mengenakan kemeja gelap dan celana denim. “Lho, kok kamu pakai jins ke opera?”

Ia terkekeh. “Ini abad 21, kita bebas pakai apa saja ke mana saja,” katanya. Lalu, seolah teringat sesuatu, ia menambahkan, “Tapi aku senang kamu dandan.”

Sial! Di film Pretty Woman, Julia Roberts mesti mengenakan gaun panjang dan menyanggul rambut untuk pergi ke opera. Kupikir semua orang harus berpakaian begitu jika ingin menonton opera! Percuma aku mengorbankan upah lima jam kerja di bioskop kampus hanya untuk menata rambut!

D. menawarkan lengannya, dan aku mengaitkan tanganku di sikunya.

Jadi seperti ini rasanya kencan, pikirku seraya kami melenggang melewati Pak Sinterklas yang tersenyum-senyum.

 

KETIKA aku mengecek surel, sudah ada pesan dari D.—menyolok di antara pesan dari dekan dan semacamnya. Ia mengarahkanku ke situsweb New York Film Festival.

Terima kasih atas informasinya. Saya tak bisa menemukan laman program mahasiswa. Apa anda punya formulir pendaftarannya? Salam, L—

Oh, aku tidak bekerja untuk NYFF. Kamu salah mengerti. Aku seorang bankir investasi, tapi aku gandrung film, bahkan aku punya mimpi bikin film sendiri suatu hari nanti. Kalau kamu tertarik, nanti kuceritakan ideku. Aku kagum terhadap orang-orang seperti kamu yang berani mengejar cita-cita. Dulu waktu kuliah aku ambil jurusan ekonomi, terus lanjut ke sekolah bisnis. Payah ya? Aku belum pernah nonton film Indonesia, apa kamu bisa kasih rekomendasi? Kalau kamu mau ke NYFF, aku bisa belikan tiket. —D.

 

SEUSAI menonton opera (Pernikahan Figaro, aku tak mengerti baik alur maupun maknanya), D. mengajakku ke sebuah bar yang sempit dan remang, tapi kelihatan mahal. Konternya berbentuk huruf J disinari dari dalam. Tempat duduknya dari kulit.

“Mau minum apa?” tanya D.

“Enggak usah, trims. Aku belum dua puluh satu tahun.”

“Dua margarita. On the rocks,” kata D. pada bartender yang sigap meracik. Apa ia tak dengar ucapanku barusan? Tak bisakah ia lihat aku belum sampai usia legal untuk minum alkohol?

Bartender tuli-buta itu kembali dengan dua piramida terbalik berisi cairan keruh. D. meneguk minumannya, sementara aku sekadar membasahi bibir.

“Kamu enggak suka minum?” tanya D.

“Alkohol enggak baik untuk kesehatan.”

“Kalau hanya minum sedikit di akhir pekan enggak apa-apa. Kamu pun jadi enggak terlalu kaku. Percakapan jadi lebih asyik.”

Aku merasa tersinggung, tapi hanya dalam hati.

“Ayo minum!”

DI seberang kamarku di asrama, tinggal Maggie yang lincah dengan rambut merah sebokong dan kacamata bundar nirbingkai. Di sebelah kamarku tinggal Ben yang jangkung dan berambut cokelat keriting gondrong, wajahnya seperti kue kismis, dan kaki kirinya digips.

Ketika Maggie mengajak Ben untuk jalan bareng ke lokasi acara orientasi pertama, kupikir itu tidak sopan, mengingat kaki Ben yang digips. Namun, Ben justru tersinggung ketika aku berkata, “Tidakkah sebaiknya kamu diam di kamar saja hingga kakimu sembuh?”

Sepanjang perjalanan Maggie dan Ben berbicara tentang universitas-universitas lain yang menerima mereka, tetapi mereka tolak karena mereka lebih memilih universitas kami. Aku hanya dapat membayangkan seperti apa rasanya, sebab aku hanya mendaftar ke satu universitas—aku hanya dapat mendaftar ke universitas yang menawarkan beasiswa penuh, dan aku bersyukur dan merasa beruntung luar biasa telah diterima di sini.

Suara mereka lantang dan fasih, langkah mereka lebar dan mantap—kesan yang mereka pancarkan sarat akan kepercayaan diri, seolah tak ada satu hal pun, baik itu usia muda, dompet kosong, atau kaki patah, dapat menghalangi laju mereka di dunia ini.

Keesokan harinya di gedung teater kampus diselenggarakan penataran tentang pelecehan seksual. Acara itu pun bagian dari pekan orientasi mahasiswa baru.

“Tidak ada yang berhak memaksa kalian melakukan apa pun yang kalian tidak ingin lakukan, apa pun situasinya,” kata Pak Penatar di panggung, di hadapan sebuah layar besar. “Sekalipun kalian sudah melepas pakaian, berciuman, atau apa saja, jika sewaktu-waktu kalian berubah pikiran, itu hak kalian. Kalian tidak dapat disalahkan jika kalian berubah pikiran. Camkan ini: jika pasangan kalian bilang tidak, itu berarti tidak! Perhatikan juga ini: jika sesuatu terjadi padamu—demi Tuhan, semoga tidak—tetapi jika sesuatu terjadi padamu, itu bukan salahmu. Dengar? Itu salah orang yang menganiayamu.”

Bagaimana mungkin itu bukan salahku? pikirku. Bukankah aku sendiri yang mengundang berbagai macam risiko dengan menempatkan diriku di berbagai situasi yang berbahaya? Begitu orangtua dan guru-guru senantiasa mewanti-wantiku.

Namun, aku menyukai perspektif baru yang disodorkan oleh Pak Penatar. Aku ingin memikirkannya lebih jauh.

Kemudian Pak Penatar menampilkan foto cawan es buah di sebuah ruang yang padat dengan anak-anak muda berdansa. Pak Penatar bilang ia suka guyon, tapi menyelipkan narkotika ke es buah bukanlah lelucon.

Seluruh auditorium hening serentak.

Pak Penatar lantas bercerita tentang sekelompok mahasiswa, di kampus lain tentu saja, yang menyabotase minuman seorang gadis, kemudian ramai-ramai menidurinya ketika ia teler.

“Mereka bilang mereka hanya ‘mengerjai’-nya,” kata Pak Penatar, “mereka bilang mereka tahu gadis itu liar dan mereka yakin ia menikmatinya. Saya beritahu kalian sekarang: tindakan mereka itu bukan ‘mengerjai’, itu memerkosa!”

Sekujur tubuhku bergidik. Dalam hati aku berjanji tidak akan minum minuman yang diambilkan oleh orang asing.

 

DI apartemen D., aku memperhatikan sederet foto berbingkai yang dipajangnya di kusen jendela: D. usia dua-puluhan bersama teman-teman mengacungkan dayung ke udara, D. dengan rekan-rekan berdasi duduk di seputar meja makan, D. dengan sepasang orang tua berpakaian serba hitam berdiri di muka sebuah rumah.

“Foto itu diambil setelah pemakaman Nenek,” katanya, menyabet perhatianku. “Aku sangat dekat dengan nenekku, tapi ketika ia meninggal perusahaanku sedang di ambang merger, dan aku harus kerja nonstop hingga hari pemakamannya. Hari Sabtu subuh aku terbang pulang, menghadiri pemakaman, lalu membantu orangtuaku membereskan barang-barang Nenek. Aku enggak tidur selama 72 jam, seperti robot hanya bergerak dari satu tugas ke tugas berikut. Tapi kurasa begitu lebih baik. Kalau enggak, aku khawatir akan depresi karena enggak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Nenek.”

Aku duduk di seberangnya di meja makan. Di balik pundaknya kulihat koleksi medianya, di antaranya video bergambar gadis berkepang dua meniup 18 lilin di atas sebuah kue, di belakangnya sebaris pria-pria bertelanjang dada menyoraki.

D. mencomot video itu dan menyodorkannya kepadaku. “Coba buka.”

Meskipun cemas akan diajak nonton film porno, kubuka juga. Kutemukan Shrek di dalam.

“Aku enggak sengaja taruh video porno ke kotak Shrek waktu mengembalikannya ke tempat sewa,” kata D. “Bayangkan, ada anak kecil mau nonton kartun, terus dia kaget setengah mati.”

Kudorong video itu jauh-jauh. D. menggenggam tanganku.

Ini sungguh akan terjadi, batinku.

D. mencondongkan tubuhnya dan menciumku.

 

PADA pertengahan September banyak mahasiswa menikmati hari-hari hangat terakhir dengan berjemur di halaman asrama. Suatu sore seorang cowok pirang jangkung menghampiriku, ia bilang ia sudah lama memperhatikanku dan akan senang bila aku mampir ke kamarnya untuk mengobrol.

Seorang cowok tembam manis bermata cokelat menghampiriku di kantin dan bertanya apakah aku mau belajar bersamanya. Kami sama-sama mengambil kelas Sejarah Film I. Ketika ia permisi, cowok itu terus-menerus menoleh kembali ke arahku sampai-sampai ia menabrak pintu kaca.

Malam harinya, duduk di ranjang, aku tak habis pikir mengapa orang-orang di Amerika sepertinya menganggapku cantik. Saat sekolah menengah dulu, aku cewek yang diminta cowok- cowok agar mengambil foto mereka dengan cewek-cewek yang cantik. Penampilanku masih seperti dulu: kerempeng, hitam, gigi agak tonggos. Di Jakarta banyak temanku yang curiga akan selera orang kulit putih. Seorang temanku berkata, “Tuh bule, ceweknya, sama babu gue aja masih cakepan babu gue. Asal bisa dapat bodinya mereka sambar aja kali ya?”

Baru setelah mendapat perhatian dari selain orang-orang kulit putih, aku mulai mengizinkan diri percaya bahwa, entah bagaimana, aku telah tumbuh menjadi perempuan cantik.

Suatu malam, sepulang dari lab komputer aku berpapasan dengan seorang cowok kulit hitam yang menjatuhkan rahang bawahnya dan berkata, “Maaf ganggu, tapi aku enggak bisa biarkan orang secantik kamu berlalu begitu saja. Boleh aku minta nomor telepon kamu?”

Kali lain, seorang cowok Latin dari Mexico mengajakku nonton film berdua. Lalu, pada acara makan malam bersama para donatur beasiswa kami, seorang cowok ganteng dari Thailand mengajakku berdansa dan berfoto bersama!

Segala perhatian mereka membuatku mabuk kepayang, tapi aku tak pernah membalas. Barangkali gara-gara pakaianku, mereka menganggap aku anak gaul: jins hitam bertabur debu gemerlapan, rok mini perak, jaket merah motif kulit ular. Namun, cowok-cowok yang mendekatiku akhirnya sadar, suaraku yang sebenarnya lirih dan malu-malu. Barangkali pakaianku adalah ekspresi irisan diriku yang belum mampu kusuarakan.

Awal Oktober, seusai kelas Sejarah Musik, aku memberanikan diri mengajak Jeremy pergi makan es krim. Ia seorang cowok dari California yang gemar memandangiku dari sudut kelas dengan matanya yang sebiru langit.

Dalam perjalanan pulang, Jeremy mengaku ia sebenarnya tidak doyan es krim, tapi hanya ingin mengobrol denganku. Karena kami seasrama, ia mengantarku sampai pintu kamar. Aku siap mengucap sampai jumpa ketika ia memejamkan mata dan membungkukkan badan. Tahu-tahu bibirnya menempel ke bibirku.

Ciuman pertamaku!

Sungguh aku kaget ketika itu terjadi, lebih kaget lagi ketika sesuatu dalam diriku menyalip dan mengambil alih, membuatku serta-merta melompat ke Jeremy hingga ia nyaris terjerembab. Tahu-tahu kami sudah berada di kasur—rok hitamku tersingkap hingga celana dalamku yang berwarna merah terlihat bagai pucuk mentari merekah di antara dua gunung yang merupakan pahaku. Sebelum kami berhenti berciuman aku sempat bilang, “Aku belum siap untuk berbuat lebih jauh.”

Sungguh aku heran apa yang membuatku menerjang Jeremy seperti itu. Apakah setan atau irisan diriku yang lain? Dan apakah irisan diriku yang menerjang Jeremy dan yang mengatakan aku belum siap lantas bersalaman atau saling mengacungkan jari tengah di dalam tubuhku?

Sementara itu, di dunia di luar diriku, detik-detik sunyi nan menyiksa berguguran… hingga akhirnya Jeremy memperoleh inspirasi brilian untuk permisi.

 

Aku sudah beli tiket. Tolong rekomendasikan hotel yang murah ya, tapi dekat dengan tempat festivalnya. —L

Menginap saja di apartemenku, aku akan menginap di apartemen teman. —D

Kalau begitu, sebagai tanda terima kasih aku akan belikan tiket juga untukmu. Sampai ketemu tiga minggu lagi. —L

 

KECUPANNYA begitu lembut, begitu lezat seperti es krim cokelat putih.

“Kamu bilang kepada teman-teman di mana kamu menginap?” tanya D.

“Pasti dong. Aku minta mereka meneleponku tiap jam untuk memastikan aku baik-baik saja.”

“Oh ya? Setelah ini kamu bakal kuikat ke ranjang, dan ketika telepon kecilmu berdering, aku akan bilang, ‘Ya, dia ada di sini, sedang kuikat ke tempat tidur dan kujadikan budak seks.’ Terus mereka bisa apa?”

Aku ingin menonjoknya. Berteriak. Aku merasa memakai zirah yang berat sejak tiba di sini dan lambat laun terasa kian menyesakkan.

“Aku mau tidur.”

“Kamu mau aku pergi ke tempat teman?”

Saat itu pukul dua pagi, aku yakin sebenarnya tak ada teman yang siap menampungnya.

“Kamu boleh tidur di sampingku asal kita hanya tidur.”

Terus terang, aku penasaran bagaimana rasanya tidur di samping seorang cowok.

D. menyeringai seolah ia baru saja memenangkan sesuatu. Sambil berbisik di ponselnya ia terus menatapku, “Trims, tapi aku enggak jadi menginap di tempatmu malam ini. … Ya, hehe. Daaah.”

Aku beranjak ke kamar mandi dan mengenakan piyama. Aku sengaja membawa piyama karena aku ingin tidur mengenakan celana panjang, bukannya daster. Kupikir dengan begitu akan lebih sulit jika D. mencoba yang bukan-bukan.

Setelah menggosok gigi, kusibak selimut warna lumut dan kurebahkan diri di sisi ranjang yang dekat dengan pintu kamar mandi.

D. menanggalkan pakaiannya hingga tinggal celana dalam. Aku penasaran sekaligus takut menatap. Ia berbaring di sisi seberang, mengosongkan selajur di tengah ranjang.

Beberapa saat kemudian suara mengoroknya membubung tinggi.

Merasa aman, aku pun mencoba tidur.

 

KINI yakin akan kecantikanku, aku ingin menyelusuri jiwa perempuan-perempuan cantik. Aku membayangkan diriku laksana Estella dalam film Great Expectations dan menerima ajakan kencan seorang cowok yang sombong, aku berjanji menemuinya di sebuah restoran yang amat jauh dari kampus, lalu aku tidak muncul. Seolah Scarlett dalam film Gone with the Wind, aku duduk-duduk manis di sebuah pesta dan menikmati cowok-cowok membawakanku minuman dan kue-kue. Aku ingin tahu seperti apa rasanya jadi Helen dari Troy yang menyebabkan orang-orang bertarung memperebutkanku. Namun, sebelum itu ada sebuah peran di depan mata yang jika tidak kulakoni sekarang, aku khawatir akan jadi terlalu tua untuk mendapat kesempatan lagi: Lolita.

 

PUKUL delapan pagi keesokan harinya, D. membangunkanku dan langsung merapikan tempat tidur. Ia sudah mengenakan stelan jas abu-abu, katanya ia harus kerja, tapi nanti malam kita akan menonton film bersama.

“Aku sudah bikin kopi,” katanya, lalu memberiku kunci dan melambai.

Kutuang segelas kopi dan kubaca buku-buku yang kubawa, hingga aku mulai merasa lapar. Aku cemas pergi ke luar seorang diri, maka aku makan semangkuk sereal, lalu kucuci mangkuk serta sendoknya.

Pukul empat sore D. tiba di apartemen, dan kami berjalan ke Lincoln Center. Film yang kami tonton memperlihatkan seorang pria dan wanita bercinta di sebuah kamar yang sumpek, sementara di luar pria dan wanita yang sama terjebak kemacetan. Perlahan-lahan aku paham bahwa pria pertama lebih cocok dengan perempuan kedua, dan sebaliknya. Di akhir film, sementara si perempuan yang di kamar hanya dapat menatap dengan miris ke luar jendela, masih terperangkap dalam hubungannya, si perempuan yang di mobil membuka pintu dan lari menyongsong kebebasan, rambut dan jaketnya melambai di belakangnya, bibirnya terkembang penuh lega dan syukur.

Lampu-lampu menyala.

“Aku cuma punya satu pertanyaan,” kata D. “Apa, demi setan, makna film begitu?”

Seperti perempuan di dalam film, aku pun lari, menyusuri lorong-lorong bioskop, menyongsong satu-satunya tempat yang tak bisa ia cemari.

Di kamar kecil seorang perempuan baya berbalut jaket bulu membedaki wajah.

“Aku paham benar si tokoh perempuan di film tadi, mengapa ia merasa tak bisa pergi pada awalnya,” kataku.

Perempuan berjaket bulu itu merengut ke arahku, dan aku ingin menangis.

Aku ingin duduk di toilet selamanya.

Namun, aku keluar.

D. sudah menunggu di depan pintu. “Mau makan di restoran Malaysia? Masakannya sama dengan Indonesia, kan?”

 

Begini ide filmku: waktu SMA aku kesengsem dengan seorang gadis kulit hitam—dia pendiam, tapi aku bisa lihat ombak memecah di belakang matanya. Aku suka unjuk jari atau pakai topi konyol untuk menarik perhatiannya, tapi aku cuma kutubuku pendek yang tak kasat mata. Sekarang ada situsweb yang memungkinkan kita melacak mantan teman sekelas—dari situ aku dapat alamatnya. Aku ingin buat film tentang si kutubuku itu—ia tumbuh jadi pengusaha sukses, tapi senantiasa merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Kemudian teknologi maju, dan ia menemukan gadis itu lagi. Aku ingin film berakhir dengan sebuah bingkisan diantar melalui pos ke teras rumahnya. Gadis itu membuka pintu, memungut bingkisan itu, dan melihat nama pengirim. Fokus pada wajahnya yang mengenali nama pengirim itu, ia beri seulas senyum. Tamat. Bagaimana menurutmu? Seperti apa cinta pertamamu? Seperti apa pengalaman seksual pertamamu, dan seberapa parah sakitnya? —D

Itu hal pribadi! Kalau mau tahu, kamu harus ceritakan pengalamanmu lebih dulu. —L

Oke, aku tak keberatan. Aku pertama kali berhubungan seks pada usia 19—maklum, aku mekar terlambat. Kejadiannya di kamar asrama. Kami berdua mabuk setelah minum satu menara bir. Soal seberapa sakit—yah, bagi cowok kan enggak sakit. Sekarang giliranmu.

 

DI atas bar sebuah televisi menayangkan permainan bisbol. D. memiringkan kursinya supaya bisa mencuri-curi pandang ke layar. Seorang pramusaji bertampang Melayu membawakan menu.

“Apa yang enak di sini?” tanyaku dalam bahasa Indonesia.
 Mas Pramusaji, seperti perempuan berjaket bulu tadi, mengerutkan dahi dan berpaling.

“Bilang apa kamu barusan?” tanya D.

“Kukira dia bisa bahasa Melayu, bahasa itu sangat mirip dengan bahasa Indonesia.”

D. mencibir. “Kamu kira pelayan di restoran Italia bisa bahasa Italia?”

Sambil merengut aku mempelajari menu.
“Kamu enggak tertarik nonton bisbol?”

“Enggak.”

“Bisbol adalah salah satu jalan untuk memahami jantung budaya Amerika.”

“Oh.”

“Kamu enggak mau memahami budaya Amerika?”

Ia lupa mempelajari Hollywood?!

“Mau.”

“Kalau begitu tonton bisbol!”

 

Aku risih cerita. —L

Oke, babe, jangan khawatir. Aku cuma tanya untuk membangun kedekatan antara kita. Memang kadang-kadang aku suka salah kata. Sejak remaja aku canggung mengobrol dengan cewek cantik, makanya waktu kuliah aku ikut tim dayung. Kupikir, jika aku enggak bisa jadi populer, seenggaknya aku bisa jadi kekar.
Oh ya, apa kamu perawan?

 

“AKU pernah kenal seorang pramugari Indonesia,” kata D. Kami sudah kembali berada di apartemennya. “Dia ikut ke apartemen ini bersamaku. Besok paginya aku lihat dia memakai kerudung putih sekujur badan. Katanya, dia berdoa. Menurutmu dia merasa begitu berdosa karena tidur denganku hingga harus bangun subuh-subuh untuk berdoa?”

“Mana aku tahu. Kamu enggak tanya dia?”

D. mengangkat bahu.

“Kamu merasa seks berbenturan dengan agama?”

Aku tersentak dan tak tahu mesti berkata apa. Aku tak merasa nyaman membagi hal seintim itu dengannya.

“Itu hal pribadi.”

D. melempar kedua tangan ke udara. “Tiap kali aku tanya sesuatu yang intim, kamu selalu bilang itu pribadi, pribadi, pribadi. Aku sudah cerita soal pengalaman pertamaku, cinta pertamaku, dan kamu belum cerita apa-apa.”

“Aku mau tidur.”

 

Tahu enggak, dalam bahasa Indonesia “babe” itu artinya ayah? —L.

I’ll show you who’s your daddy! Kamu tahu tidak, orang bilang keperawanan bisa kembali lho, asal kamu menjauhi seks selama dua tahun. —D.

 

KUKENAKAN piyama di kamar mandi, lalu duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca buku.

“Jadi sekarang kamu cuekin aku?” sindir D.

“Aku belajar. Aku mahasiswa, ingat?”

“Terserah.”

D. menendang pakaiannya ke kolong sofa, lalu duduk di tempat tidur dan membaca majalah.
Setelah dua puluh menit aku menerima kenyataan bahwa aku tak bisa berkonsentrasi. Kumatikan lampu kecil di sisiku dan rebah menghadap pintu kamar mandi. Tak lama kemudian, D. pun mematikan lampu di sisinya. Ruangan menjadi gulita.

“Hei,” katanya, merapat padaku. “Kamu enggak marah, kan?”

“Aku enggak marah.”

“Oke. Selamat tidur.”

Ia menciumku lagi.

Awalnya seperti mencecap es krim cokelat putih, tapi kemudian bibirku seolah membeku. Ia mendorong selangkangannya ke selangkanganku. Kurasakan tubuhku menyemburkan pelumas. Benakku langsung memprotes.

“Aku enggak mau berhubungan seks.”

“Apa kamu enggak penasaran, sedikit saja?”

“Enggak!”

“Oke. Tapi aku enggak akan membiarkanmu pergi dari sini… tanpa seenggaknya mencicipi sedikit… bagaimana rasanya… bercinta. Aku hanya butuh…”
 Ia menyambar tanganku dan menekankannya ke selangkangannya. Kurasakan sesuatu mengembang. Panik, kutarik tanganku. Badannya menimpaku.

 

AKU berada di Paris, terbang di atas Menara Eiffel. Tante kesayanganku tinggal di sana ketika aku kecil, dan ia rajin mengirimiku kartu pos. Sejak saat itu aku pun mengasuh mimpi berkunjung ke sana. Kartu-kartu pos tercurah dari angkasa. Piramida kaca Louvre berpendar di birunya malam. Jendela mosaik Notre Dame berkilau seribu warna. Lampu- lampu kristal berkedip-kedip di istana Versailles. Perahu merah langsing membelah riak Sungai Seine. Pelukis-pelukis jalanan menari dengan kuas mereka di Montmartre. Bunga-bunga teratai mekar semerbak di kebun Monet. Roti sabit dan kopi wangi tersaji di meja-meja tepi jalan. Lampu-lampu berkilap bagai berlian di Champs-Elysées.

 

ERANGAN berisik mengempasku kembali ke kamar. Seperti melakukan push-up, D. mengangkat tubuhnya dari tubuhku.

“Wow! Seandainya kamu bisa rasa betapa bahagia kamu membuatku!” Ia melesat ke dapur dan melumat semangkuk sereal.

Sendiri di tempat tidur, aku bertanya-tanya apa yang barusan terjadi padaku.

Aku membeku hingga kudengar D. membilas mangkuknya. Sebentar lagi ia akan kembali ke tempat tidur. Aku bergegas ke kamar mandi.

Perlahan-lahan sekali kuputar kuncinya. Aku tak ingin ia menyadari ada yang salah. Kutatap wajahku yang bingung di cermin. Aku tak suka bau yang melekat di piyamaku, maka kulepas dan kutendang jauh-jauh. Kulihat ada sedikit di perutku juga. Kuhempas, tapi malah melekat di jari. Kubasuh jemariku di wastafel. Aku pun memutar otak membayangkan apa yang mesti orang lakukan dalam situasi seperti ini, apakah aku pernah menonton film yang menunjukkan situasi seperti ini. Air panas melepuhkan jemariku. Yang kuingat hanyalah: mandi. Biasanya orang-orang dalam situasi seperti ini mandi. Mereka meringkuk di bawah pancuran dan menangis.

Aku ingin mandi, tapi khawatir D. mendengar suara pancuran dan sadar ada yang tak beres. Aku tak sudi jadi cerita bagi gadis berikutnya: ‘Apa dia merasa begitu berdosa hingga harus mandi setelahnya?’

Aku membasahi handuk kecil dengan air panas, lalu mengusap-usap tubuhku sekuat tenaga. Menggerus-gerus kulit hingga merah.

Sekarang bagaimana?

Kabur?

Kubayangkan tangga batu hitam dengan tulisan Police menyala kuning di atasnya. Apa yang akan kukatakan terjadi padaku?

Ke terminal, kalau begitu.

Tapi sekarang sudah pukul satu, siapa jamin orang-orang di luar sana tidak lebih berbahaya daripada orang di luar kamar mandi ini?

Mungkin Pak Sinterklas bisa bantu?

Ah, mana mungkin ia percaya padaku? Aku cuma tamu asing yang tak segan menginap di apartemen pria dua kali usia sendiri, sementara D. kemungkinan besar telah memenangkan rasa percayanya dengan kelakar dan tip selama bertahun-tahun.

Andaipun Pak Sinterklas percaya, bagaimana kalau ia justru memaksaku lapor polisi?

Apa pula yang akan D. lakukan apabila aku tiba-tiba berkata akan pergi? Jangan-jangan ia khawatir aku akan lapor polisi, lalu ia malah menyekapku di sini. Ia tahu esok pagi aku akan kembali ke kampus, barangkali jika ia pikir aku tak keberatan dengan apa yang barusan terjadi ia akan membiarkanku pulang. Barangkali lebih aman berpura-pura turut. Tempel stiker senyum di bibir. Jika ia pikir ia tak menyakitiku, maka ia tak bisa menang, bukan? Aku bisa tetap utuh, karena si penyiksa tak bisa menang jika korbannya tak menunjukkan rasa sakit.

Kubuat suara kentut dengan mulut dan kuguyur toilet berkali-kali supaya ia pikir aku buang air besar.

Semoga ia jadi jijik!

 

ESOK paginya aku membereskan buku-bukuku dan pamit kepada D.

“Kamu enggak bisa pergi tanpa lihat Central Park,” katanya. “Ayo, habis itu kamu kuantar ke terminal.”

Aku menurut saja. Kali ini D. menggandeng tanganku, mulai dari lift hingga ke jalan-jalan yang padat. Mataku berusaha menangkap mata orang-orang yang berseliweran, berharap aku tampak di bawah umur bagi mereka dan ada yang datang memisahkanku dari genggamannya. Di dalam sebuah sedan putih yang berhenti di depan lampu merah, seorang pemuda menatapku dengan khawatir. Mataku memohonnya untuk menyelamatkanku… Tetapi lampu berganti hijau, D. menarikku maju, dan sedan putih itu pun berlalu.

D. membawaku menengok patung malaikat tempat George Clooney menggendong Michelle Pfeiffer dalam film One Fine Day. Ia menyuruhku berpose di depan patung itu.

“Senyum!” katanya, dan aku tersenyum.

Di muka gedung apartemennya, D. menyerahkan kunci kepadaku. Ia bilang perlu beli sesuatu di toko sebelah. “Ambil tasmu, lalu kita ke terminal.”

Begitu aku turun lagi dengan menjinjing tas, D. sudah menunggu di lobi dengan dua puluh batang mawar merah jambu. “Terima kasih. Berkat kamu akhir pekanku sangat menyenangkan.”

“Trims, tapi kamu enggak usah mengantarku ke terminal.”

“Omong kosong. Aku punya waktu.”

Pak Sinterklas melambai dadaah.

D. mengiringiku hingga ke pintu bus dan menciumku sekilas di bibir. “Sampai ketemu lagi!”

Aku mencari tempat duduk yang kosong, melewati orang-orang yang menatapku dengan penasaran atau mengecam. Aku tak peduli. Kurasakan debur ombak lega yang berlimpah-limpah menyapuku ketika bus akhirnya meluncur.

Tiga jam kemudian, aku menapaki jalan menuju asrama. Hari kelabu dan lembap. Maggie dan Ben melihatku memasuki halaman asrama, mereka merentangkan lengan.

“Wow, sepertinya kencanmu sukses, ya?” kata Maggie, ia menunjuk ke karangan bunga di tanganku.

Aku merangkul mereka dengan memasang air muka girang. “Ssst, jangan menggosip!”

Aku tak tahu mengapa aku tak membuang mawar pemberiannya itu sebelum merasa aman dalam kamar sendiri. Sebagian diriku ingin semua orang yang melihatku kembali dari New York berpikir akhir pekanku berjalan sempurna, mereka semua salah telah memperingatiku agar jangan pergi.

Aku sendiri ingin percaya itu.

Ketika kubuka surel, sudah ada pesan dari D.: Semoga kamu sudah sampai dengan selamat. Aku enggak sabar ingin kamu ke sini lagi.

Kemudian aku mandi.

 

SEJAK lama aku menggandrungi musisi Tori Amos, tapi sejak kejadian di New York itu aku tak sanggup mendengarkan lagu “Me and A Gun”, tentang pengalaman si biduanita ketika ia diperkosa dengan diancam sebilah pisau.

Ketika kelas filmku memutar Thelma & Louise, setelah kedua tokohnya berhenti di bar dan salah satu dari mereka nyaris diperkosa di moncong mobil sendiri, aku lari megap-megap keluar bioskop.

Aku dipanggil ke kantor dekan karena nilai-nilaiku jeblok semua, alih-alih di hadapan beliau aku menangis sesenggukan.

Aku ikut reli Take Back the Night—bersama banyak mahasiswa lain aku berbaris menyeberangi kampus sambil memegang lilin. Kami membentuk lingkaran di sebuah lapangan. Seorang gadis maju ke tengah lingkaran dan bersaksi tentang seorang cowok di kampus yang bergembar-gembor ingin “memerkosa puisi dan menciptanya ulang dari jiwanya yang dikosongkan”. Namun, cowok itu malah memerkosanya.

Kami berjalan lagi, lalu di sebuah lapangan lain kami membentuk sebuah lingkaran baru. Kali ini seorang cowok maju ke tengah. Ia bercerita bahwa suatu malam setelah pesta ia pulang bersama seorang gadis, tetapi ia merasa terlalu mabuk untuk beri persetujuan untuk bercinta. “Aku tak ingat apa yang terjadi, tapi kemungkinan besar kami berbuat juga.” Katanya ia angkat bicara sebab sepanjang malam belum ada kesaksian dari laki-laki.

Terbersit keinginan untuk maju…, tapi bagaimana menceritakan pengalamanku tanpa kelihatan bagai orang paling tolol sedunia? Bukankah aku dengan suka rela pergi ke apartemennya? Menginap di sana? Berciuman dengannya? Berbaring di tempat tidur yang sama dengannya?

‘Jika sesuatu terjadi padamu—demi Tuhan, semoga tidak—itu bukan salahmu. Dengar? Itu salah orang yang menganiayamu.’ Terngiang kata-kata Pak Penatar dahulu.

Tiap mahasiswa di kampus mendapat jatah sepuluh sesi gratis dengan seorang psikolog per tahun. Orangtuaku pasti meledekku habis-habisan jika mereka tahu aku ikut terapi. Akhirnya mereka bisa dapat bukti putri mereka memang gila.

 

“KAMI semua mabuk luar biasa, lalu cewek itu dan sahabatku masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian cewek itu menghambur keluar dan menjerit-jerit, menuduh sahabatku memerkosanya. Tak ada saksi kejadian sebab mereka cuma berdua di dalam kamar. Tetap saja, sahabatku harus mendekam setahun di penjara,” kata Sun, cowok keturunan Korea.

Kami dan dua orang teman lain sedang duduk-duduk makan sushi di ruang bersama di asrama.

Denira dari Jamaika bilang ia harus menikah, atau setidaknya cinta kepalang mati, sebelum berhubungan seks.

Alicia dari Maine berkata, pada kali pertamanya ia merasa ragu apakah benar-benar ingin berhubungan seks, tapi ia tak mengatakan apa-apa pada pacarnya. “Tahu-tahu semuanya sudah selesai. Keperawananku hilang selamanya. Sekarang aku menyesal dan marah.”

Ceritaku mengalir begitu saja. Entah bagaimana, entah mengapa. “Aku enggak tahu apakah ada nama untuk apa yang terjadi padaku.”

“Oh, kalau itu jelas pemerkosaan,” kata Denira.

“Benarkah?”

Sun dan Alicia mengangguk-angguk.

Serempak mereka semua teringat sebuah urusan yang terbengkalai. Lingkaran kecil kami pun bubar, tinggal aku sendiri yang duduk di sofa.

 

Kalau kamu memang enggak mau, kenapa kamu enggak minta aku berhenti? —D.

Bagaimana aku bisa ngomong sementara mulutmu terus-terusan melumat mulutku? —L.

Kalau aku sampai masuk penjara gara-gara ini, maukah kamu mengunjungiku? Dan ketika datang, maukah kamu mengenakan seragam sekolah dengan rok yang pendek dan kemeja yang ketat? —D.

 

“TULIS saja: Jangan pernah hubungi aku lagi! Lalu jangan pernah buka lagi pesan-pesannya. Kalau ia kirim lagi, langsung hapus!” nasihat psikologku.

Setelah merasa siap, aku pun melakukan persis seperti petunjuk beliau. Tiap surel dari D. yang masuk langsung kuhapus, sampai akhirnya ia berhenti menulis.

Sebulan sebelum kusuruh D. menjauh, psikologku bertanya mengapa aku tak langsung saja mengakhiri hubungan kami.

“Ia sepertinya benar-benar suka kepadaku,” jawabku. “Jika aku tak membalas, ia bakal sakit hati, dan aku tak ingin menyakiti manusia lain.”

Sungguh konyol alasan itu terdengar kini.

Tampaknya, pada saat itu aku butuh merasa punya kendali atas apa yang terjadi.

Aku butuh merasa punya kekuatan untuk balik menyakitinya. Aku sungguh butuh percaya aku pun mampu menyakitinya, separah ia menyakitiku…

Sebagian diriku ingin merasa lebih baik daripadanya, sebaik-baik manusia…

Sebagian diriku sungguh tak tahu bagaimana caranya mengakhiri sebuah hubungan—aku belum pernah memulai, apalagi mengakhiri, sebuah hubungan sebelumnya.

Sebagian diriku lainnya ingin membuatnya menyadari perbuatannya, betapa ia telah menyakitiku dan melecehkanku… Aku bersikeras ingin membuatnya sadar, kukatakan pada diriku sendiri, agar tidak ada lagi gadis berikutnya, walaupun aku tahu ia hanya akan mengabaikan dan mengejekku—sebagaimana ia mengabaikan perkataanku tentang tidak ingin berhubungan seks dan mengejek keluhanku dengan memintaku mengunjunginya di penjara mengenakan kostum yang seksi.

Irisan diriku yang lain lagi, apabila aku berani berkata jujur, tak henti-hentinya merasa penasaran—tentang berkencan, berkencan dengan pria yang lebih tua, tidur seranjang dengan seorang pria, bahkan penasaran tentang bagaimana rasanya mengalami hubungan seksual yang tak diinginkan. Sebagian diriku merasa—tidak ingin, tetapi—butuh mengalaminya, agar aku dapat mengetahui sendiri seperti apa rasanya bagiku. Dari mana lagi aku dapat mengetahui bahwa tubuhku bisa menyemburkan pelumas sementara benakku menolak keras-keras? Dari mana lagi aku dapat mencari tahu bagaimana seseorang berusaha memulihkan diri dari pengalaman seperti itu?

Bukankah, sebagai seseorang yang ingin mengangkat kisah manusia, aku mesti mendulang pengalaman seluas mungkin? Pengalaman yang tak berani disentuh oleh orang-orang lain?

Pada masa itu, aku mengamati diriku lekat-lekat dan memeriksa tiap pikiran dan perasaan yang singgah. Aku mempertanyakan tiap raung dan tetes air mataku. Apakah aku sungguh-sungguh merasa sedih, atau hanya merasa sedih karena kupikir aku semestinya merasa sedih? Apakah terapisku akan menepikanku atau menganggapku tak layak untuk ditolong apabila aku tak cukup sedih?

Ada hari-hari aku sungguh tak tahu harus bagaimana, harus merasa seperti apa, harus berbuat apa. Semua perasaan, semua perbuatan terasa membingungkan.

Dan aku sungguh tak tahu aku ini sebenarnya seperti apa.

Aku hanya tahu aku tak ingin berpura-pura jadi macam-macam karakter film lagi.

Di penghujung tahun, sebelum pekan ujian akhir, D. menerorku untuk terakhir kalinya dengan mengirim sekeranjang bunga mawar disertai sebuah boneka beruang ke asramaku.

Kali ini bunga dan beruang itu langsung kubuang.***

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s