Pada 30 April 2016 Eliza mengampu lokakarya menulis tentang pengalaman traumatis di toko buku Post yang menawan, Pasar Santa, Jakarta.

Berikut naskah yang dipersiapkannya untuk kesempatan itu:

Saya mulai menanyakan berbagai aspek menulis tentang pengalaman traumatis ketika menyusun novel saya From Now On Everything Will Be Different—di dalamnya antara lain saya menulis pengalaman seorang perempuan yang terjebak di tengah kerusuhan anti-etnis Cina pada Mei 1998. Masih banyak cerita seputar peristiwa itu yang ingin saya angkat, oleh karena itu saya terus bertanya bagaimana sebaiknya menulis tentang pengalaman traumatis. Selain itu, saya juga memiliki beberapa pengalaman pribadi yang ingin saya tuliskan demi mendorong percakapan tentang hal-hal yang masih sering dianggap tabu atau memalukan untuk dibicarakan.

Saya yakin semua orang punya suara. Sumbangan penulis bisa jadi membantu orang lain menemukan atau mengasah suara mereka, membuka jalan untuk percakapan tentang hal-hal yang terabaikan, dan membantu menyorot orang-orang yang mau bicara.

Ketika seseorang mengalami trauma, pengalaman itu seringkali membingungkan dan ruwet. Banyak sekali contoh kejahatan seksual yang dilakukan oleh orang yang korban sayangi—maka ketika kekerasan yang tak diinginkan itu terjadi, korban mungkin merasa bingung, banyak yang tak yakin apakah yang mereka alami itu dapat disebut pemerkosaan, banyak juga yang menyalahkan diri sendiri, menyangkal apa yang terjadi, seringkali tak memahami sepenuhnya apa dampak kejadian itu terhadap dirinya sampai bertahun-tahun setelahnya.

Ada kepentingan untuk menyederhanakan apa yang terjadi, misalnya berita di koran—seringkali hanya fakta dasar yang dilaporkan: apa yang terjadi, siapa tersangka, dsb. Memang hanya ada ruang untuk itu. Masalahnya, artikel berita seringkali mengandung bias, terutama yang menyalahkan korban atau memaklumi perbuatan pelaku. Misalnya, “Istri Tolak Berhubungan, A. Memerkosa Anak Sendiri” atau “Karena Nonton Video Porno, Mahasiswa Memerkosa Pacar”. Atau berita diakhiri dengan “Polisi mengimbau agar orangtua melarang anak perempuannya keluar rumah”. Penulis berita seolah mengatakan perbuatan jahat itu bukan tanggung jawab pelaku, melainkan istrinya. Seolah istrinya itu bukan manusia yang memiliki hak untuk menolak hubungan seksual yang tidak diinginkannya, sekalipun dengan suami sendiri. Seolah dengan menonton video kita kehilangan segala pikiran dan kendali diri. Contoh petikan berita di atas juga tidak netral dan membatasi ruang gerak perempuan. Tugas aparat keamanan adalah menjamin keamanan, dengan misalnya menangkap dan mengadili secara konsisten para pelaku kejahatan seksual, bukan mengekang warga. Ada juga pemahaman keliru bahwa kejahatan seksual hanya terjadi di luar rumah, padahal banyak kasus yang terjadi di ranah keluarga.

Mari kita berhenti sebentar dan merenung. Kita masing-masing datang ingin mengisahkan sebuah pengalaman traumatis kan? Tuliskan asumsi kita terhadap apa yang terjadi dan mengapa, kemudian pertanyakan lagi asumsi itu. Mari renungkan lagi makna kata-kata yang sering digunakan seperti “korban”, “kekerasan”, “trauma”. Tuliskan satu paragraf asumsi kamu, kemudian satu paragraf baru setelah kamu merenungkan kembali asumsi kamu itu.

13124473_10100246291581533_6236654618934586204_n.jpg

Seringkali kasus KDRT atau kejahatan seksual tidak dianggap sebagai masalah serius. Kadang aktivis membuat pernyataan seperti “seumur hidup korban tidak akan pulih seratus persen…” Tujuannya mungkin ingin membuat orang mengerti bahwa ini adalah bukan masalah sepele. Namun, saya tidak suka pernyataan generalisasi seperti itu. Banyak juga korban atau penyintas yang sekarang merasa pulih, utuh, dan bahagia.

Ada juga kepentingan untuk menampilkan sisi inspirasional para penyintas demi memotivasi para korban untuk memulihkan hidupnya. Tujuan yang mulia, tapi mari tidak kita lupakan perjalanan panjang dan perjuangan jatuh-bangun menuju ke tempat yang utuh dan bahagia itu. Mari tidak kita tolak kisah-kisah mereka yang belum atau bahkan tak pernah mencapai tempat itu. Barangkali tokoh yang kisahnya ingin kita angkat mengalami depresi dan mencandu narkoba? Banyak contohnya. Seseorang bisa jadi bunuh diri karena traumanya, tapi apa itu berarti ia kalah? Apa hanya ada satu cara untuk memaknai keputusannya itu?

Apabila kita cuma menyajikan versi yang hitam-putih, yang menggambarkan korban sebagai seorang yang suci dan pelaku sebagai seorang yang keiblis-iblisan, atau korban sebagai sosok yang melulu terpuruk dan lemah, atau sebaliknya, yang senantiasa tangguh dan inspirasional, kita bisa jadi justru membuat banyak korban lain merasa tak terwakilkan, lantas merasa semakin kesepian. Atau bisa jadi mereka merasa kisah mereka tak layak diceritakan, atau bisa jadi mereka beranggapan mereka tak layak merasa kedaulatan diri mereka dilanggar karena pengalaman mereka tidak sehitam-putih atau tidak separah yang digambarkan di media. Pengalaman kita bisa jadi berbeda dengan yang banyak tampil, tapi ia tetap valid.

13092199_10100246292754183_1997098666842012958_n

Pengalaman traumatis seringkali berantakan, membingungkan, melumpuhkan pikiran dan emosi. Saya percaya kita harus menghormati kebingungan itu. Kekacauan perasaan itu. Bahkan rasa takut kita sendiri.

Kita sering dibilang untuk mengalahkan rasa takut. Tentu tidak bisa begitu saja. Harus ada upaya untuk menaklukkan ketakutan. Kita tak perlu pura-pura berani, kita bisa mulai menulis dari tempat yang penuh rasa takut itu. Kita dapat mengakui bahwa kita merasa takut, tapi kita tetap punya pilihan untuk tidak tunduk pada rasa takut itu.

Seringkali kita takut akan sesuatu yang tidak kita ketahui. Maka kita bisa coba menaklukkan rasa takut itu dengan mencoba memahaminya. Menggambarkannya. Kita bisa mulai menulis tentang apa yang membuat kita takut. Bisa jadi kiat yang praktis seperti: menulis dengan orang yang kita percaya di ruang sebelah, atau mengingatkan diri bahwa yang mesti merasa malu adalah pelaku, bukan korban. Kalau kamu takut orangtuamu akan menuduhmu membongkar aib, tulis itu, bayangkan percakapanmu dengan orangtua.

Atau kalau pada akhirnya kamu sampai pada kesimpulan bahwa kamu belum siap, tidak apa-apa. Tidak usah malu atau putus asa, segala sesuatu ada waktunya.

13083146_10100246294380923_8795132858971269962_n

Apakah harus menjadi penyintas untuk menulis tentang trauma? Saya percaya tidak, selama kita memiliki respek terhadap pengalaman mereka.

Ketika melakukan wawancara, hargai keberanian narasumber yang telah bersedia menceritakan pengalamannya. Jangan membuat komentar atau air muka yang kesannya menghakimi. Kita ingin bersikap simpatik tapi profesional.

Perkenalkan diri, beritahu niatmu ingin menulis tentang kisahnya. Jangan sampai nanti ada teman sekadar curhat, lalu kamu masukkan ceritanya ke dalam tulisan, kemudian temanmu merasa kamu merampas ceritanya atau mengkhianati kepercayaannya. Kalau kita memanfaatkan ceritanya untuk kepentingan kita sendiri, korban bisa jadi merasa semakin dilecehkan.

Mari kita berlatih lagi. Berpasang-pasangan ya. Kita bayangkan sebuah skenario pengalaman traumatis. Kita bergantian ambil peran sebagai pewawancara dan yang diwawancara. Nanti kita berbagi apa yang dilakukan dengan baik dan kurang baik oleh pewawancara.

Ketika kita mencoba menerbitkan tulisan kita, bisa jadi kita akan berhadapan dengan editor yang kurang mengerti. Misalnya, mereka mengubah tulisanmu jadi cerita sensasi, jadi cerita guyon, atau bahkan langsung saja menyensor tulisanmu. Oleh karena itu kita harus mampu: 1) memilih publikasi yang cocok untuk karya kita, 2) membela karya kita kepada editor, 3) memprotes dan mengakali sensor.

Ketika duduk menulis, percayalah bahwa kita memiliki kebebasan—kebebasan untuk mengekspresikan diri, untuk memilih kiat-kiat terbaik untuk menyampaikan cerita kita. Pintar-pintarlah mencari kiat-kiat itu. Dan teruslah berusaha menaklukkan rasa takut.

Apakah kebebasan kita lantas dihormati orang lain—itu masalahnya. Tunjukkan kepada editor yang kurang mengerti atau kepada aparat yang ingin membungkam kita bahwa kisah kita penting untuk diterbitkan, penting untuk ditampilkan tanpa dijadikan sensasi atau peringatan moral belaka; bahwa hal-hal seperti kekerasan rumah tangga, pemerkosaan, overdosis, bunuh diri terjadi di dunia nyata, dan apabila hal-hal itu disensor atau ditutup-tutupi tidak akan kunjung ada perbaikan.

Saya berterima kasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan diri datang hari ini, berarti teman-teman peduli pada topik ini. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah berani berbagi pengalaman. Terima kasih atas tanggapan, masukan, dan kritik dari teman-teman. Semoga sesi hari ini berguna bagi proses menulis teman-teman.

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s