Pada 18 Mei 2016 Makassar International Writers Festival memberi kesempatan pada saya untuk meluncurkan novel From Now On Everything Will Be Different, pertama kali di festival sastra di Indonesia. Berikut ringkasan percakapan saya dan moderator Bobby dari Kedai Buku Jenny (dalam dua bahasa sebab hadirin terdiri dari warga Indonesia dan asing):

Kenapa memilih latar ’98 untuk novel ini?

Mulanya saya menulis sebuah cerpen tentang kisah persahabatan Rizky dan Julita, kedua protagonis. Mereka berusaha menggapai cita-cita: Rizky ingin menjadi aktor, tapi orangtuanya melarang dan mendorongnya menjadi dokter; Julita ingin menjadi fotografer dan ia berontak dari keluarganya, hidup sendiri dan mengejar cita-citanya. Kedua tokoh berusaha mewujudkan impian tapi gagal dan gagal lagi, mereka berusaha bersatu menjadi sepasang kekasih, tapi gagal dan gagal lagi. Sejak awal, bagi saya kisah Rizky dan Julita adalah tentang ketetapan tekad menghadapi kegagalan beruntun.

Kemudian terpikir oleh saya, bukankah itu juga kisah Indonesia, terutama setelah Reformasi? Pada 1998 seiring tumbangnya Orde Baru, tumbuhlah harapan dahsyat untuk perbaikan—pemberantasan korupsi, kebebasan berekspresi—tetapi kemudian banyak kekecewaan yang terjadi, seperti kerusuhan antaretnis, Soeharto tidak diadili…  Saya ingin tahu apakah setelah mengalami rentetan kekecewaan, Rizky dan Julita, juga orang-orang lain, masih punya iman untuk bangkit dan mencoba lagi. Apakah mereka masih merasa bebas dan berdaya untuk mengubah pola peristiwa yang tampak seolah takdir?

Saya pun menyadari kisah ini bisa dijadikan novel yang menyulam pergulatan pribadi Rizky dan Julita dengan latar perjuangan bangsa mewujudkan demokrasi.

miwf IMG_4820.jpg

Setelah Soeharto turun, Rizky dan Julita tidak secara langsung terlibat dalam proses politik. Cerita beralih menjadi pencarian jati diri kedua tokoh sebagai bagian generasi Reformasi. Padahal pada saat demonstrasi mahasiwa, mereka terlibat lebih secara langsung—Rizky mengobati mahasiswa yang terluka dan Julita mengambil foto-foto mereka. Apa Eliza punya pengalaman langsung seputar kejadian ’98 yang kemudian menginspirasi tokoh Rizky dan Julita?

Pertama, tidak semua orang kan harus terjun ke ranah politik? Perjuangan dapat dilakukan di semua bidang, kita tidak mesti menjadi politikus atau aktivis. Memangnya hanya mereka yang dapat memperjuangkan cita-cita Reformasi? Memangnya kita-kita yang ada di sini dengan menulis, membaca, dan berdiskusi tidak turut merawat cita-cita Reformasi?

Bagi Rizky dan Julita, secara pribadi, Reformasi berarti harapan bahwa masyarakat akan menerima perbedaan—baik narasi sejarah yang berbeda dari yang diajarkan oleh Orde Baru, maupun pilihan jalan hidup yang berbeda dari pakem. Pada 2001 Julita mendokumentasikan tali kasih teman-temannya yang pada saat itu terlibat “hubungan terlarang”—yaitu hubungan antaragama, antarsuku, dan homoseksual. Dengan begitu Julita percaya ia pun memperjuangkan kebebasan yang menjadi salah satu tujuan Reformasi, yaitu kebebasan bagi tiap-tiap kita untuk mencintai siapa yang kita pilih, sesuai hati nurani. Selain itu, tak boleh dilupakan, kebebasan berkesenian. Julita mengira setelah Reformasi karya dan diskusi yang mengangkat tema pernikahan antaragama, kejahatan seksual, atau kehidupan kaum minoritas dapat lebih leluasa diadakan, tapi ternyata dia terbentur juga. Sedihnya, bukan karena sensor dari pemerintah atau aparat, melainkan oleh kemunafikan masyarakat.

Novel saya menyinggung bocornya video intim sepasang kekasih—video itu dikonsumsi secara luas sebagai pornografi oleh masyarakat, dan pada saat yang sama masyarakat sedemikian kejamnya menghujat dan menghukum sepasang kekasih tadi, padahal mereka adalah korban kejahatan pelanggaran privasi. Kemudian, ketakutan yang ditimbulkan oleh kemunafikan masyarakat itu menjalar dan turut menjegal peluncuran pameran foto karya Julita tentang kisah cinta pasangan antaragama dan homoseksual.

Pencarian kebebasan sangat berkaitan dengan pencarian identitas. Ketika kita menolak jalan yang disuguhkan kepada kita, kita jadi bertanya: lantas jalan apa yang akan kita pilih? Sekarang kita bebas berbuat apa saja, tapi apa yang ingin kita lakukan? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita mesti mencari tahu sebenarnya kita ini siapa dan mau apa. Alur novel ini mengikuti pemikiran itu—pertama Rizky dan Julita berontak dari jalan pakem, kemudian mereka mencari jati diri, membangun jalan sendiri.

Kemudian, soal pengalaman saya seputar ’98. Sebenarnya saya tidak memiliki pengalaman pribadi, sebab pada saat itu saya masih duduk di bangku SMP-SMA. Menjelang turunnya Soeharto, saya bersekolah di SMU Taruna Nusantara, dan siswa tidak diperbolehkan keluar kampus atau menonton berita. Tetapi ketika saya kembali ke Jakarta, saya melihat puing-puing pusat perbelanjaan yang hangus, tulisan “Pribumi Muslim” di rumah-rumah. Lingkungan sekitar rumah saya sungguh berubah. Perasaan aman itu koyak. Jadi meskipun tidak mengalami sendiri, saya merasa ini tetap kisah saya, kisah generasi saya. Keluarga saya mengalami, teman-teman saya mengalami, dan mereka bercerita kepada saya.

Hadirin ingin bertanya terkait novel ini?

miwf IMG_4788.jpg

Did you receive any negative reactions? You’re talking about homosexuality in your novel, how is the reaction in Indonesia?

The Indonesian version was published by a small publishing company. I had a bad experience with censorship when I published a young-adult novel about ten years ago. The publishing company gave me a contract, which I signed. And then they showed me the proofs with many passages slashed, they insisted that the cuts didn’t change the essence of the book. I was a only a teenager then, I thought I had no choice but to go along with it. I felt exploited, and humiliated because I couldn’t defend myself. I became very depressed, for months I wanted to kill myself.

Therefore, my first concern for From Now On was to make sure that the book wouldn’t get censored again. I wasn’t sure that I’d have much leverage with the big publishing houses, so I went with a small one. Because of that, the book didn’t enjoy good distribution, I think it only sold a few hundred copies. I haven’t had a vocal reaction against the Indonesian version.

The English version came out last September by an Australian publisher. When we wanted to launch the book at Ubud Writers & Readers Festival, the police instructed the festival organizers to cancel controversial sessions and book launches. My book launch was one of them. Most of the books which couldn’t be launched was about the 1965/66 anti-communist mass murders, perpetrated by the military and paramilitary groups against suspected communists, but many of the victims didn’t understand what communism was, many were also intellectuals who might have resisted the founding of the New Order, the authoritarian rezime that came after the killings.

When I heard about it, I was worried and outraged, I wondered if the festival was going to be only about butterflies and unicorns. Then I learned that the police didn’t want any events that might cause controversy and that contained elements of race, ethnicity, religion, and other Indonesian identity groups. There’s this SARA doctrine—it’s also a New Order legacy—one shouldn’t bring up things that offend sentiments of race, ethnicity, religion. Popularly and in practice we understand it as you can’t talk about those things at all. And it doesn’t work for Indonesia. We’re a very diverse country. How can we live together if we don’t talk about these things? We need to talk about how we relate to each other, instead of just celebrating diversity with fashion shows or culinary shows. We need to talk about what’s how these groups get along in everyday life.

Since Ubud festival, the situation regarding free expression has been really worrying. Cultural events are forcefully disbanded by the police and violent groups claiming to represent Muslims. They don’t want us to talk about 1965, 1998, or the LGBTQ cause. Before, they were targetting discussions and film screenings, now they’re targeting books directly. We need to stay brave and keep reading and keep having discussions like this.

IMG_4797

Ini kesempatan yang istimewa bagi kita di Makassar, karena akhirnya novel ini sukses diluncurkan di festival sastra di Indonesia. Novel ini penting karena ia menyuguhkan sebuah intipan ke dalam apa yang terjadi pada ’98. Belakangan ini, 18 tahun setelah Soeharto jatuh, kita masih menemukan pelarangan buku, pelarangan nonton film… Beruntung, kita di Makassar masih lebih leluasa dibanding di kota-kota lain, hari ini kita dapat mendiskusikan novel ini. Masih ada teman-teman yang ingin bertanya atau membagi kisah seputar ’98?

Mengapa menulis dalam bahasa Inggris? Untuk menghindari sensor?

Seperti saya ceritakan di atas, versi bahasa Indonesia diterbitkan sebelum versi bahasa Inggris. Nukilan yang tadi saya bacakan, saya kirim ke semua media di Indonesia, tapi tak ada yang mau menerbitkan. Untungnya, ada jurnal di Iowa yang menerbitkan dalam dua bahasa—jadi pembaca Indonesia juga dapat membaca nukilan novel itu di situsweb majalah mereka.

Ini pertanyaan yang menarik—apakah kita lebih aman ketika menulis dalam bahasa Inggris? Apa yang kita peroleh dan apa yang kita korbankan ketika kita menulis dalam bahasa Inggris, apalagi kalau itu bahasa kedua kita?

Saya pikir tulisan saya semuanya dalam dua bahasa—harus ada dalam dua bahasa. Saya berdialog dengan orang Indonesia—untuk apa hanya berdialog dengan orang di luar Indonesia? Namun, saya juga ingin orang di luar Indonesia dapat membaca karya saya, sebab saya menulis tidak hanya soal masalah-masalah Indonesia, tapi juga tema-teman universal—seperti yang tadi saya katakan di atas, ketetapan tekad di hadapan kegagalan beruntun, di mana kebebasan manusia ketika dihadapkan pada pola sejarah dan pola perilaku yang selalu berulang?

What do your parents think about your work? Do they like your book? Parents in my culture have a lot to say about what their children do.

They didn’t support me writing especially about controversial topics. When I was growing up, my father actively discouraged me from writing. He would prevent me from entering writing competitions, but if I won he would ask for a share of the prize money. He thought it was better for me to have a stable, secure job.

My mother writes poetry as a hobby, and has been supportive especially lately. Nowadays when I organized an event, she would help me. She and I have different values, she is more conversative as most Indonesians are. At some point in the course of writing this novel, I decided to be honest with her and to no longer hide myself from her, the way my character Rizky hides from his parents.

Banyak orangtua Indonesia sangat terlibat dalam kehidupan anak-anaknya, meskipun setelah mereka dewasa. Ibu Rizky mencengkeram anaknya, mulai soal harus ambil jurusan apa ketika kuliah, harus masuk profesi apa ketika dewasa. Rizky orang yang sangat privat, ia ingin tetap disayang oleh orangtuanya—maka ia memilih untuk menampilkan wajah ganda. Di hadapan orangtua ia mengutarakan pendapat palsu sesuai pandangan orangtua, hanya kepada sahabatnya Julita ia mengatakan pendapatnya yang sebenarnya.

Itu pilihan dia—dan ini berkaitan dengan gendernya. Ia laki-laki, lebih dihormati di masyarakat kita, lebih mungkin dipilih jadi pemimpin. Maka, kurang insentif bagi Rizky untuk berkata blak-blakan bahwa ia tidur dengan pacarnya, ia pikir enggak apa-apa kawin antaragama… Jadi ia memilih untuk hidup tersembunyi, dan dalam persembunyiannya itu ia bebas untuk melakukan apa saja yang ia inginkan.

Karena tidak menarik perhatian, ia mendapatkan privasi yang tak terusik. Di sana ia bebas berkencan dengan siapa saja yang ia pilih, bisa mabuk-mabukan, bisa coba ini-itu, tapi di lingkungan keluarga dan pekerjaan ia tetap dihormati. Nah, ini juga sebuah bentuk kebebasan, setidaknya bagi Rizky.

Tetapi harga yang ia bayar dengan hidup bersembunyi begitu adalah ia jadi tidak dekat dengan orangtuanya—ia sadar ketika orangtuanya bilang mereka sayang kepadanya, itu hanya karena mereka tidak tahu siapa Rizky sebenarnya. Ia akan selamanya khawatir jangan-jangan orangtuanya tidak benar-benar menyayanginya. Itu harga pilihan dia.

Julita memutuskan untuk hidup terbuka—ia meninggalkan rumah orangtua, tinggal sendiri, bekerja mandiri, dan tidak menyembunyikan kepada siapa pun perilaku seksualnya yang bebas. Dia merasa hanya dengan menolak peraturan yang membatasi perempuan ia dapat memperoleh kebebasan lebih luas. Apa jalannya mulus? Tidak juga. Banyak yang menganggapnya cewek enggak benar, ia tidak punya banyak teman. Tiap jalan punya keuntungan dan konsekuensi masing-masing.

IMG_4780

Saya ingin tanya soal pemilihan profesi Rizky, kenapa memilih kedokteran?

Karena itu profesi yang banyak sekali dipilih anak-anak dan orangtua, sering dianggap paling prestise atau paling baik. Nah, keluarga Rizky juga begitu. Keluarga ayahnya dokter turun-temurun, ibunya pun ingin jadi dokter, tapi gagal karena tidak ada dana, ayah sang ibu meninggal ketika ia lima belas tahun dan ia mesti bekerja untuk membantu membiayai abang-abangnya kuliah. Keluarga sang ibu menganggap lebih penting menyekolahkan anak laki-laki, sebab anak perempuan bisa dinafkahi setelah menikah. Pemikiran seperti itu masih umum, walaupun tidak adil. Saya kenal banyak laki-laki yang justru malas bekerja dan dinafkahi perempuan.

Saya berusaha sekali agar profesi tokoh sesuai dengan karakter dan tema yang saya angkat. Saya kira Rizky ingin menjadi aktor karena ia senantiasa menampilkan wajah yang berbeda, tergantung siapa yang ia hadapi. Ada bagian dirinya yang begitu tertarik pada seni akting. Julita, sesuai tema novel, ingin memunculkan identitas orang. Ia memfoto individu di tengah keramaian demonstrasi, supaya cerita orang itu bisa tampak—siapa dia, apa yang ia ingin capai dengan berdemonstrasi—supaya ia tidak tenggelam sebagai salah satu figuran dalam drama kolosal sejarah.

Itu juga alasan kenapa Julita sengaja berkencan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda—ia ingin cari tahu bagaimana rasanya hidup sebagai diri mereka, seperti apa dunia mereka. Ia punya rasa penasaran, dan juga keinginan menaklukkan—pada suatu saat ia bilang ia merasa “menaklukkan” dunia dengan memfoto berbagai tempat dan mengoleksi kekasih dari berbagai belahan dunia.

miwf IMG_4991.jpg
Pada malam penutupan MIWF 2016, kita angkat buku, bukan angkat kepalan tangan, sebagai protes terhadap pengekangan kebebasan membaca.

Zaman sekarang kita banyak disuguhi novel chick-lit dan metro-pop. Bagi saya novel ini kelas berat, novel dewasa. Mbak berani sekali menulis novel seperti ini. Apa Mbak pernah mengalami trauma pribadi? Apa Mbak juga ingin menarget pembaca yang lebih muda?

Saya menulis tentang pergulatan sehari-hari kedua tokoh ini, bukan melulu tentang politik. Misalnya, novel ini banyak membahas soal pacaran, soal masyarakat yang senang mengelompokkan antara “orang baik-baik” dan “orang rusak”.

Tema-tema novel ini serius, tapi saya sengaja menuliskannya supaya tidak berat dibaca. Untuk dialognya saya bahkan pakai ragam cakap di sana-sini—saya pakai kata-kata seperti “enggak” dan “kayaknya”. Ini untuk menciptakan suasana yang juga mendukung realisme buku.

Novel ini berkisah tentang hidup tokoh sejak SMA hingga 30 tahun, jadi masih anak muda juga. Awalnya mereka memberontak supaya bisa bebas, kemudian mereka mencari jati diri untuk mengetahui mau digunakan untuk apa kebebasan itu. Mereka bereksperimen dengan seks, alkohol, dan narkoba—mereka merasa bebas, tapi kemudian menemukan bahwa mereka terperangkap dalam penjara baru: penjara label “anak nakal”. Kalau mereka tak mau ikut pesta atau Rizky menolak tidur dengan perempuan, teman-temannya bilang “Riz, kepala lu kepentok ya?” “Lu insyaf ya?” Seakan-akan Rizky akan selalu memilih sesuai label yang telanjur melekat. Kalau kita tak bisa memilih sesuai hati nurani, itu berarti kita tidak benar-benar bebas, kan?

Nah, novel saya ini terutama adalah tentang pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saya ulangi, bagi saya novel saya ini terutama adalah tentang tema-tema yang universal seperti pencarian kebebasan, bukan tentang politik Indonesia, walaupun Indonesia dan ’98 adalah dua bagian penting novel itu.

Saya mendukung generasi muda yang tak banyak mengalami Orde Baru membaca seperti apa kehidupan pada masa itu. Saya sedih ketika mendengar anak-anak muda berkata: buat apa kita mikirin masa lalu? Atau, Reformasi tidak pernah terjadi. Percaya deh, kehidupan dulu dan sekarang sungguh jauh berbeda. Yang paling saya rasakan adalah: sekarang saya tidak merasa begitu tak berdaya.

Dulu ketika saya masih tumbuh dewasa, saya merasa apa pun yang saya lakukan tidak akan ada gunanya, tidak bisa memengaruhi jalannya masyarakat. Jadi cita-cita saya waktu kecil adalah hengkang saja dari Indonesia. Hidup di Indonesia terasa seperti kamar yang sumpek berdinding tinggi tanpa pintu.

Sekarang saya tidak merasa begitu. Sekarang kita punya ruang untuk bergerak, bersuara, protes, melawan jika kita tidak setuju dengan kebijakan atau perkembangan situasi. Dulu mau berdiskusi seperti ini tidak bisa. Mau menerbitkan buku seperti novel saya ini tidak bisa. Mau bikin festival seperti MIWF ini tidak bisa. Kita bakal dicekal, dilabel komunis, dipenjara. Memang sekarang masih banyak korupsi, baru-baru ini banyak pembredelan buku dan acara diskusi. Tetapi sekarang kita bisa melawan, dan banyak orang kini punya keberanian untuk melawan. Dulu hampir tidak ada. Namun, kita mesti ingat, situasi tidak akan selamanya begini tanpa kita bekerja untuk mempertahankannya. Kebebasan kita sekarang diperoleh berkat perjuangan kakak-kakak, kini kita mesti ikut melestarikannya. Enggak mesti jadi aktivis atau terjun ke politik. Bisa dengan menulis novel yang setia pada hati nuranimu.

Tema mengupayakan keberanian untuk hidup sesuai pilihanmu, untuk merasa dirimu punya harga diri meskipun berbeda dengan mayoritas, dirimu layak dicintai biarpun orang-orang bilang dirimu rusak—apakah itu hanya masalah pribadi? Tidak, itu pun politis. Karena merasa memiliki harga diri memberdayakan kita. Dengan kepercayaan dan harga diri, kita jadi punya keberanian untuk mengangkat suara, untuk menceritakan kisah kita, untuk tidak lagi menerima diskriminasi, untuk tidak lagi menerima penindasan.

Latar ’98 adalah gerbang yang kemudian mengantarkan tokoh-tokoh novel saya untuk merenungkan kebebasan—dari rezim, dari kemunafikan masyarakat, dari keraguan akan diri sendiri, dari perasaan seolah diri ini tak berharga.

miwf IMG_4929.jpg

Saya pikir aneh masih ada orang mau menulis tentang ’98, hampir 20 tahun setelahnya. Tapi saya setuju: banyak anak muda menganggap membahas politik itu ribet atau berat, padahal politik tidak hanya soal hingar-bingar pemimpin, kehidupan sehari-hari juga bisa jadi aktivitas politik. Oleh karena itu, menurut saya kontribusi novel Eliza cukup besar bagi kita anak-anak muda. Ada pertanyaan lagi?

For us millennial readers, what do you want us to take away from the novel?

It’s really up to you. I hope that you approach the novel with a critical mind, I hope it makes you think about the nature of freedom. I hope it starts a conversation—about finding your identity, about being honest and confident about who you are, even if you’re different. If you read the novel looking for role models, you’ll probably be disappointed, because my characters aren’t role models, but I hope they can be your friends. I hope you can see some parts of yourself in them.

Julita used to cut herself, I used to cut myself. I couldn’t stand up for myself when people attacked me, and I hated myself, so I cut myself. In my novel there’s a theme of working your way to self-acceptance, Rizky and Julita figured out their own paths, and I hope you will too.

Kalau boleh saya menambahkan: sebaiknya kita tidak terperangkap oleh zaman kita. Latar cerita tahun ’98 hanya konteks, semua novel yang bagus pada akhirnya adalah tentang kemanusiaan yang universal. Novel ini sangat anak muda, tentang mencari jati diri, misalnya. Sering saya merasa hidup kita telanjur dikotak-kotakkan, tokoh-tokoh novel ini berontak melawan pengotakan itu. Jangan takut novel terlalu politis. Pandangan novel politik itu berat, tidak cocok untuk anak muda, perlahan-lahan kita runtuhkan.

miwf writers on stage
Para penulis pada malam pembukaan MIWF 2016

Terima kasih atas komentar anda yang bagus sekali. Pertanyaan terakhir?

Bagaimana kita dapat menghadapi sensor?

Setelah mengetahui bahwa novel saya tak boleh diluncurkan di festival Ubud, saya mencetak kaus dengan beberapa nukilan novel dan saya pakai kaus-kaus itu tiap hari ke festival. Pun saya sebarkan kartu dengan tulisan kenapa saya memakai kaus itu, supaya jelas tindakan saya itu bukan hanya untuk promosi, melainkan untuk protes.

Sebagai seorang penulis, jalan yang saya pilih adalah protes kreatif. Saya percaya protes kreatif itu penting—demo dan petisi juga penting, tergantung tujuan protes kita—tetapi kita dapat menarik minat masyarakat dan media yang lebih luas ketika kita melancarkan protes secara kreatif. Semakin luas protes kita diberitakan, semakin banyak kita menarik perhatian orang, semakin kita dapat mendesak pemerintah untuk memprioritaskan isu tersebut.

Selain itu, penting juga untuk bekerja dengan komunitas dan warga—masyarakat kita masih sangat ketakutan dengan kata 1965, komunis, dan LGBT. Tanpa berpikir, orang-orang langsung menolak, langsung mendukung pemberangusan buku dan diskusi tentang hal-hal itu. Oleh karena itu, kita bekerja secara pelan-pelan tapi konsisten dan berkelanjutan; kita turun ke masyarakat, ke sekolah, ke guru-guru, ke kampus-kampus; kita sampaikan bahwa sejarah versi Orde Baru hanya sebuah versi, kita belum mendengar versi korban, misalnya. Semakin kita mengadakan kegiatan seperti itu, diskusi seperti ini, festival seperti ini, semakin banyak orang akan paham alasan kita melawan—bukan karena kita orang-orang “tidak benar” atau “pemberontak”, tapi karena ada kebutaan sejarah dan kita ingin dapat melihat sejarah dengan lebih utuh, karena diskriminasi adalah tidak adil dan semua orang berhak bebas dari penindasan.

Terima kasih.

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s