(Artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di majalah Magdalane dengan judul “The Black and White Perception of Sexual Violence in Indonesia“, 16 September 2015.)

(Read the English version here.)

*

KETIKA kuliah di Amerika, kudapati orang-orang di sana punya batasan jelas untuk mendefinisikan perkosaan: jika korban berkata “tidak” dan pelaku terus memaksakan perbuatan seksual terhadapnya. Jika kalian tidak ingin sesuatu terjadi, bilang saja “tidak”, maka masalahnya akan jadi jelas.

Konsep itu dipaku ke otakku setiap penataran tentang pelecahan seksual. Sebelum kembali ke Indonesia kupikir aku siap. Kupikir aku sanggup mengarungi samudra kedewasaan dengan mengandalkan kata “TIDAK” untuk menolak kapal-kapal yang tak diinginkan. Tapi aku salah.

Setelah kembali ke Jakarta, aku tinggal di rumah kos yang ‘bebas’. Di ruang tamu yang berisi sofa-sofa yang sudah kempes sering bertandang pemuda-pemuda gondrong dengan kaus band metal. Suatu sore salah satu dari mereka menyapaku.

“Anak baru ya?”

“Ya.”

“Pulang kantor?”

“He-eh.”

“Lu suka musik metal enggak?”

“Suka.”

“Boleh minta nomor HP? Nanti kalau band kita latihan, lu nonton ya.” Tiba-tiba ia menyapukan punggung tangannya ke pipiku.

Tindakannya itu membuatku tak ingin berurusan lagi dengannya. Tapi aku tak yakin bagaimana menolaknya, maka kuberitahu nomor telepon, lalu cepat-cepat kumenyelinap ke dalam kamar dan mengunci pintu. Meskipun lapar, aku baru keluar kamar lagi keesokan paginya, setelah sebelumnya mengintip ke ruang tamu dan memastikan pemuda itu dan teman-temannya tak ada lagi di sana.

Kejadian yang sama terulang di kantor. Bos kami senang melontarkan rayuan pada karyawati cantik—kupikir tak berbahaya, hanya omongan belaka. Tapi aku mulai merasa risih sepulang dari rapat di luar kantor—ia menyetir mobil pribadi dan aku di sebelahnya—ia tanya apakah aku ingin jalan-jalan dengannya.

Dalam hati aku menyumpah, “Apa anda tidak malu berperilaku seperti ini pada karyawati sendiri? Bagaimana saya bisa respek terhadap anda sebagai atasan jika anda merendahkan diri dengan menawarkan diri kepada saya seperti ini?”

Tapi yang mampu kuucapkan hanya, “Enggak ah. Ini kan jam kerja. Kita mesti kembali ke kantor.”

Jawabnya, “Soal kantor enggak usah khawatir.”

Beberapa hari kemudian, ia mengunjungi ruang kerjaku membawa sebotol parfum. “Buat kamu.” Seperti pemuda gondrong tadi, ia menyapukan punggung tangannya ke pipiku. Lalu pergi.

Aku hanya bisa menggeram marah dan membanting barang-barang ke dinding.
Rekan-rekan di sekat-sekat sebelah menyengir dan menggeleng-geleng. “Lihat tuh, bos bikin ulah lagi.”

Kali lain, ketika mengopi bersama teman-teman, salah satu dari mereka, sebut saja Nandra, bercerita, “Gue ketemu A. di klab kemarin. Dia terus-menerus belikan gue minum, gue bilang gue enggak mau, tapi dia tantang gue di depan teman-teman: ‘Nandra mengaku party girl, tapi enggak berani minum…’ Jadinya jam dua gue udah mabuk banget. A. bilang dia bakal antar gue pulang. Karena gue mabuk, gue rebah di kursi belakang mobilnya. Setelah beberapa menit, gue sadar kita ternyata enggak bergerak. A. pindah dari kursi depan ke kursi belakang, terus akhirnya… dapat juga deh dia tidur sama gue…”

“Gue enggak suka dia bikin lu mabuk, terus pura-pura mau antar lu pulang, dengan niat ingin tidur sama lu,” kataku. Aku ingin tanya Nandra apakah A. telah melakukan kekerasan terhadapnya, tapi instingku berkata pertanyaan itu terlalu berat untuk Nandra hadapi saat itu.

Jovyna bilang, “A. cuma begitu sama Nandra. Kalau bukan cewek seperti Nandra, dia enggak bakal begitu.”

Kuminta Jovyna mengulangi perkataannya, dan ia bilang, “Kalau bukan cewek seperti Nandra…”

“Memangnya Nandra cewek seperti apa?” tanyaku.

“Cewek yang bisa diajak tidur bareng. Cewek seperti lu.”

Dari pengalaman-pengalaman seperti di atas aku merasa kata “tidak” yang kuanggap jimat penyelamatku belum tentu manjur di lingkunganku. Aku pun sadar, meskipun dapat bersikap agresif terhadap mereka yang kuinginkan, aku belum menemukan keagresifan yang sama untuk membela diri dari mereka yang tidak kuinginkan. Andai sesuatu terjadi padaku dan aku menceritakan kepada teman-teman, aku yakin mereka takkan percaya, sebab mereka pasti menganggap aku cukup mampu membela diri. Atau mungkin sebab mereka menganggap aku “cewek seperti Nandra.”

Aku merasa imajinasi dan pemahaman orang tentang bagaimana kejahatan seksual bisa terjadi, siapa yang bisa menjadi pelaku atau korban, dan bagaimana pelaku atau korban bertingkah, masih kaku dan terbatas. Bayangan kita umumnya masih hitam-putih: tidak mungkin korban terus ber-SMS dengan pelaku, pasti ia lari dan berteriak atau menangis dan mandi—banyak orang bahkan tak bisa membayangkan bagaimana pemaksaan bisa terjadi tidak secara fisik tapi juga dengan ancaman (akan memecat, akan membunuh keluarga, akan memfitnah) atau dengan mematahkan spirit seseorang, bagaimana seringkali korban butuh waktu lama untuk menyadari dan mengakui pada diri sendiri, apalagi menceritakan pada orang lain, dan bagaimana kadang-kadang ketika terancam kita justru membeku dan tidak melawan, seperti ketika kita melihat truk melesat ke arah kita di tengah jalan dan kita bergeming, bukan justru melompat ke pinggir.

Menyelusuri ranah seksual di Jakarta nyaris seperti menjadi penjelajah waktu—kita bertemu orang-orang dari berbagai zaman: pascamodern, pertengahan, pencerahan, jahiliyah, dsb. Ada yang mementingkan kesucian, malu, aib, kehormatan keluarga, pergaulan yang luas, ego, reputasi, atau mengenal seseorang secara seluruhnya, benak, jiwa, dan raga. Di luar dunia-dunia pribadi itu adalah kenyataan dunia yang kita bagi bersama. Dan di antara mereka yang menyebut diri petualang di samudra kedewasaan, aku mengecam mereka yang bertingkah seolah tak memiliki pengetahuan akan reproduksi, penyakit, maupun konteks dunia yang kita bagi bersama ini, dan aku menghargai mereka yang memperhatikan hal-hal itu.

Ada teman laki-laki yang berprinsip takkan tidur dengan perawan. Selain ia merasa itu mengurangi dosa, ia juga tak ingin jadi penyebab terpuruknya seseorang yang belum memilih dengan sadar untuk hidup dengan norma-norma sendiri. Ada juga teman perempuan yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya yang berasal dari keluarga yang sangat tradisional. Upaya-upaya yang sepintas konyol, tapi layak mendapat respek karena mereka memperhitungkan konteks budaya dan sosial lingkungan kita yang seringkali jahat terhadap orang-orang yang hidup di luar norma.

Karena itulah, di awal petualanganku, karena miskinnya pengalaman, aku sampai merumuskan aturan untuk memastikan perbuatanku tak merugikan orang lain maupun diri sendiri. Selain mengamalkan serentetan pengetahuan tentang reproduksi dan penyakit, aku mencoba untuk melihat siapa orang di depanku, bagaimana konsekuensi hubungan kita terhadapnya, apakah ia mampu menghadapinya, apakah aku menghormatinya dan sebaliknya, apakah ia hanya memanfaatkanku dan sebaliknya, apakah kita berdua sama-sama paham apa yang diinginkan satu sama lain. Kukira pertimbangan semacam inilah, lebih daripada cinta, yang memberi martabat pada sebuah hubungan yang tampak vulgar.

Tentunya, pada kenyataannya, hidup itu berantakan, dan kita tidak selalu berhasil melihat dengan jelas situasi yang kita hadapi. Tapi kita mesti selalu mencoba.

Sebab meskipun seandainya kita telah menolak norma-norma yang kita anggap dangkal atau munafik, tetap ada suatu keutuhan yang tidak bisa kita langgar: orang lain.

Dan sebaliknya, untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri, barangkali kita bisa mulai dengan mengungkapkan diri—apa yang kita inginkan dan tidak, apa yang sanggup kita hadapi dan tidak, apa pemahaman kita akan suatu situasi. Bagiku keberanian membela diri dan mengungkapkan diri bukanlah sesuatu yang alami. Ia tumbuh sangat perlahan seiring dengan meluasnya bacaan, bertambahnya usia, dan menemukan seseorang yang mencintaiku.

Simpatiku kepada semua yang, sepertiku, masih terus menyirami dan memupuk tunas keberanian itu.

*

(Read the English version here.)

Satu tanggapan untuk “Menyelusuri Ranah Seksual di Jakarta

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s