(Pertama terbit di Sastra Digital, edisi September 2013).

1

Membaca

Ayahku yang Jawa memberiku nama ‘Handayani’—ia tak suka keluar rumah dan hanya doyan makanan Indonesia; ia percaya menjadi kepala keluarga adalah hak dan kewajibannya sebagai laki-laki; orangtuanya tak mampu membiayainya kuliah teknik mesin, maka ia bekerja di bank dan mengalihkan impiannya pada keluarga; kesukaannya mobil dan film laga berledak-ledakan. Ibuku yang Madura memberiku nama ‘Eliza’—ia suka jalan-jalan dan mencoba makanan dari seluruh dunia; ia setia pada ajaran orangtuanya: patuh kepada suami, pasrah kepada Tuhan; ia suka sepakbola liga Italia, Meryl Streep, dan Sydney Sheldon; ia bekerja, masak, dan diam-diam menulis puisi. Takdir mendiktekan nama tengahku: aku lahir di tengah gegap-gempita takbir Idul Fitri. Namun, ibuku—tak sudi putri pertamanya berbagi nama dengan bayi-bayi perempuan lain yang lahir hari itu—menukar huruf F pada Fitri dengan V. ‘Vitri’: takdir terpuntir kebebasan.

Dalam keluarga kami komunikasi bersifat praktis dan hitam-putih. Tiap kali kukatakan tak ingin menikah atau punya anak, orangtuaku bilang, “Mana ada orang tak menikah? Itu sudah kodrat”; tiap kali kutanya mengapa kita begitu repot mengkhawatirkan apa yang dipikirkan sanak saudara, ayahku bilang, “Kalau kamu enggak mau peduli pendapat orang lain, sana tinggal di hutan!” Kecuali untuk sekolah dan acara-acara keluarga, aku jarang diizinkan keluar rumah.

Di sekolah kami melafalkan Pancasila penuh kata-kata idealis yang artinya tak pernah dijelaskan oleh orangtua maupun guru. Kami semua tahu surat-surat Kartini dikumpulkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, tapi kami tak pernah melihat satu pun petikan suratnya. Kami hanya membaca buku-buku pelajaran yang telah disetujui pemerintah.

Sebagai ganti menulis esai, kami menyusun kliping koran. Namun, media dulu dimonitor oleh Departemen Penerangan yang pemimpinnya dijuluki semua orang Hari-hari Omong Kosong. Seperti halnya ada jurang antara pelajaran sekolah dan kehidupan sehari-hari, kurasakan ada jurang antara yang diberitakan dan yang sebenarnya terjadi. Aku hanya ingat satu kali kami pernah ditugaskan membuat laporan tentang peristiwa politik, ibuku menyensor laporanku itu sebelum membolehkanku mengumpulkannya. Kami caci-maki pemerintah, tapi mencontoh mereka jua.

Jadi apa yang kubaca ketika kecil? Buku pertama yang kuingat adalah buku pilih-sendiri-petualanganmu, adaptasi film Disney Alice in Wonderland, diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai Elisa di Negeri Ajaib. Begitu kusobek bungkus kado yang menyembunyikannya, aku terpana melihat namaku (nyaris) dicetak di sampul buku. Seketika aku merasa disulap dari anak ingusan empat tahun jadi tokoh utama dalam kisah petualangan seru. Sungguh menakjubkan—dengan penerjemahan Alice bisa jadi Elisa, dan dengan membaca Eliza bisa jadi Alice.

Aku juga ingat buku tentang peri-peri yang tinggal di bunga bakung, mainan yang hidup ketika pemiliknya tertidur, dan serial adaptasi Heidi karya Johanna Spyri. Aku sering minta makan keju panggang seperti Heidi dalam buku itu, tapi sayangnya dulu kami hanya kenal keju Kraft yang tak bisa dipanggang.

Apa aku baca buku yang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia? Aku ingat banyak membaca majalah Ayahbunda bersama ibuku, terutama komik Si Wortel dan Si Tomat; kami juga berlangganan Bobo—kuingat cerpen-cerpen dengan pesan moral yang gamblang. Aku pun mengoleksi kaset Sanggar Cerita—sandiwara rekaman tentang raksasa, pendekar, dan kerajaan ajaib. Ibuku juga sering bercerita tentang putri dan pangeran yang berubah jadi bunga atau sungai, dan dunia pun tampak berlapis-lapis—kubayangkan tiap pohon atau semut yang kujumpai punya asal-usul mistis. Ibuku bilang kisah-kisahnya dongeng dari berbagai daerah, tapi setelah aku dewasa ia mengaku ia mengarangnya sendiri.

Ketika aku duduk di bangku SMP, guru bahasa Indonesia memberi tugas membaca dua novel klasik Indonesia dan menulis laporan (yang berhasil kutemukan adalah Azab dan Sengsara, Anak Perawan di Sarang Penyamun dan Harimau! Harimau!). Aku ingat merasa senang mengerjakan tugas itu—itu kali satu-satunya guru menugaskan kelasku membaca buku. Namun, kemudian guru itu bilang ia nyaris dipecat karena menugaskan kami membaca ‘buku dewasa’.

Waktu aku kelas 2 SMU, guru bahasa Indonesia menugaskan kakak-kakak kelas mementaskan berbagai lakon. Sayangnya, tahun berikutnya guru tersebut minta maaf pada angkatanku karena nilai Ebtanas angkatan sebelumnya jeblok. Ia berjanji pada angkatanku hanya akan melatih kami menjawab soal-soal Ebtanas.

Selain yang kusebut di atas, buku-buku yang kubaca hampir seluruhnya terjemahan. Ketika SD aku membaca Lima Sekawan dan Trio Detektif, tapi aku senantiasa mencangkokkan latar-latar dan karakter-karakterku sendiri untuk menggantikan latar-latar dan karakter-karakter ciptaan pengarang: lima sekawan menjadi aku dan empat sepupuku, trio detektif menjadi aku dan dua sahabatku sekelas. Aku membaca dengan cara ini dari sekitar usia 8 hingga 12. Sepertinya pada masa itu buku bagiku adalah portal untuk kabur dari hidupku yang membosankan dan masuki dunia seru di mana aku bebas berkelana, mengungguli orang-orang dewasa, dan memilih petualanganku sendiri, menerjemahkan Eliza jadi Alyssa, alter egoku yang berambut pirang dan bermata biru, cerdas, dan tangguh.

Sudahkah semuda itu aku mengingkari diri, mengangankan diri tidak hanya sebagai protagonis cerita, sebagaimana lumrah dilakukan anak-anak, tapi sebagai ras lain? Apakah karena aku membenci orang-orang di sekitarku yang begitu takut pada segala sesuatu yang tidak biasa? Ataukah karena kisah-kisah yang kubaca bertempat di luar negeri sehingga aku pun harus menjelma jadi orang luar negeri?

Meskipun karakter dan latar buku-buku itu kuganti, kisahnya tak kulokalkan. Apakah kupikir petualangan-petualangan itu terlalu luar biasa untuk bisa terjadi di keseharianku yang penuh rutin dan larangan? Bisa dimengerti jika kukira detektif anak hanya bisa ada di negeri-negeri rekaan, tapi mengapa negeri-negeri itu lebih mirip tempat-tempat di luar negeri yang kulihat di film atau serial televisi asing?

Keluarga kami beberapa kali berkeliling Jawa ketika liburan sekolah, walau hanya mengunjungi obyek-obyek wisata populer. Pemandanganku ke Indonesia selebihnya hanya sebatas baju, rumah, dan tari tradisional yang terdaftar pada buku-buku pelajaran. Bagiku orang-orang yang tinggal di daerah-daerah itu, meskipun kuyakini saudara-saudaraku, justru lebih asing daripada orang-orang asing yang kehidupannya dapat kuintip melalui buku-buku terjemahan dan film-film. Anak-anak dalam cerita-cerita Indonesia yang kubaca di majalah atau buku pelajaran tak pernah pergi bertualang mengalahkan penjahat kaliber dunia atau menciptakan markas rahasia berteknologi tinggi di bawah tanah—maka aku lebih membangun kedekatan dengan tokoh-tokoh dalam novel-novel terjemahan. Atau jangan-jangan kupikir orang Indonesia tak mungkin jadi tokoh utama cerita? Seperti ayahku sering bilang, “Kamu enggak usah macam-macam! Kita ini orang kecil, cuma pasir di pantai.”

Sementara di rumah tak ada diskusi atau curahan perasaan, di film dan televisi tokoh-tokoh fiksi menumpahkan isi hati mereka—yang awalnya kupahami melalui teks. Aku terutama gemar film yang karakter utamanya eksentrik atau diremehkan, tapi kemudian berhasil membuktikan diri. Aku sering merasa kesepian, tapi Matilda mengajariku menjadi teman bagi diri sendiri; “Tomorrow is another day” terngiang di telingaku tiap kali aku hendak menyerah; biografi Jackson Five membuatku yakin kita bisa jadi berlian meskipun terlahir pasir di pantai. Lebih penting lagi, mereka menunjukkan kepadaku ada tempat-tempat dan orang-orang yang dapat memahamiku, dan suatu hari nanti akan kutemukan tempat-tempat itu, orang-orang itu.

Meskipun demikian, aku berhasil tumbuh terisolasi dalam sebuah provinsialisme kota besar—lingkungan budayaku terbatas pada budaya populer dan arus utama. Keluarga kami tak pernah pergi ke teater, konser, pentas tari, apalagi acara sastra. Kami menonton televisi dan film Hollywood.

Sekarang, ketika sudah tahu harus cari ke mana, sesekali aku menjumpai buku atau film Indonesia yang membuatku berpikir, ‘Seandainya kutemukan ini sejak dulu, mungkin aku takkan merasa begitu kesepian, begitu senantiasa salah tempat.’ Aku tinggal di Indonesia hingga usia delapan belas, tapi aku sudah memunggungi Indonesia jauh sebelum itu. Berdasarkan yang kujumpai pada sanak-saudaraku dan sekolah-sekolahku, aku memutuskan bahwa semua orang Indonesia sama saja. Aku berhenti membaca berita (“semua politik itu palsu dan media penuh kebohongan”), membaca majalah (“semua cerpen membosankan dan penuh moral munafik”), dan menonton film serta televisi Indonesia (“lagipula kualitasnya memang rendah”). Kubarikade diri sendiri dalam kepedihan.

Hanya ditemani Alyssa yang, meskipun bermata biru dan berambut pirang, tak pernah berkulit putih. Ia orang Indonesia dengan citra pinjaman. Ia seperti Elisa yang berbicara bahasa Indonesia pada Kelinci Putih, tapi tak jadi orang Indonesia. Sekalipun aku tak merasa petualangan besar bisa terjadi di sekitarku, aku yakin individu di sekitarku mampu menggapai cita-cita agung, karena itu latar kisah-kisahku tetap negeri asing, tapi karakter-karakternya jadi aku dan orang-orang di sekitarku. Namun, Eliza menjadi Alyssa dan Anggi menjadi Angie. Supaya bisa bertualang kami harus diterjemahkan. Seseorang yang berpura-pura jadi orang lain agar bisa bertualang, bukankah itu Don Quixote? Siapa pun ia sebelumnya, ia menjadi Don Quixote, dan sebagai Don Quixote ia menjadi diri sendiri, dan ia bebas.

Alyssa—ambisiku, kebingunganku, kebebasanku.

2

Menulis

Sekitar usia 12 aku mulai meninggalkan cara membaca kanak-kanakku. Pada masa itu aku pertama melihat buku sebagai cerita, baru kemudian sebagai karya yang terdiri dari kalimat, metafora, dan citra. Setelah Blyton dan Hitchcock, aku lanjut ke Goosebumps. Meskipun aku kehilangan variasi karena setia pada sebuah serial, jadi lebih mudah bagiku untuk menangkap gaya penulis dan melihat cara mereka membangun misteri atau menyimpulkan cerita. Setelah selusin buku, serial itu terasa menjemukan, dan aku minta izin ibuku membaca novel-novel Sydney Sheldon dan Jacqueline Susann miliknya. Namun, ia melarangku membacanya sebelum berusia 17. Ketika ia berada di kantor, kuakali kunci lemari tempatnya menyimpan novel-novel itu.

Saat itu aku sudah mafhum buku-buku itu hasil terjemahan. Sebelum mulai membaca aku suka menebak judul aslinya. Kulihat kadang-kadang terjemahannya menyesar: Valley of the Dolls menjadi Lembah Kehancuran; kurasakan apa yang dikorbankan dan dicapai ketika Master of the Game menjadi Ratu Berlian.

Ketika berusia 8 tahun aku mulai menuliskan mimpi-mimpi tidurku di buku tulis hijau dengan kata Creations di sampulnya. Aku menulis dalam bahasa Indonesia, tapi karakter-karakterku punya nama ‘internasional’ seperti Eliza. Latarnya pun tempat-tempat rekaan yang mirip tempat-tempat yang digambarkan di buku-buku terjemahan dan film-film asing yang kutonton. Aku sudah paham “creations” berarti karya atau wujud kreativitas karena ketika sejak berusia 5 atau 6 tahun aku mulai mengajari diriku sendiri bahasa Inggris. Aku begitu gandrung pada lagu “Especially for You” sampai kutranskripsikan liriknya secara fonetik dan kuhapalkan; kemudian aku belajar mengeja dengan memperhatikan teks pada cakram laser karaoke milik orangtuaku. Tak lama kemudian, kupenuhi satu buku lagi dengan lirik lagu berbahasa Inggris, tetapi kurombak sesuai konteks dan tujuanku.

Ketika SMP aku mulai menulis cerita-cerita yang lebih panjang—ada cerpen tentang anak-anak yang dikirim perang karena pemerintah kehabisan serdadu dewasa, novelet tentang selebritis remaja yang hidup mandiri di Hollywood, tiga novel tentang remaja yang jadi agen rahasia, drama ruang sidang, cerita misteri-komedi seputar hantu yang memakai sandal jepit, dan banyak lagi. Aku tak pernah mengedit tulisan-tulisan ini, dan kadang aku mencomot adegan atau paragraf dari film atau buku, sebab aku memang tak berniat menunjukkan tulisan-tulisan itu ke seorang lain pun. Pertanyaanku sekarang: mengapa tidak?

Aku cuma ingin bersenang-senang, dan aku memang bersenang-senang menulis semua itu. Kala itu aku belum berniat belajar menulis, apalagi menjadi penulis—dan aku dapat merasakan orang-orang di sekitarku takkan mendukungku menulis. Aku butuh membaringkan adegan-adegan yang senantiasa memetir di kepala. Aku butuh untuk jatuh lebih dalam lagi ke negeri ajaib di mana alter egoku yang baru, Lizzy—bersorot mata garang dan berambut hitam kelam serta memakai jaket kulit dan kalung rantai—bisa bertualang dengan cowok-cowok keren yang kutaksir dengan bertepuk sebelah tangan.

Meskipun demikian, aku cukup serius untuk menulis dalam bermacam genre, menciptakan kalimat pertama yang merenggut perhatian, membuat prosaku lebih dinamis dengan memvariasikan kalimat-kalimat panjang dan pendek, aktif dan pasif, dan menggunakan di atas kertas teknik yang diambil dari film, seperti crosscutting (berpindah-pindah antara dua adegan yang terjadi di saat yang sama tetapi di tempat yang berbeda) dan lap dissolve (tutup bab dengan gambar yang khusus, misalnya, api unggun, lalu buka bab berikutnya dengan gambar yang mirip, misalnya perapian).

Suatu malam ibuku menemukan cerpenku di meja belajar—ia membacanya dan menertawakannya. Ia bilang nama-nama karakternya begitu aneh, dan katanya jika aku ingin cerpenku dimuat di majalah aku harus menulis tentang orang-orang Indonesia dengan nama-nama Indonesia dan masalah-masalah Indonesia sehari-hari. Sekali kukirim cerpenku ke redaksi mading sekolah, tentang cinta monyet dan berbentuk seperti cerpen-cerpen majalah remaja. Anehnya, meskipun aku menulis tentang hal-hal yang luar biasa, hanya cerpen bertema biasa itulah yang berani kukirim. Begitu tipisnya kepercayaan diriku akan keunikanku sendiri…

Setelah terbit, aku menikmati teman-teman sekolah tertawa dan menangis membaca karyaku. Kemudian seorang memberitahuku nama SMP di ceritaku sama dengan nama SMP tempat sekolah anak-anak yang tidak diterima di sekolah-sekolah lain. Itu bukan niatku. Aku malu sampai ke sumsum. Bukannya mencoba meningkatkan kualitas cerpen berikutnya dengan berupaya mengenal lingkunganku, aku menjatuhkan diri semakin dalam ke negeri-negeri mustahil.

Memang aku tak tertarik menulis cerpen remaja tentang karakter-karakter bernama generik (Rita, Ani, Nita), tapi kuduga aku sengaja menggunakan nama-nama asing agar terbebas dari nama-nama dengan siratan budaya Indonesia, seperti Ajeng, Butet, atau Handayani. Tak masalah bagiku Estelle terdengar Prancis atau McKnight terdengar Skotlandia; aku bisa menggunakan nama-nama itu tanpa menjadikan tokoh-tokoh itu Prancis atau Skotlandia (tapi Dmitry selalu Uni Soviet). Apakah ini gara-gara doktrin SARA yang melarang mengangkat isu suku, agama, ras, dan sebagainya? (Sekali lagi di Indonesia potensi konflik dihindari dengan pembungkaman.) Apa ini pengaruh budaya populer yang sering menghadirkan karakter tanpa kaitan budaya agar dapat diterima oleh khalayak terbanyak? Atau gejala lemahnya akar budayaku sendiri, ketakutanku akan kenyataan sosial-budaya yang belum siap kuhadapi?

Kala itu kubangun tembok di antara hidup dan fiksi. Meskipun peristiwa hidup bisa ditransmutasikan jadi fiksi, fiksi tak boleh menyerupai hidup. Suatu hari ‘geng’ dari SMP-ku terlibat perang mulut dengan ‘geng’ dari sebuah SMU. Mereka mengancam akan membakar sekolah kami jika ketua geng SMP kami tak minta maaf. Pada hari ancaman tersebut akan diwujudkan, sekolah kami diliburkan, dan ketua geng kami akhirnya minta maaf (dan, kudengar, dipukuli).

Pertengahan 90-an banyak anak SMP dan SMU membentuk ‘geng’—satu hinaan bisa menyulut tawuran satu sekolah melawan sekolah lain. Mereka menuntut ‘solidaritas’ dari teman-teman, yang menolak dituding pengecut dan pengkhianat. Kadang, yang dihina justru bukan geng, tapi sekolah—institusi yang mereka benci—tapi tetap mereka berkelahi, saling melempar batu dari pinggir jalan raya, dan menumpahkan darah. Begitu semu namun begitu repasnya rasa kehormatan ini, begitu meratanya kemurkaan ini (bukan cuma sekolah-sekolah di daerah kumuh yang terlibat, sekolahku dulu swasta dan mahal), namun begitu sepelenya orang-orang dewasa di sekitarku mengecapnya: kenakalan remaja.

Aku ingin menceritakan kisah itu, tetapi aku merasa perlu mengubahnya menjadi kisah gaya Mission: Impossible dengan adegan halusinasi penuh zombi di akhir. Cara penceritaan yang menarik, tapi sayangnya tulisanku jadi hanya menggores permukaan kisah yang ingin kuceritakan. Kini kutanya: mengapa harus kubolong-bolongi dengan tembak-tembakan? Bukankah materinya sudah cukup untuk sebuah novel realistis?

Aku ingin berbeda. Aku ingin melanggar segala peraturan—karena orang-orang dewasa di sekitarku begitu memaksa untuk menaati peraturan, pertama dengan mengeluarkan ketua geng tadi, kemudian dengan melarangku berteman dengan anak-anak geng. Sefantastis apa pun kejadian-kejadian di sekitarku, itu tetap hidupku sehari-hari, dan aku ingin berontak melawan kenormalan, jadi gila, dan menulis sebagaimana tak seorang pun di sekitarku menulis. Dan di lingkunganku tak ada yang menulis seperti film laga.

Apa aku khawatir dengan menulis apa yang benar-benar terjadi aku akan menemukan kebenaran-kebenaran yang belum siap kuhadapi? Tapi aku berusaha kok mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi. Kujeblokkan nilai-nilaiku supaya dapat mengobrol dengan anak-anak geng saat ujian perbaikan. Kupukuli seorang cewek musuh geng supaya mereka percaya dan mau bercerita kepadaku. Setelah semua itu, mengapa tak kutuliskan kisah mereka sebagaimana adanya?

Tampaknya realisme bukan gayaku pada masa itu. Sebelumnya telah kuputuskan menuliskan sebuah kisah sebagaimana adanya bukanlah cara menulis yang baik. Aku tak ingat apakah pada waktu itu aku pernah membaca kisah realistis yang kukagumi. Aku sering bilang pada diriku sendiri: belajarlah hanya dari yang terbaik. Bagaimana aku memutuskan apa yang terbaik? Dengan melihat buku atau film apa yang paling disukai di seluruh dunia. Jadi, aku selalu menulis seperti buku-buku terlaku dan film-film terlaris. Semakin banyak aksi, semakin banyak adegan sentimental, semakin baik.

Setelah membaca tugas-tugasku, guru bahasa Indonesia yang dulu nyaris dipecat meminta tulisan-tulisanku yang lain. Aku mempertimbangkan menunjukkan tulisanku tentang anak-anak geng. Sebelumnya aku dan seorang sahabat membacanya ulang dan memutuskan kami harus menghapus atau mengubah bagian-bagian yang terlalu jelas merujuk pada anak-anak geng, guru-guru, atau peristiwa-peristiwa nyata di sekolah. Apa yang kubenci dari pemerintah, dari ibuku, ternyata kulakukan sendiri.

Dulu sepertinya aku menulis mengejar euforia, puas akan kebenaran-kebenaran yang sudah kuketahui dan tak ingin mencari lebih jauh lagi dengan menuliskannya. Menulis adalah soal mencaritahu apakah aku bisa—menggambarkan dengan kata-kata adegan seru yang kulihat di film, membuat desir daun terdengar mengancam, menjabarkan apa yang  ingin kukatakan kepada orangtua tapi selalu gagal… Mungkin aku mencoba mengatakan sesuatu tanpa harus benar-benar mengatakannya.

3

Membuat Kesalahan

Pada usia tiga belas, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Aku tak dapat lagi menahankan pertengkaran orangtua, antara lain. Kupertimbangkan kabur dan tinggal di jalanan, tapi aku tak ingin putus sekolah. Aku pun masih membayangkan sebentuk masa depan yang tak melibatkan pelacuran. Maka aku mencari-cari sekolah yang jauh dari rumah, berasrama, dan berbeasiswa penuh.

Setelah lulus tes-tes yang sulit, termasuk pemeriksaan keperawanan, aku diterima di sebuah sekolah semi-militer berasrama di Magelang, Jawa Tengah. Di sana guru-guru mengawasi setiap tindakan siswa, mulai dari percakapan di ruang makan hingga seberapa rapi kami membereskan tempat tidur. Satu kerutan di sprei dapat membuahkan sepuluh push-up atau sit-up untuk pemiliknya. Hobiku menulis pun tak bisa lama kusembunyikan. Aku dihukum menulis 100 kali ‘Saya takkan menulis cerpen lagi saat pelajaran Fisika’; seorang teman sekamar mencuri buku tulisku dari bawah kasur dan setelahnya semua memanggilku Lizzie, seperti tokoh utama dalam cerita-ceritaku; Wakil Kepala Sekolah meminta melihat buku-buku yang telah banyak kutulis. Aku panik, tapi juga merasa diakui.

Di antara remaja-remaja yang ingin jadi jenderal, dokter, dan insinyur, aku diolok-olok karena ingin jadi sutradara (kukira itu profesi yang membolehkanku berkarya kreatif sekaligus menghasilkan cukup uang untuk beroleh kebebasan). Aku sulit menyesuaikan diri dengan peraturan sekolah dan  pergaulan (perempuan tak boleh keluar asrama setelah makan malam, harus senantiasa berperilaku dan bertutur kata halus), sehingga aku dicap aneh dan tak terkendali, juga sering dikerjai. Jadi, ketika Pak Wakepsek menanyakan apa benar aku sudah menulis novel dalam bahasa Indonesia dan buku puisi dalam bahasa Inggris—meskipun sadar novel-novel itu takkan masuk akal bagi seorang pun kecuali aku dan puisi-puisi itu hanyalah lirik lagu yang kuutak-atik—kujawab ya.

Pak Wakepsek menyuruhku menulis dua novel lagi dalam satu bulan, satu dalam bahasa Indonesia dan satu dalam bahasa Inggris. Ia memberiku izin tak masuk kelas selama sebulan dan akses ke ruang komputer pada malam hari. Proyek ini kedengaran gila, tapi aku tak kuasa menolak iming-iming bolos sekolah sebulan untuk menulis. Aku pun bangga jadi satu-satunya perempuan yang diperbolehkan menggunakan ruang komputer pada malam hari—aku mengetik di samping rekan-rekan cowok yang memelototi situs-situs porno.

Setelah kedua buku itu rampung—yang berbahasa Indonesia terinspirasi dari The X Files, dan yang berbahasa Inggris tentang sekelompok mahasiswa Indonesia di luar negeri yang terbelit dengan mafia—Pak Wakepsek mencetaknya dan menghadiahkannya ke orang-orang yang menurutnya tertarik. Rasa percaya diriku melambung, begitu tingginya sehingga ketika kulihat pengumuman lomba menulis naskah untuk film atau televisi, yang diselenggarakan oleh Pusat Perfilman Nasional, kukirim novelet yang berbahasa Indonesia. Ternyata menang hadiah pertama untuk kategori laga, mengalahkan karya-karya penulis skenario profesional. Di acara penyerahan hadiahnya aku mengenakan gaun hitam dan berlagak memenangkan Oscar.

Setahun kemudian sekelompok penulis mengunjungi sekolah kami. Khawatir karena semenjak Orde Baru siswa-siswa sekolah tak lagi diwajibkan membaca buku dan belajar menulis, penulis-penulis itu mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk mempromosikan sastra. Sisa cetakan bukuku pun dipajang di Wisma Tamu. Kemudian, pemimpin kelompok penulis itu, seorang penyair terkenal, memanggilku.

Ketika aku menemuinya di Wisma Tamu, si penyair bertanya apa benar aku menulis novel dan puisi. Sekali lagi kujawab ya.

Si penyair, yang juga redaktur majalah sastra, menerbitkan noveletku yang terinspirasi The X Files secara bersambung dalam 9 edisi. Ia bilang tak ada yang menulis fiksi ilmiah di Indonesia sebelumnya; ia bilang akhirnya ia menemukan contoh “sastra pintar”. Ia ingin menerbitkan profilku bersama nukilan pertama novelet tadi.

Ia tanya penulis mana yang jadi inspirasiku—aku mempertimbangkan menyebut buku-buku yang kubaca ketika kecil, tapi aku merasa sebaiknya menyebut penulis-penulis yang lebih serius dan yang dari Indonesia. Chairil Anwar aku memang suka, jadi ia kusebut. Lalu Rendra sering dibicarakan orang, maka ia kusebut juga, meskipun saat itu aku belum pernah membacanya.

Tak ketahuan, tulisanku diterbitkan secara bersambung. Aku lulus SMU dengan bangga dan kusebut kemenangan dan penerbitan karyaku pada surat lamaran beasiswa. Aku pun mendapat jalan untuk belajar film dengan gratis di Amerika. Dari ‘cewek aneh itu’ aku jadi ‘gadis yang punya segalanya’. Saat itu kukira segala yang pernah kuimpikan akan segera terwujud.

*

Itulah awal petualangan Eliza di negeri ajaibnya yang baru dan berbahasa Inggris. Segera aku memperhatikan beberapa perbedaan: jurusan film dianggap salah satu jurusan paling sulit (di Indonesia jurusan itu dianggap untuk mereka yang tak diterima masuk jurusan IPA), semua orang terkesan mendengar aku sudah menerbitkan karya, banyak juga yang mengkritik buku-buku dan film-film populer yang dulu kukira terbaik. Yang paling kusuka: orang-orang sering bilang, “Hanya karena biasanya begini, bukan berarti ini tepat untukmu” atau “Kamu harus cari sendiri apa yang cocok buatmu.” Aku pun bereksperimen.

Jelas aku coba pakai baju tanpa lengan dan mengecat rambutku merah, tapi eksperimen yang paling menarik bukan soal berlaku nakal. Aku memakai rok untuk lihat apakah aku benar-benar tidak suka ataukah selama ini aku hanya ingin menentang citra feminin tradisional; kubolehkan diriku menangis di depan umum sebab kupikir aku tak perlu lagi berlagak senantiasa tangguh hanya untuk membuktikan cewek juga bisa tangguh—toh sudah banyak perempuan tangguh di sekelilingku. Karena setiap tindakanku tidak harus melawan pakem lagi, aku bisa mulai caritahu aku ini sebenarnya seperti apa. Di sana orang memanggilku Ee-lie-za.

Aku mengirim beberapa cerpen lagi ke si penyair—satu tentang gadis kota yang belajar menghargai alam; satu lagi tentang pembalap yang menolak berhenti balapan meskipun dokter bilang jantungnya lemah. Si penyair bilang ia tak ingin cerpen tentang kehidupan sehari-hari. “Itu sudah banyak yang tulis,” katanya, ia ingin “sastra pintar” lagi.

Terbersit olehku saat itu, siapa saja bisa menulis tentang makhluk luar angkasa, tapi apa pasti bagus? Dan aku sangat tidak setuju dengan anggapan sastra hanya pintar apabila membawa-bawa data ilmiah (atau menyinggung situasi politik, sosial, dsb.). Aku tak mengirim cerpen lagi.

Beberapa bulan kemudian, si penyair minta izin mengikutkan nukilan novelku dalam antologi yang sedang dipersiapkannya—antologi itu mengumpulkan karya sastra Indonesia terbaik dari abad 17 dan akan menyandang namaku: Dari Fansuri ke Handayani.

Aku sempat ragu: karya itu ditulis dengan sangat terburu-buru, apa betul kualitasnya sebagus itu? Lagipula, si penyair bilang salah satu alasan ia mengikutkan karyaku adalah untuk membuktikan perempuan bisa menulis dengan baik tanpa harus mengangkat tema-tema tabu. Terlebih lagi, tanpa merundingkannya denganku, ia mengilustrasikan tokoh utama noveletku sebagai perempuan berjilbab, padahal aku sengaja melukiskannya tanpa identitas agama yang kentara. Akhirnya aku mengalah—toh aku cuma anak ingusan yang semestinya lebih percaya pada pendapat penyair terkenal.

Sementara itu, aku melamar jadi wartawan koran kampus dan ditugasi meliput pementasan drama. Itu kali pertama aku mendapat tugas menulis dalam bahasa Inggris di luar kelas. Setelah menonton drama itu, aku membeku di kamar. Aku sama sekali tak tahu bagaimana cara menulis ulasan drama. Seraya malam bertambah larut, kebingungan berganti panik, dan ketika matahari terbit, panik berganti putus asa. Ketika editorku menelepon, aku bilang jempolku patah ketika mencoba mengambil kamus tebal dari rak dan harus menginap di IGD. Aku tak pernah dapat tugas lagi.

Di kampusku ada tutor yang dapat membantu tugas-tugas menulis, tapi tak terlintas di benakku untuk bertanya pada mereka: “Bagaimana cara menulis ulasan drama?” Mungkin karena namaku sudah disambungkan dengan Fansuri, aku lantas malu bertanya sesuatu yang mendasar. Mungkin kupikir tak apa tak bisa menulis artikel, aku toh akan jadi novelis, novelis tak perlu menulis artikel.

Dengan sombong aku sering berkata aku membesarkan diri sendiri—aku menolak ajaran orangtua dan membuat prinsip-prinsip sendiri: belajarlah hanya dari yang terbaik; jangan mau diajari cara menulis karena nanti kau akan menulis seperti semua orang lain; biarkan orang lain punya pacar, kau akan dapat prestasi; kau hanya perlu menguasai satu hal, tapi harus luar biasa mahir dalam hal itu. Barangkali, karena prinsip-prinsip ini, kupikir lebih baik berbohong daripada menyerahkan artikel yang biasa saja. Sekarang kusadari inilah kesalahanku terbesar. Aku ingin mandiri dan sempurna secara ekstrim, dan aku pun membusuk dalam keterkucilan.

Mungkin karena prinsip-prinsip itu pula aku menganggap tak perlu mengambil kelas menulis. Tentu saja waktu itu kemampuanku menulis dalam bahasa Inggris jauh di bawah kemampuanku menulis dalam bahasa Indonesia, tapi aku juga khawatir tulisanku takkan dianggap bagus oleh dosen dan teman-teman sekelas. Lebih nyaman terus bersembunyi di balik persona seorang penulis pemenang penghargaan yang menulis dalam bahasa yang tak bisa dibaca seorang pun di sekelilingku. Setiap ada yang tanya tidakkah aku ingin karyaku diterjemahkan, aku menjawab dengan pasti: “Itu bukan ide bagus.”

Setelah antologi itu terbit, si penyair memintaku mengembangkan noveletku menjadi novel. Ada godaan untuk menerbitkan buku dan mencoba teknik-teknik baru. Kupikir aku bisa memperlakukan pengejaran teknologi luar angkasa sebagai metafor bagi pengejaran semangat hidup yang dicari-cari kedua karakterku. Karakter perempuan sangat berambisi mengejar cita-cita, tapi tak peduli akan cinta; karakter laki-laki berhasrat menemukan cinta, tapi tak tahu harus berbuat apa dengan hidupnya. Struktur sederhana dengan pembalikan peran gender seperti itu dulu memadai bagiku. Namun, ada masalah bagaimana menghadirkan petualangan berteknologi canggih ini di Indonesia. Saat itulah kugali kuburanku sendiri. Kubuka novel dengan montase kejadian dunia yang luar biasa konyol dan mustahil yang pada akhirnya memungkinkan petualangan ini terjadi di Indonesia. Bukan karena aku malas riset (aku baca lusinan buku Ufologi), tapi karena meramal kejadian politik-sosial masa depan sama sekali tak menarik bagiku. Montase itu akhirnya jadi bagian buku yang paling memalukan.

Apa pun pendapatku tentang buku itu sekarang, aku selalu mengenang dengan riang rutin yang menghasilkannya. Musim panas 2002 aku menulis dari pukul 9 malam hingga 5 pagi di ruang komputer yang kini bisa kumasuki tanpa izin siapa-siapa, tidur hingga tengah hari, kemudian bekerja di kampus hingga pukul 5 sore. Ketika mandek, aku menulis kepada ibuku dan beliau mengirimkan satu-dua paragraf. Setelah selesai, kukirim naskahnya ke si penyair, yang kemudian mengirimnya ke penerbit.

Musim panas berikutnya aku ditawari kontrak yang dengan girang kutandatangani. Aku sudah dengar betapa sulitnya mendapat kontrak buku di Amerika, maka ketika editorku mencurahkan perhatian pada bukuku, aku sangat bersyukur. Namun, kemudian mereka menunjukkanku dummy penuh huruf X besar. Penjelasan mereka: perusahaan tak mengizinkan menampilkan adegan di mana laki-laki dan perempuan bersinggungan. Aku ingin protes, tapi tak sanggup. Kukira semua editor Indonesia bertingkah begini. Kuminta ibuku untuk protes atas namaku—sebagaimana aku selalu minta ia bicara kepada ayah untukku. Ibu menelepon penerbit, tapi mereka bersikeras pemenggalan-pemenggalannya tidak mengubah esensi buku. Aku ingin membatalkan segalanya. Ibuku menekankan bahwa aku butuh ini, keuntungan diterbitkan tentu lebih besar daripada sakit tergunting sensor. “Kalau Mama mau diterbitin, tulis aja buku sendiri!” makiku.

Kasihan ibuku. Aku selalu memakinya karena tak sanggup memaki orang lain di dunia ini. Akhirnya aku menyerah.

Si penyair memuji buku itu sebagai “monumen sastra Indonesia”; sebuah majalah bilang ia bagus untuk buku remaja; pada 2004 IKAPI memberiku Anugerah Adikarya pada kategori buku remaja. Masukan yang paling menyentuh bagiku adalah dari aktivis-astronomer-filsuf Karlina Supelli: “Buku ini menunjukkan potensi penulisnya untuk dikembangkan lebih jauh lagi nanti.”

Aku sadar banyak penulis rela membunuh demi mendapatkan perhatian yang kuperoleh, tapi dalam kasusku kurasa semua itu prematur. Lagipula, tidakkah keji menyanjung-nyanjung seseorang yang baru mencoba-coba, tidakkah khawatir menjadikannya takabur dan malas? Aku juga sadar dengan menampik buku ini aku menyakiti banyak pembaca, beberapa bahkan hingga hari ini masih bilang padaku mereka suka buku itu, tapi aku tak dapat lagi memaafkan kelalaiannya. Aku masih bersimpati dengan upaya tokoh-tokohnya untuk menjamin kebebasan semua orang untuk berpikir sendiri, dan aku bangga beberapa kritik menganggap aku mampu menulis adegan-adegan yang mencengkeram, serta kalimat-kalimat yang vivid dan “sinematik”. Dalam hal itu aku merasa berhasil, tapi selebihnya aku merasa malu.

Setelah peluncuran buku, si penyair mengadakan acara bedah buku di sebuah komunitas budaya. Ketika itu kusadari kelompok si penyair (berorientasi Islam dan menempatkan moral di atas kualitas sastra) bersaing dengan kelompok komunitas budaya ini (sekuler, memisahkan moral dan sastra). “Biasanya saya tak sudi mengadakan acara di sini,” katanya kepadaku, “tapi kali ini berbeda.”

Setelah acara diskusi itu usai, aku merokok di halaman karena tak tahan terus-menerus dilukiskan sebagai penulis suci nan taat. Apalagi, gambaran itu sama sekali tak sesuai dengan citra diriku dalam hati. Kupikir rokokku akan mengatakan apa yang aku masih belum berani katakan sendiri. Namun, tak ada yang memperhatikan.

Untungnya aku tak mesti melakukan acara promosi lain, karena harus memulai semester baru di Prancis. Saat itu aku sudah depresi, aku merasa telah dipamerkan seperti di kebun binatang, digunakan untuk menjajakan nilai-nilai orang lain, dan aku tak sanggup mengatakan apa-apa. Kuhabiskan musim panas di Bordeaux menatap dari teras-teras tinggi ke arah seorang bocah jauh di bawah yang kerap melambai sambil memanggilku untuk melompat kepadanya. Yang memulihkanku adalah pertemuan kebetulan di sebuah klab malam dengan seorang cowok tinggi ganteng berambut cepak dan bermata hijau yang namanya tak pernah kukenal tapi menginfusi tubuhku dengan gairah—gairah untuk merasakan kenikmatan melalui tubuh, gairah untuk tetap tinggal di dalam tubuh, gairah untuk terus hidup.

4

Belajar Lagi

Setelah merampungkan kursus Prancis di Bordeaux, aku pindah ke Paris untuk kuliah. Aku telah bermimpi pergi ke Paris sejak kanak-kanak, namun kota itu melampaui imajinasiku. Ke mana pun kumenatap Paris mempertontonkan tradisi keseniannya yang kaya, dan aku pun terdiam penuh kerendahan hati. Untuk pertama kalinya aku tinggal sendiri di kota besar, tidak dikungkung di rumah orangtua atau dilindungi di kampus. Aku berada jauh dari si penyair dan semua orang yang tahu soal bukuku. Aku mulai membaca karya-karya penulis yang pernah tinggal di Paris—Hemingway, Beckett, Joyce, Fitzgerald, Kundera.

Waktu luang kuisi dengan mengunjungi pelbagai museum—mulai dari koleksi Mesir Kuno di Louvre hingga koleksi kontemporer di Beaubourg. Aku dapat mengunjungi museum dengan gratis sebab punya kartu mahasiswa sejarah seni. Aku mulai melihat kisah-kisah inovasi dan penciptaan ulang, aku belajar bagaimana detail bercerita, dan aku mulai bisa menilai sendiri suatu karya dan meraba-raba maknanya. Yang kupelajari menguatkan kecurigaanku: bukan tema atau relevansi ke ilmu pengetahuan atau keadaan sosial-politik yang membuat sebuah karya bagus, melainkan apa yang ditambahkannya pada kisah-kisah inovasi itu. Penemuanku membuatku girang. Aku berencana membaca buku-buku sastra dari awal juga, supaya bisa melihat kisah-kisah inovasi dalam sastra.

Setelah kembali ke universitasku di Amerika, aku mengambil kelas sejarah teater dan membaca buku-buku sejarah musik sambil mendengarkan rekaman yang menyertainya. Untuk sastra dan filsafat aku mengambil kelas Sejarah Intelektual Eropa. Di sana kami baca dari Homer, Agustinus, Goethe, Marx, hingga Freud. Kami baca dua buku seminggu dan menulis laporan rinci tentang setiap buku. Aku tak suka membaca cepat-cepat, aku tahu banyak yang luput dari perhatianku, tapi kelas itu memberiku daftar bacaan yang kubutuhkan untuk kemudian hari. Dan memaksaku untuk membentuk pendapat orisinal. Setelah itu aku menemukan The Art of the Novel karya Kundera—sungguh sebuah pencerahan bagiku. Aku tak bisa berpaling kembali. Aku hanya ingin membaca sastra dari awal, membaca novel dari Rabelais, Cervantes, dan seterusnya, sambil meraba-raba bagaimana aku sendiri sebaiknya menulis dan mungkin kelak aku akan punya pendapat sendiri tentang apa itu hakikat seni novel.

Kuputuskan menyelesaikan studi filmku, tapi tidak dulu mengejar cita-cita kanak-kanakku menjadi sutradara. Khawatir aku takkan menemukan buku-buku Kafka atau Nabokov di perpustakaan Indonesia, setelah lulus aku tinggal setahun lagi di kampus, bekerja sebagai asisten riset dan terus membaca.

Dihadapkan dengan empat abad novel, aku pun mengebut. Lagi-lagi kupaksa diriku mencapai terlalu banyak: baca dua novel per minggu, tulis ulasan, bekerja purnawaktu, tulis fiksi. Tiap akhir minggu aku merasa kalah karena begitu banyak pekerjaan yang terbengkalai. Depresi mulai mengedut-ngedut kakiku.

Obatnya ternyata sekali lagi seorang kekasih.

*

Pada semester sebelum bukuku terbit, seorang pemuda Indonesia mengikutiku pulang dari kelas dan mengetuk pintuku.

“Kata orang lu nulis buku?” tanyanya.

“Aku tulis itu.” Kutunjuk manuskripku di atas meja.

“Kalau begitu lu pasti pintar. Coba gue tanya, Tuhan itu apa?”

Sejak kecil aku diajarkan bahwa pada akhirnya Tuhan akan mengampuni segala dosa kecuali dosa mempertanyakan-Nya. Kukatakan pada diriku sendiri aku boleh mempertanyakan apa saja kecuali Tuhan, sebab dapat kutahankan sepuluh ribu kehidupan di neraka asalkan akhirnya masuk surga. Ketika memutuskan akankah mempertanyakan Tuhan, kulihat diriku di pantai kelabu di hadapan hamparan lautan hijau membeku. Untuk mempertanyakan Tuhan aku harus memasuki air, tetapi sekadar mendekati garis pantai membuatku merinding. Mempertanyakan Tuhan berarti mempertanyakan segala yang kupercaya, caraku memandang dunia, manusia, dan kehidupan. Namun, sepertinya tak ada apa-apa di belakangku kecuali kabut. Namun, aku tahu jika aku memasuki air aku bisa beku atau tenggelam. Kulalui minggu-minggu dengan gambaran ini di benak.

Pada akhirnya kuputuskan menyelusuri-Nya hanya akan membawaku kembali pada-Nya. Dengan gemetar kucelupkan kakiku.

Kami membaca Alquran, Alkitab, dan memborong buku-buku filsafat eksistensial dari perpustakaan. Kuutarakan segala ajaran yang sepertinya tak adil bagiku; kami mendiskusikan mungkinkah Tuhan bukanlah zat untuk dipuja, melainkan jawaban kita bagi hal-hal yang tak dapat kita jelaskan, perjalinan daya-daya di luar kendali kita; kami diskusikan apakah mungkin mengetahui apa itu Kematian dan apakah bunuh diri bisa diterima sebagai pilihan logis. Semester nyaris usai, jadi kami menyimpulkan tak mungkin mengetahui apakah Kematian lebih baik daripada Kehidupan, sebab kita belum pernah mengalami mati, maka pilihan logis adalah terus hidup.

Setelahnya, kubiarkan Tuhan tetap tanda tanya. Suatu malam aku pergi jauh ke luar kota untuk menemui kekasih lama sesuai perjanjian kami, tetapi hubungan kami begitu rumit hingga kurasa ia berubah pikiran dan memutuskan lebih baik tak usah bertemu lagi. Malam itu, mondar-mandir sendirian di kamar hotel, kutelepon ia lagi dan lagi dan kukirimi SMS. Tak ada jawaban. Malam sangat larut, keluargaku pasti sudah tidur, dan teman-temanku tak tahu-menahu soal hubungan kami. Biasanya dalam situasi seperti ini, aku memanggil Tuhan. Namun, malam itu aku tak dapat memanggil sebuah tanda tanya. Tak pernah sebelumnya aku merasa begitu kesepian. Aku tak yakin lagi ada yang bisa mendengarku, tapi aku tetap menjerit.

*

Menulis di sudut perpustakaan yang senyap aku sering dengar suara hangat menggoda dari rak-rak buku di belakangku: “Aku tahu apa yang buku-bukumu tak bisa ajarkan. Kau takkan mengerti satu hal pun tentang hubungan manusia dewasa jika kau tak ikut denganku.”

Aku tahu ia benar, tapi hanya setelah aku yakin bahwa aku benar-benar siap barulah aku bisa menyerah kepada Mephisto berlidah madu. Bagiku kali pertama bukan soal kenikmatan atau hubungan emosional. Seperti Don Quixote yang ingin bertualang bagai ksatria keliling dalam buku-buku yang digandrunginya, tetapi tak bisa hingga ia sendiri dinobatkan ksatria, aku pun merasa agar dapat mencari kenikmatan atau petualangan pertama-tama aku harus lulus inisiasi. Tidak masalah bagi Don Quixote siapa yang menobatkannya; tak masalah pula bagiku dengan siapa kali pertamaku. Ia kebetulan mahasiswa senior jurusan seni yang baru saja menyelesaikan tesisnya. Dua bulan lagi ia akan lulus dan pindah, jadi kupikir hubungan semalam takkan menyakitinya.

Keesokannya aku berjalan pulang menembus kabut emas pagi mencecap rasa hidup baruku. Tiap-tiap pohon, rumah, dan batu tampak baru dan misterius—seperti dulu kulihat bayang-bayang penyihir dan putri di balik setiap bunga dan pohon. Tubuhku juga seperti mendapat dimensi baru—tak lagi hanya cangkang bagi otak dan jiwaku, tak lagi hanya jangkar bagi segala mimpi dan asaku—ia kini bernyanyi dan bertanya-tanya.

Pagi itu aku berpapasan dengan orang-orang yang menuntun anjing dan menebar “Selamat pagi”, dan aku pun tak bisa mengelak membayangkan seperti apa aroma mereka dari dekat dan apa yang mereka sembunyikan di balik lapis-lapis raut wajah dan pakaian mereka. Aku yakin yang ini pasti berbeda dengan yang itu. Dan aku ingin menyibak sebanyak mungkin misteri di balik lapis-lapis tadi.

Pengalaman seksual yang luas membuka mataku akan bagaimana hasrat mewarnai laku manusia. Aku memperhatikan kekasih yang berbeda memunculkan kemungkinan diriku yang berbeda. Petualangan seksual memaksaku keluar dari zona nyamanku dan memperkenalkanku dengan orang-orang yang takkan menghampiri duniaku dengan cara lain, secara intensif dan mendalam, walau kadang hanya semalam. Itulah caraku menantang diri sendiri untuk mengalami apapun yang malam—atau kehidupan—simpan untukku.

*

Pada musim panas setelah lulus kuliah, aku menemukan cara baru menulis dan membaca. Ketika itu aku bekerja di penerbitan dan banyak membaca manuskrip serta memperhatikan mana yang diterima atau ditolak dan mengapa. Aku pun banyak bergaul dengan teman-teman yang juga menulis. Ketika kuutarakan perasaanku pada salah seorang dari mereka, ia bilang: “Tapi menilik sejarahmu di masa lalu—eh maaf, sejarah pasti sudah lalu— menilik sejarahmu, aku bukan tipemu, kan?”

Pelan-pelan aku jadi melek akan keindahan intrinsik suatu teks, yang bisa hadir dari pilihan kata yang tepat dalam konteks yang mengejutkan, dari pemenggalan paragraf yang menceritakan begitu banyak, dari detail-detail yang dipilih dengan hati-hati. Kutengok tulisan lamaku dan aku pun malu melihat seringnya aku mengulangi dialog yang intinya sama atau menjabarkan apa yang sudah bisa ditangkap dari laku tokoh atau bangun suasana. Sejak itu aku punya hobi baru: mengedit tulisan-tulisanku—menghapus bagian yang tak dibutuhkan, mengutak-atik kalimat, mencari metafor yang sempurna.

Kuperhatikan orang-orang di sekelilingku—kucari hal-hal yang mengungkap karakter mereka, bahasa tubuh yang menyibak perasaan yang mereka pendam. Kucatat alur berbagai kejadian dan kubandingkan dengan cerita orang-orang. Aku mulai berubah, dan cita-cita penulisanku juga berubah. Aku jadi kurang tertarik menulis tentang petualangan yang meledak-ledak dengan tokoh-tokoh yang psikologi dan ambisinya simpel dan jelas, dan lebih tertarik menyelusuri misteri di balik kata-kata dan perbuatan seseorang, mencipta ulang tekstur dan pahit-manis kehidupan dengan segala drama dan kesehariannya. Rasanya menantang dan mengasyikkan.

5

Mencipta Ulang

Setahun setelah lulus kuliah, aku memutuskan kembali ke Indonesia. Kukatakan kepada kekasihku aku kangen nada musikal percakapan Indonesia, lelucon dan permainan kata kreatif yang diciptakan jalanan Jakarta, dan perasaan aku mengerti lapis-lapis maksud orang ketika mereka mengatakan sesuatu. Namun, terutama aku ingin memulai hidup baru di tempat baru.

Indonesia adalah jawabanku untuk pertanyaan dari mana asalku, tetapi apa makna identitas itu aku belum paham benar. Kuraba rasa bangga—Indonesia mematri pada benak generasi mudanya betapa ia berjuang dengan bambu runcing melawan musuh bersenapan mesin dan pesawat pengebom; bersikeras ia merebut kemerdekaan sendiri dan tak sudi mengakui tanggal kemerdekaan hasil kesepakatan dengan mantan penjajah. Kuraba rasa sayang—negeri dengan limpahan kekayaan alam dan beribu potensi menyaksikan satu demi satu kekayaannya dicolong dan potensinya rontok bagai daun kering. Aku merasa bisa membagi suka dan deritanya, aku ingin mengenalnya lebih akrab.

Kubuat taruhan dengan diri sendiri: jika aku ingin tinggal di Jakarta, aku harus berhasil membangun hidup sendiri tanpa melepaskan satu pun bagian diriku—kepribadianku, nilai-nilaiku, cara hidupku. “Jakarta kota besar, sangat besar,” kukatakan pada diri sendiri seraya pesawatku lepas landas dan lagi ketika mendarat, “pasti ada orang-orang yang sepemikiran denganku, pasti ada lingkungan yang membolehkan gadis lajang tinggal sendiri, pasti ada ginekolog yang mau memeriksaku meskipun aku belum menikah.”

Orangtuaku bersikeras aku tinggal di rumah mereka, tapi aku sadar agar punya hidup sendiri aku mutlak harus punya tempat tinggal sendiri—sebagaimana halnya di negara-negara lain. Aku menyewa kamar kos yang ‘bebas’ (pagar dibuka 24 jam dan tamu boleh menginap), kuhapalkan rute-rute bus, dan belajar membuka tabungan di bank.

Kuhadiri semua acara seni dan sastra, selalu dengan sudah membaca buku-buku yang relevan agar bisa mengajukan pertanyaan dan membuat orang memperhatikanku. Kudengar beberapa orang mendiskusikan seorang filsuf di suatu meja di kafe dan aku tanya apakah boleh bergabung. Dari mana aku tiba-tiba mendapat nyali untuk melakukan semua itu, sampai mati aku takkan tahu. Aku mendapat pekerjaan sebagai editor di sebuah penerbit, aku menerbitkan sebuah cerpen tentang membakar diri di sebuah rumah supaya bisa mencipta ulang diri jadi sama sekali baru, dan dengan sopan kujaga jarak dari si penyair.

Di akhir pekan aku menjelajahi kehidupan malam bersama mantan teman-teman SMU yang tinggal di Jakarta sejak kuliah. Kali pertama kami pergi berkaraoke. Aku kembali dari toilet dan mendapati beberapa dari mereka menungguku di depan pintu bilik kami. Mereka tanya apakah aku ingin ikut mereka pesan minuman di bar. Kurasakan mereka sedang mengetesku.

“Ya, kenapa enggak?” jawabku.

“Asyik. Ada satu lagi cewek di kelompok kita.”

Dengan mengamati kelompok ini aku belajar mengenali orang-orang seperti kita. Aku pun mulai melihat segala yang ayahku katakan tentang kota ini ternyata terlalu sempit. Pelan-pelan aku menumbuhkan keberanian untuk pergi ke mana saja kapan saja. Kutemukan kantung-kantung di mana aku bisa mendiskusikan topik-topik kontroversial dan menyatakan pendapatku dengan jujur. Aku merasa bagian dari sebuah kelompok rahasia, dan aku pun semakin menghargai segelintir teman-temanku.

Namun, tetap ada memisahkanku dari kawan-kawan Indonesiaku. Bersama mereka aku selalu cewek yang harus ditemani dan dilindungi. Kumpul-kumpul dengan kawan-kawan Indonesia cenderung ramai dan kocak luar biasa, tapi monoton—kami pergi menyanyi atau makan-makan, di sana orang-orang melontarkan lelucon atau celetukan yang sering segar dan kreatif, tapi tak banyak percakapan intim. Mereka menanyakan fakta: “Sudah nikah belum?”, “Masih kerja di situ?” Atau mereka bicara soal punya anak dan beli rumah, sedangkan aku tak tertarik akan hal-hal itu.

Lalu, ketika aku didepak dari kamar kosku karena membawa cowok ke dalam kamar selama sepuluh menit pada siang hari bolong (kukira rumah kos itu bebas padahal tidak), aku protes dengan alasan privasi. Ibu kosnya bilang, “Kita ini orang Timur, kita enggak kenal privasi.” Ia benar. Indonesia tak punya kata untuk privasi, kecuali ya ‘privasi’ itu yang dicomot dari bahasa Inggris dan didefinisikan secara tak memadai di dalam kamus:

privasi n
Kebebasan; keleluasaan pribadi

Ternyata ngarai yang terletak di antara aku dan teman-teman Indonesiaku bukan hanya budaya, tapi juga bahasa. Seorang cowok tanya: “Kamu mau ngoralin aku?” Kawin paksa kata formal dan impor ‘oral’ dengan imbuhan slang Jakarta ng-in terdengar menjijikkan di telingaku. Bagi Kundera kata-kata jorok adalah akar yang mengikat kita paling erat dengan kampung halaman (tanah air pertama), sebab kata-kata jorok yang diucapkan dengan aksen asing terdengar komik. Bagiku lebih risih berkata-kata jorok dalam bahasa Indonesia, sebab dalam seks bahasa ibuku adalah Inggris.

Meskipun tinggal di Jakarta, aku bolak-balik antara dua kelompok pergaulan dan nama panggilan—Lizzie dengan kawan-kawan Indonesia, Ee-lie-za dengan kawan-kawan manca negara.

Kawan-kawan Indonesiaku memandang rendah pada bule-bule yang kami temui di klab malam murahan, dan mereka pikir kawan-kawan manca negaraku sama saja. Namun, kawan-kawanku ke mana-mana naik ojek, tidak lupa daratan seperti orang-orang ber-Jaguar. Bersama mereka aku bisa membahas segala perasaan dan pandanganku tanpa takut dianggap keblinger atau durhaka. Tiap kali kutanya apa kabar, jawaban mereka berwarna-warni: membuka pameran lukisan, menyelidiki perdagangan manusia di Papua, mendapat sertifikat untuk mengajar yoga. Mereka membuka mataku pada keasyikan mencoba berbagai hal. Tentu saja, tak ada yang sempurna. Kadang-kadang uang dan perlakuan istimewa membuat mereka lupa diri. Ya, ada orang asing yang datang ke Jakarta untuk bisnis tanpa menghargai budaya setempat; ya, ada yang datang untuk seks murah, tapi kawan-kawanku telah membuat saringan supaya hanya mereka yang kami setujui bisa masuki pergaulan kami, walau terkadang kesan pertama menyesatkan.

Aku pun tak seratus persen bagian dari mereka. Sekali-kali ada kawannya kawan yang bicara bahasa Inggris padaku seolah bicara dengan anak kecil, ada kawannya kawan yang langsung menganggapku piaraan seseorang. Kadang-kadang salahku sendiri—aku tetap saja orang yang kikuk dan pemalu. Kadang-kadang masalah uang—kawan-kawanku tak mengajakku liburan bersama karena mereka tahu aku tak sanggup bayar. Meskipun kami berpendidikan sama dan punya tanggung jawab profesional yang sebanding, gaji kami berbeda jauh. Aku kepala editor akuisisi di sebuah penerbit berukuran menengah dan digaji 4 juta rupiah sebulan, sedangkan kawanku Project Officer di sebuah LSM bergaji 30 juta sebulan.

Barangkali rumah bagiku hanyalah di mana aku punya tempat tinggal dan hidup sendiri. Rumahku pernah Connecticut, Paris, Jakarta, Oslo. Tetap saja, semakin banyak kutemukan karya seni Indonesia, semakin kukuh kuiyakan identitas Indonesiaku. Kukatakan pada partnerku: “Aku enggak mau sama orang yang enggak fasih berbahasa Indonesia.”

Lagipula, siapa berani bilang masa silamku hanya Sriwijaya dan Majapahit? Siapa berani katakan warisan sastraku hanya Balai Pustaka dan Pujangga Baru? Warisan sastraku juga tragedi Yunani, puisi Renaissance, novel zaman modern. Bukankah budaya berkembang karena pertemuan dengan budaya lain? Bukankah kita meraba dunia dengan membandingkan satu hal dengan lainnya? Aku ingin karyaku turut memajukan kisah inovasi lintas benua dan lintas zaman, aku ingin menciptakan diriku dari apa pun yang kuyakini dapat mendekatkanku ke, seperti kata Octavio Paz, “diriku yang kucari”, mendekatkanku ke sebaik-baik Eliza Vitri Handayani.

*

Ketika kuliah, karena ingin mendapat masukan dari dosen atau teman sekelas, aku mulai menerjemahkan tulisanku ke bahasa Inggris. Sejak itu aku sering menulis dalam bahasa Inggris. Setelah kembali ke Indonesia aku dihadapkan kepada pertanyaan: menulis dalam bahasa yang mana?

Segala yang kupelajari sebagai orang dewasa, termasuk cara baru membaca dan menulis, kupelajari dalam bahasa Inggris. Namun, tema dan permasalahan yang menyita perhatianku adalah tentang Indonesia. Ketika bekerja sebagai editor di Jakarta, aku menyadari rendahnya kualitas penerjemahan sastra secara umum. Untuk menulis, aku butuh menimba teladan dan inspirasi dari karya-karya sastra dari berbagai penjuru dunia, tapi karya-karya itu tak tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia yang baik.

Lalu ada masalah dialog. Aku menulis novel tentang seorang perempuan yang membekukan cita-citanya dalam sebuah kotak supaya ia bisa memungutnya lagi ketika sudah siap. Kutunjukkan kepada seorang editor. Ia bilang tulisanku terasa remeh sebab dialognya terlalu meniru percakapan sehari-hari anak muda Jakarta yang santai dan tanpa aturan. Aku sebenarnya setuju, dialogku terlihat berantakan, tapi andai karakter-karakterku bicara dalam ragam tulis, kesan realistis yang kubangun akan rusak. “Memang ini masalah sulit yang sering dihadapi penulis Jakarta,” si editor sepakat.

Hingga aku memecahkan masalah ini, aku memutuskan untuk menulis fiksi dalam bahasa Inggris. Aku ingat tak keberatan karakter-karakter di novel terjemahan bicara dalam ragam tulis, sebab aku sadar mereka sebenarnya tak berbahasa Indonesia. Kupikir jika aku menulis dalam bahasa Inggris, pembaca lantas bisa membayangkan sendiri dialog itu dalam bahasa Indonesia. Benarkah terjemahan—jarak—bisa menambah realisme?

Sekarang aku telah belajar untuk menghadirkan ritme percakapan sehari-hari dan menyiratkan suasana santai tanpa harus mentranskripsikan seratus persen ragam cakap yang amburadul. Aku memutuskan hanya menggunakan kata-kata ragam cakap yang jauh berbeda dari ragam tulisnya, misalnya ‘enggak’ untuk ‘tidak’ dan ‘kayak’ untuk ‘seperti’, dan jelas tak mengesampingkan tata bahasa.

Jika tema yang menyita perhatianku adalah tentang Indonesia, mengapa tidak menulis untuk pembaca Indonesia dalam bahasa Indonesia? Kapok karena pengalaman sensor yang pahit? Aku harus mencari cara untuk menyelusuri suatu tema sehingga potensi kontroversinya tidak menggerhanai nilai sastranya.

Tetapi apakah benar aku menulis terutama untuk pembaca Indonesia? Atau untuk siapa saja yang dapat menghargai karyaku—bukan sekadar temanya tapi penulisannya? Tidakkah kubilang penting bagiku pembaca dapat memahami karyaku tanpa harus akrab dengan Indonesia, meskipun mereka yang akrab seharusnya mendapatkan lebih?

Banyak kawan mengeluh bahasa Indonesia tata bahasanya simpel dan kosakatanya miskin. Jangan-jangan pengalaman berbahasa mereka mirip denganku—komunikasi keluarga yang dangkal, pelajaran sekolah yang cuma menghapal, dan media yang tertindas atau berkualitas rendah. Setelah banyak membaca, menulis, dan bekerja sebagai salah satu editor tesaurus bahasa Indonesia, aku berani bilang tata bahasa Indonesia tidak simpel, tapi subtil, dan masih tersimpan limpahan harta karun kata-kata yang jarang digali. Aku pun merasa diundang untuk mewujudkan beribu potensi bahasa yang masih terpendam.

Meskipun demikian, menerjemahkan karyaku sendiri ternyata alat mengedit terbaik—dengan melakukannya aku berkesempatan mempertimbangkan ulang tiap kata dan kalimatku. Dalam menulis dan dalam hidup aku butuh kedua bahasaku, yang membolehkanku tinggal dalam dua benua berbeda, secara fisik dan psikologis.

Kini aku tak menulis dengan cara yang sama lagi, aku bahkan bukan orang yang sama lagi. Dulu aku hanya tertarik untuk menulis—menulis dalam satu bentuk—dan semua yang lain hanyalah godaan. Kini kulebarkan cakrawala dan kusisihkan waktu untuk minat-minat lain. Kini aku perlu berhenti dan merenung, membandingkan tulisanku dengan tulisan orang lain, aku butuh mendekap kekasihku tercinta. Siapa bisa jamin cara baruku bisa berhasil sebagaimana cara lamaku?

Sepertinya aku masih punya iman.

Komentar | Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s